Lifestyle

Kegunaan, Kasus Gagal, dan Kontroversinya

Terapi stem cell atau sel punca penuh dengan kontroversi. Dalam beberapa kasus terapi ini terbukti bisa memiliki kekuatan medis untuk kecantikan hingga menyembuhkan penyakit berat dari diabetes hingga HIV. Namun dalam kasus lainnya banyak risiko dan kegagalan yang menyertai. 

Kasus Gagal dan Segala Kontroversi Stem Cell

Sejak mengetahui putranya Jay memiliki cerebral palsy, hampir setiap hari Shilpa berselancar di google mencari jalan terbaik. Ia membaca tentang uji coba terapi stem cell atau sel punca di Duke University North Carolina. Tapi Jay tidak memenuhi syarat.

Lalu pada tahun 2015 adik Jay, Kairav lahir. Shilpa langsung mengambil darah tali pusatnya untuk disimpan karena berpikiran darah tali pusat adiknya itu lebih muda dan kaya sel-sel punca. Shilpa berharap ada uji coba terapi stem cell lain yang membuka harapan Jay untuk sembuh dari cerebral palsy. 

Advertisement

Dan uji coba itu datang, biayanya USD 18.200 atau setara Rp 264 juta. Mereka menarik uang yang awalnya dikumpulkan untuk biaya fisioterapi dan hidroterapi, ditambah dengan meminjam, dan membuka dukungan donasi.

Cerebral palsy adalah salah satu kelainan syaraf otak yang membuat penderitanya sulit bergerak. Dalam kasus Jay adalah adanya komplikasi yang terjadi saat proses melahirkan, membuat Jay tidak pernah mampu untuk berjalan ataupun berbicara.

Tidak ada obat untuk menyembuhkan cerebral palsy. Penanganannya hanya dengan fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi yang dapat membantu beberapa gejalanya. 

Uji coba terapi stem cell pada Jay dilakukan, dilakukan infus sel punca selama dua jam ke dalam nadinya. Jay tercatat sebagai anak pertama yang menjalani uji terapi stem cell untuk penanganan cerebral palsy. 

Advertisement

Dilansir BBC, Shilpa mengatakan tidak ada perubahan pada Jay setelah menjalani terapi stem cell. 

“Sayangnya perubahan belum terjadi,”kata Shilpa. “Kami tidak melihat adanya perubahan, tetapi dia tidak spastik, dia terlihat lebih sadar, bagi kami itu cukup besar, seperti setelah melakukan dasar  fisioterapi,” lanjutnya.

Kasus berhasil terapi stem cell

Terapi stem cell diklaim mampu menyembuhkan banyak penyakit-penyakit berat. Yang terbaru stem cell disebut berhasil mengobati pasien HIV. Setelah melakukan terapi transplantasi stem cell partikel virus HIV tidak ditemukan dalam tubuhnya.

“Ini merupakan kasus kedua pasien yang dapat disembuhkan dari HIV. Temuan kami menunjukkan bahwa keberhasilan transplantasi sel induk sebagai obat untuk HIV, dapat ditiru,” kata penulis utama penelitian, Prof. Ravindra Kumar Gupta University of Cambridge.

Advertisement

Meski begitu, ia berpendapat bahwa masih ada jalan panjang sebelum terapi seperti itu menjadi layak untuk penyembuhan HIV. 

Sejauh ini para peneliti berfokus pada pengembangan dua jenis sel induk yakni sel embrionik dan sel dewasa. Stem cell embrionik adalah ekstraksi dari embrio yang sedang tumbuh. Ini memiliki keuntungan alami karena mampu memunculkan sel lain dalam tubuh, tanda yang dikenal sebagai pluripotensi. 

Tetapi beberapa orang mengangkat keprihatinan terhadap masalah etis penggunaan embrio dalam mengambil stem cell. Sedangkan sel-sel induk dewasa bukanlah pluripoten alami, yang berarti mereka cenderung lebih terspesialisasi dan hanya mampu berkembang menjadi jenis sel yang lebih sempit atau terbatas. 

Terapi stem cell untuk penanganan penyakit yang telah terbukti dan berlisensi adalah untuk penanganan pada sistem imun dan darah. Seperti leukimia, limfoma, dan mieloma. Di Beberapa negara juga telah disetujui untuk penyembuhan luka bakar kimia pada mata.

Advertisement

Harapan terapi sel punca mampu mengobati gangguan lain telah mendorong banyak uji klinis baru. Pada 2018, ada lebih dari 432 bisnis yang berbasis di Amerika Serikat dengan 716 klinik yang melakukan pemasaran langsung pada konsumen. Tidak jarang juga dari mereka meminta donasi melalui GoFundMe atau YouCaring.

Kasus gagal terapi stem cell

Klinik seringkali secara aktif mendorong kampanye yang dibesar-besarkan hingga seakan-akan menghapuskan potensi risiko-risiko yang ada. Padahal terapi stem cell juga memiliki potensi pasti terjadinya gangguan tertentu.

“(pengobatan stem cell) ini sederhana dan cepat, dan hanya dengan efek samping minimal,” klaim satu halaman yang berusaha mengumpulkan dana untuk pria dengan Parkinson.

“Yang paling penting itu telah terbukti memperlambat perkembangan penyakit tanpa efek samping,” tulis sebuah kampanye donasi untuk seorang pria dengan amytrophic lateral sclerosis (ALS).

Advertisement

Melansir BBC Future, hanya 26 dari 408 kampanye yang menyebutkan ‘risiko’ dan itupun menyebutnya dengan berisiko lebih rendah dari pengobatan alternatif. Padahal beberapa kasus mengatakan fakta lain tentang risiko stem cell terapi yang menimbulkan beragam kontroversi.

Risiko Terapi Stem Cell

  1. Tahun 2017, Doris Tyler seorang mantan guru musik berusia 77 tahun mengumpulkan uang di GoFundMe untuk membiayai perawatan stem cell untuk mengobati degenerasi makula (ARMD) –masalah penglihatan karena usia. Sebelum perawatan, Doris masih mampu membaca tulisan dengan huruf besar-besar. Setelah melalui terapi stem cell, Doris hampir buta. “Ketika saya bangun di pagi hari saya sulit membuka mata dan melihat semuanya gelap,” kata Doris. Setidaknya ada tiga pasien ARMD yang kehilangan penglihatan setelah melakukan rangkaian perawatan stem cell di Florida pada 2015.
  2. Setidaknya 17 pasien dirawat di rumah sakit selama 2019 di AS setelah suntikan stem cell dari darah tali pusat. Centers for Disease Control (CDC) mengkonfirmasi bahwa itu terjadi karena adanya serangkaian infeksi bakteri. 
  3. Kasus lain terjadi pada Jim Glass. Di awal 60an Glass mencari pengobatan stem cell untuk mengobati stroke. Setelah melakukan terapi muncul tumor di sumsum tulang belakang yang membuat kaki kanannya lumpuh. Analisis DNA menunjukkan tumor muncul dari stem cell yang disuntikkan. Setelah stroke di awal 60-an, Jim Glass mencari pengobatan sel induk di Argentina, Cina, dan Meksiko (biaya: $ 200.000). Tumor sumsum tulang belakang kemudian melumpuhkan kaki kanannya (stroke telah melumpuhkan kaki kirinya). Analisis DNA menunjukkan tumor muncul dari sel induk yang disuntikkan.
  4. Tumbuhnya tumor otak dan tumor sumsum tulang belakang pada bocah 9 tahun setelah transplantasi sel punca. Analisis patologis mengkonfirmasi tumor tulang belakang berisi sel-sel dari setidaknya dua pendonor.

Kontroversi terapi stem cell di Indonesia juga sering terjadi. Awal tahun ini (12/1) sebuah klinik di terapi suntik stem cell Mampang Prapatan, Jakarta Selatan digerebek polisi karena berpraktik tanpa izin.

Kabartangsel.com

Source

Advertisement

Populer

View Non AMP Version
Exit mobile version