Nasional

Profil Nasida Ria, Grup Qasidah Legendaris yang Tampil Memukau di Jerman

Baru-baru ini, Nasida Ria grup qasidah legendaris menjadi perbincangan publik setelah tampil memuakai sebagai pembuka salah satu festival seni kontemporer dunia, Documenta Fifteen, di Jerman, pada akhir pekan lalu.

Melansir CNN, ternyata Jerman pun bukan negara asing pertama yang disambangi emak-emak kasidahan ini. Pada 2017 lalu, mereka sudah mampir ke Amerika Serikat untuk manggung.

Profil Nasida Ria

Nasida Ria adalah sebuah band kasidah modern Indonesia yang terdiri dari 9 wanita dari Semarang, Jawa Tengah. Bandnya dibentuk pada tahun 1975. Pertamanya, Nasida Ria dikelola oleh H. Mudrikah Zain, tetapi sekarang dikelola oleh Choliq Zain. Band ini merupakan salah satu kelompok kasidah modern tertua di Indonesia.

Sejarah Nasida Ria

Nasida Ria dibentuk di Semarang, Jawa Tengah pada tahun 1975 oleh HM Zain, seorang guru qira’at; Zain sebelumnya berpengalaman dengan kelompok campur Assabab. Zain mengumpulkan sembilan siswinya untuk menjadi band: Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain. Grup ini awalnya hanya menggunakan rebana sebagai alat musik. Nantinya, wali kota Semarang Iman Soeparto Tjakrajoeda, yang juga merupakan penggemar mereka, menyumbangkan suatu organ untuk membantu Nasida Ria, dan juga memperlancar pelajaran musik mereka. Mereka kemudian hari mendapatkan gitar bas, biola, dan gitar.

Advertisement

Album debut Nasida Ria, Alabaladil Makabul, dibuat tiga tahun kemudian dan dipasarkan oleh Ira Puspita Records. Lagu mereka berdasarkan dakwah dan menarik ilham dari musik Arab. Tiga album mereka berikutnya menggunakan tema yang sama dan banyak berbahas Arab. Setelah saran dari kyai Ahmad Buchori Masruri bahwa lagu mereka akan lebih efektif jika semuanya berbahasa Indonesia, gaya Nasida Ria diubah; Masruri juga menulis lagu untuk mereka dengan nama samaran Abu Ali Haidar.

Gaya Nasida Ria yang baru ternyata popular, dengan beberapa lagu mereka seperti “Pengantin Baru”, “Tahun 2000”, “Jilbab Putih”, “Anakku”, dan “Kota Santri”, banyak diputar di radio, baik di pedesaan maupun kota. Mereka juga muncul di telivisi nasional dan melakukan tur di seluruh Indonesia.

Pada tahun Nasida Ria mengadakan konser di Malaysia untuk merayakan Tahun Baru Islam pada tanggal 1 Muharram. Enam tahun kemudian, mereka diundang ke Berlin, Jerman untuk bermain di Die Garten des Islam (Pameran Budaya Islam) oleh Haus der Kulturen der Welt. Pada bulan Juli 1996, mereka kembali ke Jerman untuk Festival Heimatklange, dengan acara di Berlin, Mülheim, dan Düsseldorf.

Setelah tahun 2000, Nasida Ria lebih jarang suksesnya. Beberapa anggota diganti karena telah meninggal atau keluar dari band.

Advertisement

Nasida Ria sekarang dimarkaskan di Semarang. Manajernya adalah Choliq Zain, anak dari HM Zain.

Nasida Ria kini memiliki 12 personil yaitu Hj. Rien Djamain, Hj. Afuwah, Hj. Hamidah, Hj. Nadhiroh, Hj. Nurhayati, Hj. Nurjanah, Hj. Thowiyah, Sofiyatun, Uswatun Khasanah, Titik Mukaromah, Nazla Zain & Alfiatul Khoiriyah. Selain itu Nasida Ria juga memiliki grup untuk juniornya yang bernama Qasidah ezzurA.

Nasida Ria Tampil di Jerman

Grup musik legendaris asal Kota Semarang ini kembali membuat geger publik nusantara pada Sabtu, 20 Juni 2022. Nasida Ria tampil membawakan lagu-lagu qasidah andalannya di panggung dunia dalam ajang Opening Week Music Program Documenta Fifteen di Kassel, Jerman.

 

Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Populer

View Non AMP Version