Connect with us

Lifestyle

Ada Orang yang Sama Sekali Tidak Pernah Merasa Bahagia, Sedih, dan Marah. Kenapa, Ya? • Hello Sehat

Melihat sesuatu yang lucu, seperti acara komedi di televisi, umumnya bisa membuat kebanyakan orang tertawa hingga terbahak. Kebalikannya ketika berhadapan dengan situasi yang memilukan atau menyayat hati, rasa tidak tega atau kesedihan mungkin menyelimuti hati Anda. Emosi memainkan peran penting dalam menentukan cara Anda berpikir dan berperilaku untuk mengambil keputusan dan bertindak. Emosi yang Anda rasakan membantu Anda bertahan hidup, menghindari bahaya, serta berempati dengan orang lain. Menariknya, ada segelintir orang yang tidak punya emosi dan tidak bisa merasakannya. Dalam dunia psikologis, gangguan emosi ini disebut dengan gangguan depersonalisasi-derealisasi (DD).

Mengenal depersonalisasi-derealisasi, ketika seseorang tidak punya emosi

Sebetulnya setiap orang mungkin saja kadang merasa tidak bisa merasakan emosi alias “mati rasa” sesekali dalam hidupnya. Misalnya saat Anda merasa amat sangat kewalahan dilanda stres di kantor. Pikiran Anda otomatis sudah dipenuhi oleh segala tetek bengek yang berkaitan dengan pekerjaan, sehingga secara emosional Anda justru jadi cenderung kurang responsif ketika mendapat berita baik.

Nah saking stresnya Anda bukannya menanggapi dengan keceriaan, tapi mungkin malah bereaksi datar dan membalas dengan “Oke thanks” atau “Duh lagi sibuk nih, nggak bisa diganggu.” Hayo, ngaku saja, pernah mengalami yang seperti ini, kan? Atau justru pernah jadi korban dijutekin teman sebelah?

Sampai batas tertentu, reaksi ini masih terhitung wajar. Namun ketika kecenderungan “mati rasa” emosional yang Anda rasakan sampai menetap dalam waktu lama, terjadi berulang-ulang, serta hingga mengganggu aktivitas dan bahkan merusak hubungan Anda dengan orang lain, bisa jadi ini menandakan gejala gangguan psikologis yang disebut depersonalisasi-derealisasi (DD).

Advertisement

Lantas kalau tidak bisa merasakan emosi, apa yang terjadi?

Meski tidak punya emosi, seseorang yang mengalami DD akan menunjukkan tanda dan gejala umum seperti:

  • Merasa jiwa, pikiran dan raganya tidak saling terhubung; seperti roh Anda lepas dari dalam tubuh (disosiasi). Ini adalah tahap depersonalisasi.
  • Merasa jauh/berjarak dengan lingkungan sekitar; tidak terkoneksi dengan lingkungan sekitar. Ini adalah tahap derealisasi
  • Merasa asing dengan kehidupan sendiri (depersonalisasi).
  • Merasa tertekan tanpa sebab yang jelas.
  • Sering lupa waktu, hari, tanggal, dan tempat.
  • Berpikiran bahwa diri mereka tidak berarti dan tidak layak.
  • Merasa “hidup segan, mati tak mau”; merasa hati dan pikiran kosong melompong; merasa hanya berjalan sambil tidur ketika beraktivitas; tidak lagi merasa senang ketika melakukan hobi.
  • Berpikiran atau merasa kondisi mentalnya tidak stabil.
  • Merasa lambat dalam menerima dan memproses sinyal yang diterima tubuh seperti; pengelihatan, pendengaran, pengecap dan sensasi sentuhan.
  • Kesalahan persepsi visual, seperti melihat benda lebih besar atau lebih kecil yang sebenarnya.
  • Kesalahan persepsi suara; suara menjadi lebih pelan atau lebih kencang dari yang sebenarnya.
  • Tidak pernah merasa bugar meski tetap rajin olahraga atau selalu tidur cukup.
  • Mengalami perubahan persepsi tentang citra tubuh (body image) sendiri.
  • Tampak kurang empati, tidak bisa/sulit memahami keadaan sosial.

Penyebab depersonalisasi-derealisasi

Gangguan DD terjadi ketika fungsi bagian otak yang memproses emosi, empati, dan interosepsi (fungsi yang berperan dan merasakan hal yang terjadi dalam tubuh) mengalami penurunan aktivitas.

DD cenderung muncul sebagai mekanisme pertahanan diri (coping strategy) oleh alam bawah sadar agar orang tersebut tidak mengalami tekanan mental yang lebih parah lagi. Kondisi ini disebut sebagai desentisasi.

Itu kenapa gangguan psikologis ini lebih sering muncul setelah dipicu oleh stres berat yang berkepanjangan atau setelah mengalami kejadian di masa lampau yang membuat trauma, baik secara fisik maupun mental (misalnya setelah kekerasan seksual, kekerasan anak, korban KDRT, krisis finansial, atau pascakematian orang terdekat).

Namun, masalah tidak punya emosi yang disebabkan oleh DD tidak dapat disamakan dengan jenis gangguan mental lainnya yang juga berkaitan dengan stres, seperti kejang akibat epilepsi, serangan panik dan serangan kecemasan, atau depresi.

Advertisement

Depersonalisasi-derealisasi juga dapat terjadi karena efek samping dari paparan kimia obat yang menekan kerja otak. Obat-obatan yang umumnya memunculkan efek mati rasa emosional adalah narkotika jenis ketamine, LSD, dan ganja. Penggunaan obat-obatan medis secara legal (diawasi dokter) seperti obat antidepresan dan anticemas golongan SSRI juga bisa menyebabkan efek samping serupa.

Apa yang dapat dilakukan?

Biasanya gejala DD membaik dengan sendirinya dengan perubahan pola gaya hidup, dukungan sosial dan seiring berjalannya waktu. Berbagai cara yang bisa dilakukan adalah:

  • Mengurangi stress.
  • Mengatur pola makan dan pola aktivitas.
  • Mencukupkan waktu tidur.
  • Memahami penyebab, pemicu dan sumber stress dan hindari hal tersebut dalam beberapa waktu.
  • Berbagi pada orang lain tentang hal-hal yang sedang Anda rasakan, alias jangan memendam emosi.
  • Menyibukkan diri dengan hal yang positif untuk mengalihkan pikiran dari stres.
  • Pahami bahwa hal buruk yang sedang dialami hanya berlangsung sementara.

Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan psikolog atau terapis jika Anda tidak bisa mengatasi stres tersebut atau ketika gejala DD sudah amat parah, untuk mencari strategi coping stres yang lebih efektif dan aman.

Bagi beberapa orang, berhenti menggunakan obat-obatan antidepresan kemungkinan dapat menghilangkan gejala DD. Namun, konsultasikan dulu dengan dokter Anda sebelum memutuskan berhenti dosis.

Kabartangsel.com

Advertisement

Source

Nasional21 jam ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Dukung Ruang Ekspresi bagi Anak-Anak Disabilitas

Nasional21 jam ago

Grand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik

Nasional2 hari ago

Reshuffle Kabinet: Prabowo Subianto Lantik 4 Wamen, Kepala BNPB, dan Pimpinan BPGMN

Sport3 hari ago

Jadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober

Sport3 hari ago

Klasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak

Sport3 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta

Sport3 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda

Sport3 hari ago

Hasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta

Sport1 minggu ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport1 minggu ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Sport1 minggu ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Sport1 minggu ago

38 Peserta League Cup 2026/27

Nasional1 minggu ago

Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Rakabuming Raka, Gugatan Tak Diterima

Logo HUT ke-18 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Tahun 2026
Pemerintahan2 minggu ago

Karya Syifa Nabilah Azhari Jadi Pemenang Sayembara Logo HUT ke-18 Tangsel

Sport2 minggu ago

Ranking FIFA Timnas Indonesia Terbaru Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

FIFA ASEAN Cup 2026 Final Indonesia vs Thailand: Indonesia Juara, Menang Adu Penalti 4-2

Sport2 minggu ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Garuda Menang 4-2

Sport2 minggu ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Hasil Indonesia vs Thailand Berakhir Adu Penalti, Skor 2-2 hingga Extra Time

Pemerintahan2 minggu ago

Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspadai Influenza A, Kenali Gejala dan Cegah Penularan

Nasional2 minggu ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Nasional2 minggu ago

G30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia

Sport2 minggu ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Bisnis2 minggu ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Sport2 minggu ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Bisnis2 minggu ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Bisnis2 minggu ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Gelar Edukasi Cegah Stunting

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Sport2 minggu ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Bisnis2 minggu ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Nasional2 minggu ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Bisnis2 minggu ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Bisnis2 minggu ago

Saatnya Generasi Muda Berinvestasi Lebih Mindful

Nasional2 minggu ago

Profil Suyudi Ario Seto, Putra Pandeglang Banten Disetujui DPR Jadi Calon Kapolri

Nasional2 minggu ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Nasional2 minggu ago

Pernyataan Lengkap Suyudi Ario Seto Usai Disetujui DPR RI untuk Jadi Kapolri

Bisnis2 minggu ago

PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk di NTT

Populer