Merayakan 29 tahun berdirinya instalasi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kembali melakukan sosialisasi terkait fungsi RSG-GAS.
Kepala BATAN Djarot Sulistyo Wisnubroto, mengungkapkan bahwa selama 29 tahun ini, BATAN sudah melakukan sejumlah riset dan penelitian berdasarkan reaksi yang didapat dari reaktor RSG-GAS. Walaupun saat ini, ada pemotongan dana operasional dari pemerintah, Djarot memastikan bahwa BATAN akan tetap memberikan kinerja dan komitmen terbaiknya bagi masyarakat.
”RSG-GAS adalah reaktor riset yang memiliki fungsi serbaguna, yaitu untuk memproduksi radioisotop, pengujian bahan dan penelitian. Selain itu, RSG-GAS juga dilengkapi dengan laboratorium penunjang untuk penguatan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia di bidang nuklir, di antaranya adalah instalasi produksi radioisotop, fabrikasi bahan bakar reaktor, limbah radioaktif dan instalasi keselamatan reaktor,” kata Djarot di Gedung 71 Puspitek, Setu, Kota Tangerang Selatan, (Tangsel), Selasa (23/8).
Djarot memaparkan RSG-GAS memiliki kapasitas 30 MW dan saat ini baru terpakai 15 MW, sehingga masih terbuka peluang untuk dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat atau industri.
”BATAN tidak memiliki kewenangan untuk mengomersilkan hasil riset. Kami bekerja sama dengan PT. Industri Nuklir Indonesia (INUKI) untuk memasyarakatkan produk-produk hasik riset kami,” ucap Djarot.
Direktur INUKI Bambang Herutomo, menyatakan bahwa saat ini line business INUKI adalah pengadaan radioisotop guna bidang kesehatan dan penyediaan bahan bakar nuklir.
”Saat ini kami menyuplai 13 rumah sakit di Indonesia, serta mengekspor ke Malaysia, Thailand, dan Bangladesh,” kata Bambang.

Walau hingga akhir Agustus 2016 sedang dilakukan revitalisasi pada instalasi radioisotop, namun Bambang sudah menargetkan ekspansi pemasaran ke China dan Jepang.
”Target kita adalah Rp20 miliar per tahun, dengan jumlah ekspor 50 persen dari total keseluruhan. Untuk mencapai target ini, kami akan memasarkan radioisotop untuk kepentingan industri,” ucap Bambang.
Terkait pemotongan dana operasional, Djarot menyatakan hal itu tidak akan mengubah keinginan BATAN untuk menjadi supplier radioisotop terbesar di dunia.
”Dengan pengalaman yang dimiliki oleh para ahli reaktor Indonesia dalam pengoperasian , pemanfaatan dan perawatan RSG-GAS, kita bisa menjadi supplier radioisotop terbesar di dunia. Karena reaktor lain yang terdekat, umurnya sudah jauh lebih tua dari RSG-GAS. Dan ditambah, dari kapasitas 30 MW, baru terpakai 15 MW, jadi masih sisa setengahnya,” tutur Djarot.
Ditambahkan pula, bahwa banyak negara lain yang mengirimkan sumber daya manusiannya untuk belajar dan berlatih tentang teknologi pengoperasian, pemanfaatan dan perawatan reaktor di RSG-GAS Serpong. (mri/fid)
Pemerintahan2 minggu agoPenataan Kabel Udara di Tangsel Terus Berlanjut, Jalan WR Supratman dan Merpati Raya Kini Lebih Rapi
Sport2 minggu agoJadwal Timnas Indonesia Piala AFF 2026
Serba-Serbi4 minggu agoPerda Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2023: Di Wilayah yang Sudah Terpasang Jaringan, Kewajiban Menggunakan Layanan PAM Mulai Berlaku
Otomotif2 minggu ago6 Mobil yang Wajib Dilihat di GIIAS 2026, ICAR V23 Jadi Pilihan Mobil Listrik Keren untuk Perkotaan
Sport2 minggu agoJadwal Lengkap Piala AFF 2026
Sport3 minggu agoPiala Presiden 2026: Peserta, Grup, Jadwal, Tiket, hingga Format Pertandingan
Sport2 minggu agoJadwal Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Lawan Kamboja, Timor Leste, Vietnam, dan Singapura
Tips4 minggu agoReview Sepatu Padel Asics Sonic Smash Padel, Nyaman Dipakai Main Berjam-jam?













