Bisnis
Inggris dan Indonesia Berkolaborasi Dukung Entrepreneur Penyandang Disabilitas

Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, dan AlunJiva Indonesia kembali menghelat program “Tech to Empower Summit”. Program yang ketiga kalinya itu digelar pada pertengahan Januari ini (18/1) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Kali ini, tema yang diusung adalah ‘Kolaborasi Pentahelix Menuju Indonesia Inklusif’.
Program “Tech to Empower Summit” mendapat dukungan dari Komisi Nasional Disabilitas dan dihadiri oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Sejumlah kegiatan dan isu dibahas di sana. Mulai dari pelatihan keterampilan digital, personal branding dan strategi wawancara, yang semuanya melibatkan tokoh-tokoh industri, serta acara talkshow terkait karier dan networking. Secara paralel, diadakan pula job fair bersama 10 mitra perusahaan yang menawarkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Acara ini juga menyediakan wadah bagi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) penyandang disabilitas untuk memamerkan bisnis mereka.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini, diluncurkan juga panduan mengenai disabilitas, yang dikembangkan sebagai bagian dari program Tech to Empower. Panduan ini terdiri dari panduan untuk mempromosikan kesempatan kerja yang setara serta panduan untuk mendukung entrepreneur penyandang disabilitas.
Terinspirasi dari kepemimpinan Inggris dalam hal inklusi dan keberagaman, program Tech to Empower dikembangkan pada tahap awal pandemi Covid-19 dengan tujuan mendukung komunitas marginal di Indonesia. Fokus utamanya adalah meningkatkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, yang dibangun berdasarkan komitmen Inggris untuk mendorong peningkatan inklusi disabilitas.
Melalui inisiatif seperti program pelatihan kejuruan, peningkatan akomodasi tempat kerja, dan kolaborasi dengan dunia usaha, pemerintah Inggris, bersama dengan para mitranya, bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan kerja yang inklusif bagi para penyandang disabilitas. Dengan melakukan hal ini, pemerintah Inggris berharap dapat berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia di Indonesia.
Sebanyak 950 penyandang disabilitas di seluruh Indonesia telah mengikuti program Tech to Empower sejak dimulai pada tahun 2020. Para peserta telah menjalani pelatihan keterampilan digital dan kewirausahaan, berpartisipasi dalam pameran UMKM untuk memamerkan bisnis mereka, dan juga job fair untuk pencari kerja penyandang disabilitas. Tahun ini, program secara resmi meluncurkan job fair dan pameran UMKM yang pertama kali diadakan secara luring pada cara Tech to Empower 2023 Summit. 1.000 penyandang disabilitas diundang untuk hadir secara luring dan daring.
Matthew Downing, Chargé d’Affaires Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, menuturkan, “Inisiatif Digital Access Programme Inggris, seperti Tech to Empower, memberikan peluang bagi industri, pemerintah, dan masyarakat untuk meniru praktik-praktik terbaik negara Inggris yang sukses dalam memprioritaskan inklusi disabilitas. Kegiatan ini menciptakan perubahan yang berarti dengan melibatkan pengusaha untuk mengadvokasi lingkungan kerja yang inklusif dan mudah diakses, sebagai upaya untuk menghilangkan hambatan dan memperjuangkan kontribusi yang berharga dari penyandang disabilitas dalam dunia kerja di seluruh Indonesia. Hal ini mengarah pada peningkatan kesempatan kerja yang setara bagi semua orang. Kami bangga dengan inisiatif ini dan akan terus bekerja sama dengan mitra kami di Indonesia untuk mengedepankan keberagaman dan inklusi dalam seluruh aspek kehidupan.”
Pada kesempatan yang sama, Fany Efrita, Co-Founder Alunjiva Indonesia, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan ekosistem Indonesia yang inklusif. “Melalui keterlibatan aktif para stakeholder dalam program Tech to Empower 2023 ‘Kolaborasi Pentahelix menuju Indonesia Inklusif’, kami berharap dapat membuka peluang untuk mendorong partisipasi digital, peningkatan kapasitas dan kesempatan kerja yang setara dan berdaya bagi penyandang disabilitas,” ucapnya.
Alunjiva Indonesia yang memiliki misi untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas penyandang disabilitas, lanjutnya, akan menjadi katalisator yang mendukung keterlibatan semua pihak secara bermakna untuk mewujudkan Indonesia inklusif karena setiap suara penting, dan tidak ada satupun yang tertinggal.
Ikke Meiliasari, peserta Tech To Empower 2023, mengaku, “Saya seorang penyandang disabilitas buta. Saya membuka usaha terapi pijat di rumah. Syukurlah setelah mengikuti pelatihan TTE 2023, ada peningkatan pendapatan usaha saya, dan semakin membaik karena ilmu yang saya peroleh selama pelatihan, khususnya ilmu terkait digital entrepreneurship, langsung saya terapkan pada keterampilan yang saya miliki. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada AlunJiva Indonesia dan UK Indonesia Tech Hub yang peduli terhadap kami para penyandang disabilitas, sehingga para penyandang disabilitas dapat berdaya.”
(rls/MC)
Bisnis7 hari agoBRI Life Gelar “The Board’s Charity Engagement”
Tangerang Selatan2 hari agoIndah Kiat Tangerang Santuni Anak Yatim di Pondok Aren dan Kelapa Dua
Lifestyle4 hari ago7 Alasan Kenapa Kamu Harus Mengunjungi Songkran Festival
Bisnis7 hari agoGerakan Masjid Bersih 2026, Wipol Bersihkan 54.000 Masjid
Bisnis7 hari agoEllips Luncurkan Varian Hair Mist-Mist Me Up
Nasional7 hari agoSelama Ramadan, AQUVIVA Hadirkan Sejuknya Air Mineral ke 321 Masjid di Indonesia
Hukum7 hari agoLewat Apel Siaga Kamtibmas, Polres Tangsel Gaungkan “Jaga Warga – Jaga Tangsel”
Nasional7 hari agoPerkuat Layanan Inklusif, Bandara I Gusti Ngurah Rai Dukung Program Travel Rehearsal Emirates bagi Anak Neurodiverse di Bali

















