Connect with us

Lifestyle

Mengulas Bradipnea, Pernapasan yang Melambat dan Tidak Normal

Sistem pernapasan manusia terdiri dari serangkaian organ yang bertanggung jawab untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Umumnya, rata-rata tingkat pernapasan tergantung pada usia seseorang. Namun, aktivitas fisik dapat juga dapat meningkatkan pernapasan. Akan tetapi, orang dengan bradipnea, memiliki tingkat pernapasan yang tidak normal. Ya, bradipnea adalah penyakit pernapasan. Lantas, siapa saja yang mungkin mengalami penyakit ini?

Napas, proses yang bisa dilakukan secara sadar dan tidak sadar

Tahukah Anda bahwa proses pernapasan yang terjadi pada tubuh sangatlah kompleks? Proses pernapasan melibatkan banyak organ di dalam tubuh, tidak hanya saluran penapasan saja. Batang otak berperan untuk mengontrol pernapasan dengan cara mengirimkan sinyal ke sumsum tulang belakang sampai ke otot yang bertugas membawa oksigen ke paru-paru. Kemudian, pembuluh darah memeriksa jumlah oksigen dan karbon dioksida dalam darah untuk disesuaikan dengan laju pernapasan.

Proses pernapasan tersebut memang terjadi tanpa Anda sadari. Namun, proses pernapasan juga bisa Anda kendalikan secara sadar. Misalnya, melakukan latihan pernapasan dengan menghirup udara lebih dalam dan membuangnya secara perlahan.

Dilansir dari Live Strong, menurut ahli dari John Hopkins Medicine, salah satu pusat perawatan kesehatan di Baltimore menjelaskan tingkat pernapasan normal pada orang dewasa berkisar antara 12 sampai 16 kali napas per menit. Jika melakukan aktivitas berat, tingkat pernapasan normal dapat meningkat hingga 45 kali napas per menit.

Advertisement

Sementara menurut dokter dari Children’s Hospital of Philadelphia, tingkat pernapasan normal pada bayi adalah 40 kali permenit dan dapat melambat menjadi 20 kali napas per menit saat ia tidur. Bila tingkat pernapasan berada di bawah atau lebih dari angka yang ditentukan dan terjadi saat tidak melakukan aktivitas, ini bisa menjadi tanda adanya masalah medis pada tubuh.

Mengenal bradipnea, gangguan pada sistem pernapasan yang cukup berbahaya

Nah, salah satu kondisi yang mengganggu tingkat pernapasan seseorang adalah bradipnea (bradypnea). Bradipnea adalah kondisi yang menandakan kecepatan bernapas menjadi berkurang dan melambat sehingga total napas per menit jauh di bawah angka rata-rata normal.

Bradipnea adalah kondisi yang sering terjadi ketika Anda sedang tertidur atau ketika bangun tidur. Namun, kondisi ini berbeda dengan sleep apnea (pernapasan berhenti sejenak ketika tidur) maupun dispnea (napas yang terengah-engah atau sesak napas).

Apa saja pemicu dan penyebab pernapasan menjadi lebih lambat?

Walaupun sering terjadi saat tidur atau bangun tidur, beberapa kondisi yang menyebabkan bradipnea adalah seperti:

Advertisement

1. Menggunakan opioid

Opioid merupakan zat penghilang rasa sakit yang menyebabkan kecanduan tingkat tinggi. Zat ini sering disalahgunakan sehingga penggunaannya di beberapa negara tidak diperbolehkan. Opioid memengaruhi reseptor yang ada di otak sehingga dapat memperlambat laju pernapasan.

Efek sampingnya dapat mengancam jiwa dan menyebabkan napas berhenti total, terutama pada orang yang memiliki sleep apnea obstruktif dan penyakit paru. Beberapa opioid yang sering disalahgunakan adalah morfin, heroin, kodein, hidrokon, dan oksikodon. Risiko efek samping jadi lebih besar jika obat ini digunakan bersamaan dengan rokok, alkohol, atau obat penenang.

2. Hipotiroidisme

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar endokrin terbesar pada tubuh, yang memiliki banyak fungsi penting, salah satunya memproduksi hormon. Hipotiroidisme adalah gangguan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan produksi hormon menjadi kurang aktif.

Advertisement

Akibatnya, kadar hormon menurun dan bisa memperlambat berbagai proses dalam tubuh, termasuk pernapasan. Kondisi ini dapat melemahkan otot-otot pernapasan dan menyebabkan kapasitas oksigen di paru-paru menjadi berkurang. Gejala lain yang biasanya terjadi pada hipotiroidisme adalah rambut rontok, kelelahan kronis, serta kulit kering.

3. Keracunan

mencegah keracunan karbon monoksida

Keracunan dari zat tertentu dapat memengaruhi proses di dalam tubuh, salah satunya memperlambat pernapasan. Salah satu zat yang mengganggu pernapasan adalah sodium zide, zat kimia yang digunakan pada airbag mobil untuk mengembang. Zat ini juga ditemukan pada pestisida dan bahan peledak. Jika terhirup dalam jumlah tertentu, zat kimia tersebut dapat memperlambat sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskular serta menimbulkan gejala mual, muntah, dan sakit kepala.

Kemudian, ada juga karbon monoksida yaitu gas yang dihasilkan dari pembakaran atau asap kendaraan. Gas ini dapat terhirup dan tercampur dalam darah dan menyebabkan kadar oksigen menurun, sakit kepala dan pusing, koma, dan gagal bernapas.

4. Cedera kepala dan kondisi lainnya

gejala kerusakan otak akibat cedera kepala

Mendapat cedera di bagian kepala, tepatnya di area batang otak (kepala bagian bawah) dapat menyebabkan brakardi (penurunan denyut jantung) sekaligus bradipnea. Biasanya cedera kepala sering terjadi akibat pukulan benda tajam, terjatuh, atau mengalami kecelakaan.

Advertisement

Selain itu, orang dengan penyakit pneumonia, edema paru, bronkitis kronis, asma kronis, sindrom Guillain-Barré atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS) juga memiliki gejala penurunan kecepatan pernapasan.

Bagaimana mengatasi bradipnea?

Jika laju pernapasan Anda terasa lebih lambat dari biasanya, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Anda kemungkinan akan menjalani pemeriksaan fisik dan pengecekan denyut nadi, suhu tubuh, dan tekanan darah. Pengobatan dan perawatan akan ditetapkan setelah diagnoasis penyakit diketahui.

Dalam situasi darurat, pasien dengan kondisi lambatnya laju pernapasan harus mendapatkan perawatan segera, seperti:

  • Pasien kecanduan opioid atau overdosis diharuskan mengikuti rehabilitasi, terapi, dan mengonsumsi obat naloxone untuk mengurangi keracunan opioid.
  • Pasien keracunan harus mendapat bantuan oksigen, pengobatan, dan pemantauan organ-organ vital.
  • Pasien yang mengalami cedera kepala harus mendapat pembedahan, pengobatan, dan perawatan lebih lanjut.
  • Pasien dengan hipotiroidisme harus mendapatkan pengobatan harian untuk mengurangi gejala.

Kabartangsel.com

Source

Advertisement
Sport5 hari ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport5 hari ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Sport5 hari ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Sport5 hari ago

38 Peserta League Cup 2026/27

Nasional6 hari ago

Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Rakabuming Raka, Gugatan Tak Diterima

Logo HUT ke-18 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Tahun 2026
Pemerintahan6 hari ago

Karya Syifa Nabilah Azhari Jadi Pemenang Sayembara Logo HUT ke-18 Tangsel

Sport7 hari ago

Ranking FIFA Timnas Indonesia Terbaru Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport1 minggu ago

FIFA ASEAN Cup 2026 Final Indonesia vs Thailand: Indonesia Juara, Menang Adu Penalti 4-2

Sport1 minggu ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Garuda Menang 4-2

Sport1 minggu ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport1 minggu ago

Hasil Indonesia vs Thailand Berakhir Adu Penalti, Skor 2-2 hingga Extra Time

Pemerintahan1 minggu ago

Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspadai Influenza A, Kenali Gejala dan Cegah Penularan

Pemerintahan1 minggu ago

Sampah Plastik Ditukar Bibit Tanaman, DLH Tangsel Dorong Kebiasaan Pilah Sampah

Pemerintahan1 minggu ago

Benyamin Davnie Sambangi CFD BSD, Warga Berolahraga hingga Berburu Kuliner UMKM

Tangerang Selatan1 minggu ago

Raker Karang Taruna Tangsel, Pilar Saga Ichsan: Program Harus Tepat Sasaran

Pemerintahan1 minggu ago

Program Bantuan Jaminan Sosial BAZNAS Diluncurkan, Pilar Saga Ichsan Dorong Perlindungan Pekerja Rentan Tangsel Menuju Kemandirian Ekonomi

Nasional1 minggu ago

Mutasi Polri 2 Oktober 2026: 88 Pati dan Pamen, Sejumlah PJU Mabes dan Kapolda Berganti

Nasional1 minggu ago

Kapolri Suyudi Ario Seto Mutasi 88 Pati dan Pamen Polri, 19 Kapolda Diganti Termasuk Kapolda Banten

Nasional1 minggu ago

Prabowo Lantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Bakom RI

Nasional1 minggu ago

Presiden Prabowo Subianto Angkat 26 Anggota Wantimpres, Ini Profil Lengkapnya

Nasional2 minggu ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Nasional2 minggu ago

G30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia

Sport2 minggu ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Bisnis2 minggu ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Sport2 minggu ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Gelar Edukasi Cegah Stunting

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Bisnis2 minggu ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Bisnis2 minggu ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis2 minggu ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Bisnis3 minggu ago

Transformasi Digital Perseroda PITS, SIPITS Mobile Raih Radar Banten Award 2026

Bisnis2 minggu ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Nasional2 minggu ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Nasional2 minggu ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Bisnis2 minggu ago

Saatnya Generasi Muda Berinvestasi Lebih Mindful

Nasional2 minggu ago

Pernyataan Lengkap Suyudi Ario Seto Usai Disetujui DPR RI untuk Jadi Kapolri

Sport3 minggu ago

Daftar Sanksi Komdis PSSI Kompetisi BRI Super League dan Pegadaian Championship 2026/27, Hasil Sidang 8–16 September

Populer