Ciputat
Tidak Berizin, BP2T Tangsel Hentikan Pembangunan SPBG di Ciputat

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menghentikan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Serua, Ciputat, Kota Tangsel. Alasannya, tidak ada izin dan tanpa persetujuan warga sekitar.
Kepala BP2T Kota Tangsel Dadang Sofyan mengatakan, warga menolak adanya pembangunan SPBG, karena memang lokasi pembangunan tidak sesuai
dengan peruntukannya. Karena, kawasan tersebut merupakan kawasan pemukiman warga.
“Sudah kita setop pembangunannya sejak bulan lalu. Karena tidak ada izinnya. Dan kita tidak pernah mengeluarkan izin,” ungkapnya di Tangsel, Senin (6/1/2014).
Perizinan pembangunan SPBG, kata Dadang, harus melalui Badan Koordinasi Ruang Daerah (BKRD) dari Provinsi Banten. Setelah itu, pihak Pemkot Tangsel baru dapat mengeluarkan izin pembangunannya.
“Surat dari BKRD juga belum ada di kami (BP2T Tangsel). Bagaimana kami mau memprosesnya. Kan, harus sesuai prosedur,” katanya.
Menurut Dadang, pihaknya tidak akan gegabah mengeluarkan surat izin, jika tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kalau memang semua persyaratan sesuai dengan aturan, pihaknya tidak akan mempersulit untuk mengeluarkan izin.
“Kalau di Standard Operating Procedure (SOP)-nya paling lama satu bulan pengajuan perizinan disetujui,” ucap mantan Kepala Dinas Pendidikan itu.
Sementara itu, Camat Ciputat Deden Juardi menuturkan proyek itu milik PT Pertamina dan didanai APBN. Pihaknya sudah melakukan pertemuan antara warga dan juga perwakilan PT Pertamina di kantor Kelurahan Serua.
Sama dengan BP2T, pihaknyapun tidak pernah mengeluarkan izin atau jenis rekomendasi terkait pembangunan SPBG tersebut.
“Koordinasi atau musyawarah dan sosialisasi seperti yang diinginkan warga memang belum dilakukan saat pembangunan SPBG itu,” ucapnya.
Sebelumnya, ratusan warga datang ke kantor Kelurahan Serua untuk melakukan protes rencana dibangunnya SPBG di kawasan mereka. Warga tidak terima bila wilayahnya dijadikan untuk pembangunan SPBG karena dampak yang ditimbulkan merugikan mereka.
Penolakan didasarkan kepada efek dari pembangunan itu sendiri. Warga khawatir bila ada SPBG akan menimbulkan efek kurang baik. Warga akan terus melakukan berbagai upaya agar SPBG yang berada di atas lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi tersebut gagal dibangun. (SI/kt)
Nasional6 hari agoSiapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya
Sport7 hari agoJadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final
Banten2 minggu agoSTAI Syekh Manshur Gelar Bedah Buku “Manajemen Cinta Sebagai Hidden Kurikulum di Madrasah” dan “Ekosistem Mutu Pendidikan Islam Paradigma Baru Menuju Pendidikan Islam Berdampak”
Nasional7 hari agoG30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia
Sport7 hari agoJadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026
Sport5 hari agoHasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?
Sport7 hari agoJadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober
Bisnis7 hari agoBogasari Baking Center Latih Puluhan UKM





































