Pernah ada fase di mana orang NU tak berani mengaku NU. Jika berani mengaku NU, maka mereka yang sedang jadi pegawai negeri sipil (PNS) harus siap karirnya akan buntu, tak berkembang.
Jika berani mengaku NU atau ketahuan NU, maka mereka yang sedang mengajukan beasiswa studi ke luar negeri harus siap menghadapi syarat tambahan yang sulit dilaksanakan.
Jaman dulu rasanya sulit bagi orang NU hanya untuk menjadi kepala KUA dan kepala sekolah, apalagi menjabat eselon satu dan dua. Lebih-lebih untuk menjadi Ketua MUI dan Ketua PPP; sungguh tak mudah.
Tapi itu dulu. Sekarang dalam usianya yang ke 95, orang NU tak perlu menyembuyikan ke-NU-annya. Termasuk Anak PMII tak perlu menutupi ke-PMII-annya.
Sekiranya sebagian warga NU hari ini berkuasa, maka mereka tak perlu menyontoh kesalahan para pemimpin dan pejabat jaman dulu. Biarlah sektarianisme dan primordialisme itu terkubur bersama masa lalu. Mari kita menyongsong masa depan dengan kebersaman membangun peradaban.
Senin, 1 Februari 2021
Salam,
Abdul Moqsith Ghazali
Bisnis2 minggu agoLamiPak Indonesia Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di TOP CSR Awards 2026
Pemerintahan2 minggu agoPeringati Hari Lahir Pancasila, Benyamin Davnie Serukan Persatuan, Gotong Royong, dan Kepedulian Sosial
Bisnis4 minggu agoSharp Indonesia Ajak Masyarakat Berpartisipasi di “Run for the Future” tanggal 21 Juni 2026
Tangerang4 minggu agoPN Tangerang Kabulkan Gugatan Developer atas Sengketa Lahan di Kadu Jaya Curug
Bisnis4 minggu agoAQUVIVA Berangkatkan Umrah 3 Marbot Masjid dan 6 Pemenang Kejutan Tutup Botol Ramadan ke Tanah Suci
Bisnis4 minggu agoLay’s Jadi Sponsor Resmi FIFA World Cup 2026
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Hadirkan 5.000 Titik Internet Gratis, Jangkau 379 Masjid dan 376 Musala
Bisnis4 minggu agoKebijakan Bebas Pajak EV Dinilai Percepat Pertumbuhan SPKLU Swasta














