Bisnis
Momentum Hari Buruh, LindungiHutan Soroti Peran Komunitas untuk Konservasi Lingkungan
Semarang, 2 April 2025 — Dalam peringatan Hari Buruh, isu ketenagakerjaan tidak hanya berbicara tentang sektor industri, tetapi juga menyentuh kontribusi kelompok kerja akar rumput yang kerap luput dari sorotan, termasuk petani pohon dan penggerak penghijauan berbasis komunitas.
Di kawasan pesisir Trimulyo, Semarang, komunitas lokal bernama Tripari telah lebih dari satu dekade menjalankan inisiatif pelestarian lingkungan dengan menanam ribuan bibit mangrove. Komunitas ini dipimpin oleh Suswanto (32), yang juga dipanggil, Antok, seorang mantan buruh perusahaan yang sejak 2015 mendedikasikan hidupnya untuk penghijauan pesisir.
“Kerusakan lingkungan di kampung kami nyata. Abrasi datang setiap tahun, dan kami melihat pentingnya melakukan sesuatu. Maka kami mulai menanam mangrove bersama warga,” kata Antok.
Kegiatan konservasi yang dilakukan komunitas Tripari muncul sebagai respons atas krisis lingkungan yang kian parah di wilayah pesisir utara Jawa. Menurut data Badan Informasi Geospasial (BIG), Jawa Tengah kehilangan hampir 8.000 hektar wilayah pesisir akibat abrasi. Tiga wilayah terdampak paling parah adalah Kabupaten Brebes (2.391,95 hektar), Kabupaten Demak (2.218,23 hektar), dan Kota Semarang (1.919,57 hektar). Penurunan tanah yang disertai dengan peningkatan muka air laut menjadi penyebab utama abrasi masif ini.
Kemitraan antara Tripari dan startup konservasi LindungiHutan dimulai secara organik dan terbentuk dari kebutuhan bersama akan perlindungan ekosistem. Melalui kerja sama ini, komunitas mendapatkan akses terhadap bibit, pelatihan, dan pendampingan teknis.
“Yang menarik dari konservasi berbasis komunitas adalah keberlanjutan. Mereka bukan datang dan pergi. Mereka tinggal di sana, merawat pohon, dan hidup bersama dampaknya,” ujar Aminul Ichsan, Ketua Yayasan LindungiHutan.
Meski demikian, berbagai tantangan terus membayangi. Proyek pembangunan jalan tol Semarang–Demak dan normalisasi sungai tahun 2019 menyebabkan sebagian area mangrove yang ditanam hilang. “Kami kecewa, tapi tidak menyerah. Yang penting bisa terus menanam di tempat lain,” ujar Antok.
Hingga kini, komunitas Tripari telah melakukan penanaman di berbagai zona pesisir Trimulyo dan mengembangkan sistem pemantauan mandiri berbasis warga. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga merawat, mencatat pertumbuhan pohon, dan melaporkan kerusakan secara berkala.
Momentum Hari Buruh dimaknai sebagai pengingat bahwa buruh tidak hanya ada di pabrik, tetapi juga di hutan, di ladang, dan di garis pantai. Mereka menjaga keberlanjutan hidup kita bersama.
“Kami berharap lebih banyak pihak mengakui peran petani pohon dalam agenda iklim nasional. Mereka aktor penting yang bekerja dalam senyap,” tambah Ichsan.
Konservasi berbasis komunitas, seperti yang dijalankan Tripari, menjadi salah satu model paling adaptif dalam menghadapi krisis ekologi. Tanpa dukungan dan pengakuan terhadap kerja-kerja komunitas seperti ini, ketahanan lingkungan akan sulit terwujud.
Sport5 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Pekan ke-8, 30 Oktober–1 November
Banten5 hari agoUntirta Dorong Pengembangan Produk Lokal Banten untuk Ketahanan Pangan Nasional
Sport5 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Jumat 30 Oktober 2026: Java United FC vs Bhayangkara FC dan Persebaya vs Persijap
Nasional5 hari agoKonser Andrea Bocelli Digelar 31 Oktober di Borobudur dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran
Nasional4 hari agoMA Kabulkan Kasasi Nomor 742 K/TUN/2026, Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka Dinyatakan Tidak Sah
Hukum4 hari agoKoalisi Mahasiswa dan Pemuda Astacita Desak Pembersihan Internal Polri dan Penegakan Sistem Merit
Sport2 hari agoHasil Dewa United vs Persija 2-1, Shin Tae-yong Sebut Kekalahan Jadi Alarm untuk Macan Kemayoran
Sport3 hari agoHasil Persik Kediri vs Persita Tangerang: Pendekar Cisadane Bantai Tuan Rumah 1-5, Pablo Ganet Hattrick








































