Connect with us

Lifestyle

Hipoksia, Kondisi yang Perlu Diwaspadai Penderita PPOK • Hello Sehat

Orang dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) biasanya akan mengalami beberapa gangguan pernapasan karena penyakitnya itu. Salah satu kondisi yang umum dialami oleh orang dengan PPOK adalah hipoksia. Apakah hipoksia itu? Dan bagaimana cara mencegahnya?

PPOK dan hipoksia

Orang dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis biasanya memiliki kerusakan pada paru-parunya. Oleh karena kerusakan itu, salah satu masalah yang mereka alami adalah kesulitan dalam bernapas. PPOK merupakan sekelompok kondisi gangguan paru yang terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema. Keduanya akan membatasi aliran udara yang masuk ke dalam tubuh.

Terbatasnya aliran udara yang masuk ke dalam tubuh akan membuat paru-paru mengalami kesulitan dalam mengambil oksigen dari udara dan melepaskan karbondioksida. Akibatnya, oksigen yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih sedikit. Keadaan ini dapat membawa risiko hipoksia.

Advertisement

Hipoksia adalah suatu kondisi kurangnya asupan oksigen bagi sel dan jaringan tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius lainnya yang terkadang bisa mengancam nyawa. Itu sebabnya mengetaui tanda-tanda dan gejala hipoksia sangat penting agar dapat segera mengatasinya sebelum berkembang menjadi semakin membahayakan.

Gejala hipoksia

Cleveland Clinic mendefinisikan hipoksia sebagai kurangnya oksigen pada jaringan-jaringan tubuh. Oksigen memainkan banyak peran dalam perawatan fungsi tubuh. Satu-satunya cara mendapatkan oksigen ke dalam tubuh adalah dengan melalui paru-paru dalam proses pernapasan.

Ketika seseorang mengalami PPOK, secara otomatis fungsi parunya akan terganggu, sehingga sirkulasi oksigen juga terpengaruh. Akibatnya, asupan oksigen dalam darah akan kurang. Apabila tidak cepat disadari, keadaan ini akan membawa Anda pada kondisi yang lebih fatal lagi. Itu sebabnya, penting mengetahui gejala kondisi ini agar Anda dapat segera mengatasinya. Berikut adalah beberapa gejala umum dari hipoksia.

  • Sesak napas saat beristirahat
  • Sesak napas saat bangun tidur
  • Sesak napas parah setelah beraktivitas fisik
  • Perasaan tersedak
  • Mengi
  • Sering batuk
  • Kulit dan kuku yang berubah warna menjadi kebiruan

Hipoksia menyebabkan tubuh kekurangan oksigen karena organ vital pernapasan mengalami kerusakan. Kondisi ini akan menyebabkan kondisi lainnya yang disebut dengan hiperkapnia. Hiperkapnia terjai lantaran paru-paru menyimpan terlalu banyak karbondioksida akibat kerusakan yang terjadi membuatnya sulit melepaskan karbondioksida.

Saat gangguan pernapasan terjadi akibat rusaknya paru-paru, hal ini akan memengaruhi asupan oksigen dalam tumbuh. Kondisi tersebut berlaku dua arah. Artinya, tubuh kesulitan mendapatkan oksigen dan juga melepaskan karbondioksida akibat kerusakan yang terjadi.

Advertisement

Penumpukan karbondioksida di dalam tubuh akan menjadi sangat berbahaya bagi Anda. Saat seseorang memiliki kondisi ini, proses bernapas pun akan membutuhkan usaha ekstra dibandingkan orang normal.

Komplikasi hipoksia

Meskipun hipoksia karena PPOK membuat sulit bernapas, kondisi ini nyatanya tidak hanya berdampak pada paru-paru. Saat Anda tidak dapat menghirup cukup oksigen, darah Anda menjadi kekurangan komponennya yang sangat penting. Oksigen sangatlah diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh dasar. Contohnya, hipoksia bisa menyebabkan dampak serius pada kesehatan jantung dan otak Anda.

Kekurangan oksigen karena PPOK dapat menyebabkan suatu kondisi yang disebut hipoksia serebral. Jenis kondisi ini terjadi saat otak kekurangan oksigen meksipun mendapatkan cukup aliran darah. Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, orang yang memiliki hipoksia serebral otaknya akan mulai mati dalam lima menit.

Hipoksia karena PPOK yang tidak diobati juga dapat menyebabkan, antara lain:

Advertisement

Terapi oksigen sebagai pengobatan untuk hipoksia

Memulihkan keadaan hipoksia artinya Anda haru memenuhi alias meningkatkan jumlah oksigen yang kurang. Metode umum yang digunakan untuk memasok kekurangan oksigen ke dalam tubuh adalah melalui terapi oksigen.

Terapi oksigen disebut juga dengan tambahan oksigen atau resep oksigen. Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat memasok oksigen bagi paru-paru. Tambahan oksigen dapat mengurangi gejala sesak napas, meningkatkan oksigen dalam darah, dan mengurangi kerja jantung. Metode ini juga bisa menurunkan kondisi hiperkapnia.

Sebelum membuatkan Anda resep oksigen, dokter akan menjalankan beberapa tes untuk mengukur kadar oksigen dalam darah Anda. Terdapat beberapa jenis terapi oksigen yang dapat Anda lakukan bergantung pada kebutuhan Anda. Berikut adalah beberapa jenis terapi oksigen yang mungkin perlu Anda ketahui.

Terapi oksigen terkompresi

Terapi oksigen paling sering dilakukan menggunakan oksigen terkompresi. Jenis ini tersedia dalam bentuk gas dalam tabung penyimpanan, atau mungkin Anda lebih akrab dengan sebutan tabung oksigen. Pada alat ini akan terdapat meteran yang akan membantu Anda memantau jumlah oksigen yang Anda hirup. Oksigen nantinya akan bergerak melalui selang dari tabung dan memasuki tubuh melalui selang hidung, masker wajah, atau selang yang dipasang ke dalam batang tenggorok.

Advertisement

Terapi oksigen konsentrator

Selain kompresor, terapi oksigen juga tersedia dalam bentuk konsentrator. Oksigen konsentrator mengambil udara dari lingkungan, menyaring gas lainnya, kemudian menyimpan oksigen untuk digunakan sebagai terapi. Tidak seperti oksigen terkompresi, Anda tidak harus menggunakan tabung yang sebelumnya sudah terisi oksigen.

Terapi oksigen konsentrator berguna bagi orang yang selalu membutuhkan terapi oksigen di sepanjang waktu. Alat ini memerlukan pasokan listrik untuk bekerja, jadi alat ini mungkin tidak seserba guna oksigen terkompresi.

Terapi oksigen cair

Selain kedua metode di atas, pilihan lain yang tersisa adalah oksigen cair. Oksigen cair bisa berubah menjadi gas saat dikeluarkan dari wadahnya. Meskipun tidak membutuhkan tempat sebesar oksigen terkompresi, menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, pilihan ini cenderung lebih mahal. Apalagi, oksigen cair juga bisa menguap. Hal ini tentu bisa saja menyebabkan persediaannya mungkin tidak akan bertahan selama bentuk terapi lainnya.

Selain terapi oksigen untuk mengobati hipoksia, Anda juga mungkin membutuhkan obat-obatan penunjang lainnya, yaitu:

Advertisement
  • Obat tekanan darah
  • Obat jantung
  • Inhaler
  • Bronkodilator untuk melegakan saluran napas
  • Steroid untuk mengatasi peradangan di saluran napas

Jangan lupa juga untuk menghindari pemicunya…

Mengobati penyakit namun tetap dekat dengan faktor pemicunya akan membuat pengobatan Anda mungkin menjadi sia-sia. Itu sebabnya, menghindari penyebab terjadinya PPOK juga dapat membantu Anda terhindar dari eksaserbasi PPOK ataupun kondisi hipoksia. Beberapa faktor pemicu yang sebaiknya Anda hindari adalah:

  • Merokok
  • Asap rokok
  • Polusi udara
  • Bahan kimia atau debu di udara

PPOK tidak dapat disembuhkan, jadi penting untuk mengobati kondisi ini dengan benar untuk mencegah komplikasi. Gagal napas, yang merupakan kemungkinan komplikasi, adalah penyebab utama dari kematian akibat PPOK.

Jika Anda menderita hipoksia karena PPOK, mungkin saja Anda akan membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk mencegah komplikasi dari kekurangan oksigen. Mengobati rendahnya kadar oksigen dalam tubuh dapat benar-benar membantu Anda untuk lebih mudah bernapas dan memungkinkan Anda melakukan kegiatan sehari-hari. Terapi oksigen bahkan bisa membantu Anda tidur lebih nyenyak di malam hari. 

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Kabartangsel.com

Source

Advertisement
Nasional12 jam ago

Syahganda Nainggolan Tegaskan Arah Baru Komunikasi Bakom RI yang Lebih Terbuka, Dialogis dan Kolaboratif

Sport13 jam ago

BRI Super League 2026/2027, Hasil Persib vs Persik Kediri Skor 1-0

Sport14 jam ago

Hasil Persib Bandung vs Persik Kediri Skor 0-0 di Babak Pertama

Sport20 jam ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Minggu 18 Oktober 2026: Persebaya vs PSS Sleman, Persib vs Persik

Sport1 hari ago

Hasil Akhir Persita vs Persija Skor 3-2, Macan Kemayoran Kalah Perdana

Sport1 hari ago

Kekalahan Perdana Persija Jakarta di BRI Super League 2026-2027, Persita Menang Dramatis 3-2

Sport2 hari ago

Dramatis! Persita Tangerang Hajar Persija Jakarta 3-2

Sport2 hari ago

Hasil Persita Tangerang vs Persija Jakarta Imbang 1-1 di Babak Pertama

Sport2 hari ago

Persita Tangerang vs Persija Jakarta: Jadwal, Prediksi Skor, dan Head to Head di BRI Super League 2026/27

Sport2 hari ago

Jadwal BRI Super League Hari Ini, Sabtu 17 Oktober 2026: Garudayaksa FC vs Arema FC dan Persita vs Persija Jakarta

Nasional3 hari ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Dukung Ruang Ekspresi bagi Anak-Anak Disabilitas

Nasional3 hari ago

Grand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik

Nasional4 hari ago

Reshuffle Kabinet: Prabowo Subianto Lantik 4 Wamen, Kepala BNPB, dan Pimpinan BPGMN

Sport5 hari ago

Jadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober

Sport5 hari ago

Klasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak

Sport5 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta

Sport5 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda

Sport5 hari ago

Hasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta

Sport2 minggu ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport2 minggu ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Nasional3 minggu ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport3 minggu ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Nasional3 minggu ago

G30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia

Bisnis3 minggu ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Sport2 minggu ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Bisnis3 minggu ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Bisnis3 minggu ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis3 minggu ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Sport3 minggu ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Bisnis3 minggu ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Sport3 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Bisnis3 minggu ago

Bogasari Gelar Edukasi Cegah Stunting

Bisnis3 minggu ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Sport2 minggu ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Bisnis3 minggu ago

Saatnya Generasi Muda Berinvestasi Lebih Mindful

Nasional3 minggu ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Bisnis3 minggu ago

PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk di NTT

Sport2 minggu ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Nasional3 minggu ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Nasional3 minggu ago

Profil Suyudi Ario Seto, Putra Pandeglang Banten Disetujui DPR Jadi Calon Kapolri

Populer