Pernah ada fase di mana orang NU tak berani mengaku NU. Jika berani mengaku NU, maka mereka yang sedang jadi pegawai negeri sipil (PNS) harus siap karirnya akan buntu, tak berkembang.
Jika berani mengaku NU atau ketahuan NU, maka mereka yang sedang mengajukan beasiswa studi ke luar negeri harus siap menghadapi syarat tambahan yang sulit dilaksanakan.
Jaman dulu rasanya sulit bagi orang NU hanya untuk menjadi kepala KUA dan kepala sekolah, apalagi menjabat eselon satu dan dua. Lebih-lebih untuk menjadi Ketua MUI dan Ketua PPP; sungguh tak mudah.
Tapi itu dulu. Sekarang dalam usianya yang ke 95, orang NU tak perlu menyembuyikan ke-NU-annya. Termasuk Anak PMII tak perlu menutupi ke-PMII-annya.
Sekiranya sebagian warga NU hari ini berkuasa, maka mereka tak perlu menyontoh kesalahan para pemimpin dan pejabat jaman dulu. Biarlah sektarianisme dan primordialisme itu terkubur bersama masa lalu. Mari kita menyongsong masa depan dengan kebersaman membangun peradaban.
Senin, 1 Februari 2021
Salam,
Abdul Moqsith Ghazali
Hukum2 hari agoPresiden Prabowo dan Seskab Teddy Disebut Jadi Target Penyadapan, Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Ditangkap
Nasional6 hari agoMA Kabulkan Kasasi Nomor 742 K/TUN/2026, Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka Dinyatakan Tidak Sah
Sport4 hari agoHasil Dewa United vs Persija 2-1, Shin Tae-yong Sebut Kekalahan Jadi Alarm untuk Macan Kemayoran
Sport4 hari agoJadwal BRI Super League 2026/2027 Hari Ini, Minggu 1 November: PSIM vs Borneo FC, Persib vs Isenmulang FC, dan Garudayaksa FC vs PSS Sleman
Sport5 hari agoHasil Persik Kediri vs Persita Tangerang: Pendekar Cisadane Bantai Tuan Rumah 1-5, Pablo Ganet Hattrick
Sport4 hari agoPersita Pesta Lima Gol di Kediri, Carlos Pena Puji Karakter Dan Mental Pemain
Banten5 hari agoPelatihan Hidroponik PD Wanita Islam Kota Serang, Manfaatkan Pekarangan Rumah Jadi Kebun Produktif
Nasional5 hari agoFISIP UIN Jakarta dan LW MUI Perkuat Kolaborasi Pengembangan Wakaf Produktif












