Produksi garam nasional saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri baik dari segi kualitas maupun kuantitas sehingga diperlukan importasi garam industri untuk memenuhi kebutuhan industri dalam jangka pendek.
Pemerintah, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, mengizinkan importasi garam hanya untuk kebutuhan industri. Kementerian Perindustrian akan memberikan rekomendasi dan mengawasi secara ketat importir garam tersebut.
“Industri-industri yang untuk makanan dan industri yang membutuhkan garam industri itu mereka mengimpor langsung dengan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian,” kata Luhut kepada usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) melalui konferensi video mengenai Percepatan Penyerapan Garam Rakyat, Senin (5/10) siang.
Kementerian Perindustrian, lanjutnya, akan melakukan pendataan dan menyampaikan ke publik data industri yang melakukan impor tersebut. “Yang paling tahu ini adalah Menteri Perindustrian, berapa industri yang membutuhkan garam industri, dan berapa jumlah yang mereka butuhkan. Nanti akan diinventarisasi dan diterbitkan ke publik sehingga publik akan ikut mengawasi,” kata Luhut.
Menko Marves tegas mengingatkan, pemerintah akan mencabut izin impor bagi pengimpor yang melanggar peruntukan garam industri tersebut. “Kalau dia nanti mengimpor dan menjual ke luar, itu nanti akan dicabut izinnya atau ada tindakan sanksi dari Kementerian Perindustrian. Ini saya kira yang sangat esensial,” kata Luhut.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas tersebut telah memerintahkan jajarannya untuk melakukan langkah-langkah dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas garam rakyat sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri. Dalam Ratas tersebut Presiden menekankan pentingnya penggunaan teknologi.
“(Lahan garam) ini harus betul-betul diintegrasikan (dengan industri), harus terintegrasi dan ada ekstensifikasi. Penggunaan inovasi teknologi produksi terutama washing plantharus betul-betul kita kerjakan, sehingga pascaproduksi itu betul-betul bisa memberikan ketersediaan, terutama dalam gudang penyimpanan,” kata Presiden.
Diakui Presiden, tingkat produksi garam nasional saat ini masih rendah sehingga berdampak pada dilakukannya importasi untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek. “Sebagai contoh, dari kebutuhan garam nasional di tahun 2020 sebanyak 4 juta ton per tahun dan produksi garam nasional kita baru mencapai 2 juta ton. Akibatnya, alokasi garam untuk kebutuhan industri masih tinggi, yaitu 2,9 (juta) ton,” kata Kepala Negara. (rls/fid)
Tangsel4 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia
Pemerintahan4 minggu agoPemkot Tangsel Terima Reses DPRD Provinsi Banten, Bahas SPMB, Usulan Penambahan SMA Negeri hingga Pengendalian Banjir
Pemerintahan3 minggu agoDiskominfo Tangsel Bawa Semangat Kolaborasi Digital di Forum Komdigi APEKSI 2026
Pemerintahan3 minggu agoRakernas XVIII APEKSI 2026, Pilar Saga Ichsan: Forum Strategis Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah
Pemerintahan3 minggu agoPilar Saga Ichsan Tinjau Booth Paviliun Tangsel di APEKSI 2026
Tangerang Selatan4 minggu agoDara Swandana dan Aiman Rasyapradipta Rangkuti Wakili Tangsel di Youth City Changers APEKSI 2026
Pemerintahan4 minggu agoBenyamin Davnie: Pemkot Tangsel Dukung LANTIP Perkuat Program Kesehatan dan Pemberdayaan Lansia
Serba-Serbi2 minggu agoPerda Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2023: Di Wilayah yang Sudah Terpasang Jaringan, Kewajiban Menggunakan Layanan PAM Mulai Berlaku














