Kader muda Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Napak Tilas Pendiri Bangsa, Tribute To Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam rangka menyambut hari santri 22 Oktober mendatang. Kegiatan Napak Tilas tersebut berupa “Simposium Nasional Pemikiran dan Gerakan Syaikh Nawawi Al Bantani, Sang Perintis Nasionalisme Berbasis Islam” dan sayembara penulisan essai tentang pemikiran dan gerakan Syaikh Nawawi Al Bantani, memperebutkan “Syaikh Nawawi Award.” Baca berita sebelumnya: Sambut Hari Santri Nasional, Kader Muda NU Gelar “Tribute To Syaikh Nawawi Al-Bantani”
Dipilihnya Syaikh Nawawi sebagai tokoh yang diangkat kali ini sudah penuh pertimbangan. Syaikh Nawawi merupakan ulama besar yang sudah internasional.
Syaikh Nawawi merupakan ulama kelahiran Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten. Bernama lengkap Abu Abdullah Al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Tanari Al Bantani Al Jawi.
Sosoknya terkenal ulet untuk mencari ilmu. Ia disebut-sebut pertama kali belajar dengan ulama besar asal Purwakarta, KH Yusuf. Setelahnya ia memutuskan untuk pergi ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji. Tidak sampai disitu, usai pelaksanaan ibadah haji, Syaikh Nawawi tidak langsung kembali ke Tanah Air. Ia kembali mendatangi sejumlah ulama besar yang berada di Makkah.
Beberapa ulama tersebut antara lain: Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang merupakan Imam Masjidil Haram, Syaikh Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati Syaikh Nahrawi, Muhammad Khatib Hambali, Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Abdul Hamid Daghestani.
Syaikh Khatib Sambas belakangan menunjuk Syaikh Nawawi untuk menggantikannya sebagai Imam Masjidil Haram, lantaran uzur. Dari sinilah ia mulai disapa sebagai Syaikh Nawawi Al Jawi.
Sosok Syaikh Nawawi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Beberapa literatur menyebut karyanya sudah mencapai lebih dari 100 judul beragam disiplin ilmu, mulai dari ilmu kalam, tauhid, tafsir, syariah, sejarah dan lain-lain. Sejumlah karyanya yang diakui dunia internasional seperti
Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin, yang sebagian dari karya-karyanya itu diterbitkan di Timur Tengah.
Syaikh Nawawi wafat pada usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Makkah, tepatnya 25 Syawal 1314 H (1879 masehi). (sm/fid)
Nasional6 hari agoSiapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya
Sport1 minggu agoJadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final
Banten2 minggu agoSTAI Syekh Manshur Gelar Bedah Buku “Manajemen Cinta Sebagai Hidden Kurikulum di Madrasah” dan “Ekosistem Mutu Pendidikan Islam Paradigma Baru Menuju Pendidikan Islam Berdampak”
Nasional1 minggu agoG30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia
Sport7 hari agoJadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026
Sport5 hari agoHasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?
Bisnis7 hari agoBogasari Baking Center Latih Puluhan UKM
Sport7 hari agoJadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober













