Bisnis
JOSSHUA ABRAHAM SUTANTO: MENEMUKAN “HACK” BAGAIMANA UANG BEKERJA UNTUKMU
Sulit untuk tidak terhanyut dalam energi positif Josshua Abraham Sutanto. Pembawaannya hangat, celotehnya ringan, dan humornya selalu datang di saat yang tepat. Ia tipe orang yang bisa membuat ruangan tegang jadi cair hanya dengan satu kalimat.
Tapi di balik keceriaan itu, tersimpan cerita yang tak kalah dalam dan berliku. Tentang perjalanan hidup yang penuh kegagalan, pencarian spiritual, dan pergeseran makna soal uang; dari yang harus dikejar, menjadi sesuatu yang bisa bekerja untuk kita.
Dari IT ke Properti: Uang Besar yang Tak Terlihat
Dengan latar belakang IT dan akuntansi, Josshua memulai kariernya di dunia analisis keuangan. Tapi pada 2010, ia memutuskan resign dan terjun ke dunia bisnis teknologi serta properti.
Kedua bidang ini berkembang pesat bersamaan, bahkan dalam satu waktu SPT pajaknya bisa menyentuh miliaran rupiah. Tapi ada satu masalah: uang datang dalam jumlah besar, namun hanya sesekali. Tidak cukup untuk menciptakan aliran kas yang sehat.
Ketika permohonan kreditnya ditolak karena tidak ada cash flow harian, Josshua mulai berpikir ulang. Ia belajar bahwa “uang kecil yang masuk setiap hari lebih sehat daripada uang besar yang datang sesekali.”
Sejak itu, ia mulai mengejar bukan sekadar passive income, tapi passive cash profit yang konsisten dan terukur.
Uang, Doa, dan Definisi Ulang Tentang ‘Cukup’
Dalam prosesnya, Josshua juga belajar mendefinisikan ulang doanya. Dari “minta income besar,” menjadi “minta passive income,” lalu berkembang lagi jadi “passive profit,” hingga akhirnya: “My own passive cash profit.”
Proses ini membuatnya sadar bahwa seringkali Tuhan mengabulkan doa kita, tapi tidak dalam bentuk yang kita kira. Ternyata income besar belum tentu berarti bebas waktu. Passive income belum tentu berarti passive profit. Dan bahkan passive profit pun belum tentu menjadi hak kita sepenuhnya jika sistemnya tidak rapi.
Belajar dari Gagal, Bertumbuh Lewat Sistem
Dalam mencari definisi ini, Josshua tidak lepas dari kegagalan yang ia temui berkali-kali. Beberapa kali ia mengalami fraud, baik dari manajer kos maupun operator harian.
Dari situ ia belajar pentingnya sistem, sehingga lahirlah prinsip cashless serta otomatisasi yang kini ia ajarkan dalam berbagai pelatihan.
Baginya, kegagalan adalah guru yang paling jujur. Justru dari sana, sistem yang tahan banting bisa lahir. “Saya lebih senang cerita gagal karena di situlah pelajaran terbaiknya,” ujarnya.
Ia menyusun framework 5D: Dream, Delete, Digitize, Delegate, Distinctive. Prinsip ini menjadi pondasi automation yang ia sebut sebagai jalan menuju ‘uang bekerja untuk kita’.
Growth Is The Point
Kalimat yang terus ia ulang adalah: “Growth adalah kata penting buat saya,” ungkapnya. “Tiap masalah, saya nggak pernah tanya ‘kenapa ini terjadi pada saya’, tapi ‘dari sini, Tuhan mau saya belajar apa?’ saya fokusnya bagaimana saya bisa selesaikan masalah dan bertumbuh dari situ,” lanjutnya.
Apapun yang terjadi—gagal, kehilangan, ditipu, ditolak bank—selama bisa terus tumbuh (growth), itulah yang menjadi tolakan Josshua dalam mendefinisikan kesuksesannya.
Dan karena itulah, Josshua kini hadir sebagai praktisi sekaligus pengajar. Bukan hanya karena ia tahu ilmunya, tapi karena ia ingin orang-orang yang belajar, tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama.
Pemerintahan2 minggu agoPenataan Kabel Udara di Tangsel Terus Berlanjut, Jalan WR Supratman dan Merpati Raya Kini Lebih Rapi
Sport3 minggu agoJadwal Timnas Indonesia Piala AFF 2026
Sport3 minggu agoJadwal Lengkap Piala AFF 2026
Otomotif2 minggu ago6 Mobil yang Wajib Dilihat di GIIAS 2026, ICAR V23 Jadi Pilihan Mobil Listrik Keren untuk Perkotaan
Sport3 minggu agoPiala Presiden 2026: Peserta, Grup, Jadwal, Tiket, hingga Format Pertandingan
Sport3 minggu agoJadwal Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Lawan Kamboja, Timor Leste, Vietnam, dan Singapura
Sport4 minggu agoSiapa Lawan Spanyol di Final Piala Dunia 2026? Argentina atau Inggris?
Otomotif2 minggu agoGIIAS 2026 Digelar 30 Juli sampai 9 Agustus


























