Lifestyle
Meratakan Kurva Pandemi untuk Atasi COVID-19, Apa Maksudnya?
Kampanye ‘flatten the curve’ atau meratakan kurva pandemi belakangan ramai di media sosial menyusul tingginya angka kasus COVID-19 di beberapa negara. Gerakan ini dinilai dapat menghambat penyebaran wabah secara efektif, bahkan menurunkan risiko kematian pasien yang positif terjangkit COVID-19.
Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, angka penderita COVID-19 telah meningkat berkali lipat dari sekitar 75.000 menjadi lebih dari 180.000 orang. Jika tiap individu mau mengambil bagian dalam gerakan ini, wabah COVID-19 sebenarnya sangat mungkin diatasi. Lantas, apa yang dimaksud dengan meratakan kurva pandemi?
Meratakan kurva pandemi, social distancing, dan penyebaran COVID-19
Sejak merebaknya wabah COVID-19, pemerintah di berbagai negara telah mengimbau masyarakat agar melakukan kegiatan di rumah dan tidak bepergian setidaknya selama 14 hari ke depan. Imbauan ini pun disambut dengan berbagai respons dari masyarakat.
Banyak perusahaan mengizinkan karyawannya untuk bekerja di rumah masing-masing. Sekolah meliburkan muridnya, perguruan tinggi mengadakan kelas online, dan banyak acara besar dibatalkan. Tempat ibadah, restoran, dan toko-toko pun ditutup sementara. Ini sebenarnya merupakan bentuk nyata dari social distancing.
Social distancing adalah upaya menghambat penyebaran penyakit dengan membatasi kontak terhadap orang lain, menutup fasilitas umum, dan menghindari keramaian. Para ahli epidemiologi melihat social distancing sebagai upaya untuk meratakan kurva pandemi, atau ‘flatten the curve’.
Drew Harris, peneliti dari Thomas Jefferson University of Philadelphia, membuat kurva pandemi untuk menjelaskan pentingnya social distancing dalam penanganan wabah. Pada grafiknya, Harris menggambarkan bagaimana social distancing dapat mengurangi jumlah orang yang terinfeksi dan menjaga kapasitas rumah sakit agar tetap memadai.
Mengapa kita perlu meratakan kurva pandemi?
Kurva pandemi merujuk pada perkiraan jumlah orang yang akan terinfeksi COVID-19 selama jangka waktu tertentu. Kurva ini tidak memprediksi berapa banyak orang yang akan terinfeksi, tapi digunakan untuk memperkirakan kemungkinan penyebaran virus.
Berikut kurva pandemi yang dimaksud oleh Harris.
Pada kurva tersebut, garis hijau menunjukkan kapasitas rumah sakit. Titik-titik kuning dan merah di bawah garis hijau melambangkan pasien COVID-19 yang mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, titik merah di atas garis hijau adalah pasien yang tidak tertampung oleh rumah sakit.
Bayangkan rumah sakit sebagai kereta, dan ini adalah waktu sibuk ketika penumpang sedang padat-padatnya. Kapasitas kereta amat terbatas sehingga begitu kereta penuh, para penumpang harus menunggu sangat lama. Bahkan, mungkin saja ada penumpang yang tidak bisa diangkut oleh kereta tersebut.
Rumah sakit juga menghadapi masalah yang sama. Setiap hari, rumah sakit menerima puluhan pasien dengan berbagai kondisi. Kini, rumah sakit bertambah penuh akibat membludaknya pasien COVID-19. Inilah akar masalah yang menjadi alasan mengapa kita harus meratakan kurva pandemi.
Jika banyak orang terjangkit COVID-19 secara bersamaan, rumah sakit tidak akan bisa menampung pasien. Jumlah pasien yang meninggal dunia pun akan bertambah banyak. Pasien yang tidak terdeteksi juga bisa menulari orang lain tanpa sadar.
Risiko penularan akan menurun bila orang-orang melakukan social distancing. Dengan tetap berada di rumah, Anda memperkecil kemungkinan tertular atau menulari orang lain. COVID-19 masih dapat menyebar, tapi penyebarannya tidak separah sebelumnya.
Jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 bisa jadi tetap sama, tapi para tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk merawat pasien. Mereka juga menghadapi tekanan yang lebih ringan dibandingkan ketika merawat banyak pasien sekaligus.
Titik-titik merah pada grafik yang awalnya menanjak curam akan menjadi lebih landai. Secara perlahan, sebagian besar atau seluruh titik tersebut akan berada di bawah garis hijau. Ini berarti tiap pasien COVID-19 bisa memperoleh perawatan medis yang dibutuhkan.
Apakah cara ini pernah terbukti bekerja?
Tahun 1918, terjadi pandemi flu Spanyol. Dua negara bagian AS, yakni Philadelphia dan St. Louis, mengatasinya dengan cara yang berbeda. Pemerintah Philadelphia saat itu mengabaikan peringatan wabah dan tetap mengadakan parade besar-besaran.
Hanya dalam waktu 48-72 jam, ribuan warga Philadelphia terjangkit flu Spanyol dan meninggal dunia. Pada akhirnya, sekitar 16.000 orang di wilayah tersebut meninggal dalam kurun waktu enam bulan.
Sementara itu, pemerintah St. Louis segera memberlakukan karantina. Mereka menutup sekolah-sekolah, mendorong perilaku hidup bersih, dan menerapkan social distancing. Hasilnya, hanya terdapat 2.000 kasus kematian di wilayah tersebut.
Wabah COVID-19 hingga Rabu (18/3) telah menyebabkan lebih dari 8.000 kematian di seluruh dunia, seperti dilansir dari data Worldometer. Langkah nyata yang kini dapat dilakukan adalah meratakan kurva pandemi guna menghambat penyebaran penyakit.
Lakukan social distancing dengan tetap berada di rumah dan menghindari keramaian. Selain itu, pastikan Anda juga melakukan upaya pencegahan seperti mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga kesehatan agar manfaatnya lebih optimal.
Kabartangsel.com