Serba-Serbi
Bos Huawei Mulai Geram Digempur AS, Optimistis Teknologinya Lebih Maju


Kabartangsel.com – Huawei telah mengalami masa-masa yang ‘sangat panas’ di Amerika Serikat (AS). Hal tersebut berimbas kepada tekanan berat bisnis mereka di banyak negara akibat pengaruh AS.
Sebagaimana dilansir dari laman AndroidAuthority, Rabu (20/2), pendiri Huawei, Ren Zhengfei tampaknya mulai geram dengan tindakan AS itu. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, dirinya optimistis bahwa AS tidak akan dapat menghentikan perjalanan perusahaan ke depannya.
“Tidak mungkin AS bisa menghancurkan kita,” kata Ren demikian. “Dunia tidak bisa meninggalkan kami karena kami lebih maju. Bahkan jika mereka membujuk lebih banyak negara untuk tidak menggunakan kami sementara waktu, kami selalu dapat mengatasinya,” tegasnya.
Komentar Ren Zhengfei Huawei itu guna merespons tindakan AS yang telah menekan sekutunya untuk berhenti menggunakan peralatan jaringan Huawei. Dia adalah Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo yang memperingatkan negara sekutu agar tidak menggunakan perangkat Huawei.
Menurutnya, hal itu akan mempersulit Washington dalam menjalin kerja sama, misalnya dalam bidang pertahanan. Pasalnya, Huawei dianggap sebagai mata-mata Tiongkok melalui produk teknologinya dalam hal ini adalah infrastruktur jaringan telekomunikasi.
Selain AS, Australia, dan Selandia Baru yang telah melarang Huawei menggelar jaringan 5G di negaranya, Kanada dan Inggris juga sedang melakukan evaluasi. Terkait hal tersebut, Ren Zhengfei yang tampaknya geram mencoba untuk tetap tenang.
“Jika cahaya mati di Barat, Timur akan tetap bersinar. Dan jika Utara menjadi gelap, masih ada Selatan. Amerika tidak mewakili dunia. Amerika hanya mewakili sebagian dari dunia,” tambah Ren.
Kegeraman Ren terjadi atas penangkapan CFO mereka Meng Whanzou yang juga putri Ren oleh otoritas di AS. Seperti disinggung di atas, masalah penangkapan tersebut dimulai atas kecurigaan AS terhadap Huawei berdasarkan dugaan sebagai mata-mata Tiongkok dan tuduhan pencurian rahasia dagang.
Ren Zhengfei juga membalas tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa pihaknya maupun pemerintah Tiongkok tidak akan meng-install backdoors ke perangkat Huawei sebagai upaya mata-mata. Huawei tidak akan mengambil risiko ‘jijik’ dari Tiongkok dengan taruhan pelanggan mereka di seluruh dunia.
Dirinya juga sesumbar bahwa Huawei akan menutup perusahaan jika tuduhan AS kepada Huawei terbukti benar. “Kami bersedia menutup perusahaan jika terlibat dalam kegiatan mata-mata,” jelasnya.
Sementara atas adanya informasi soal pekerja Huawei yang terafiliasi oleh Partai Komunis di Tiongkok, petinggi perusahaan juga membenarkan bahwa ada komite Partai Komunis di Huawei. Namun, hal itu memang diharuskan berdasarkan hukum untuk semua perusahaan yang beroperasi di Tiongkok.
Begitu juga perusahaan lain, seperti JD.com, Tencent, Baidu, dan Alibaba. Semua memiliki komite partai juga. Jadi adanya pekerja dari Komite Partai Komunis di Huawei bukanlah sebuah tindakan yang membawa pengaruh negatif bagi perusahaan Tiongkok itu.
(JPC)
Pemerintahan2 minggu agoParade Tank Meriahkan HUT ke-81 RI di Tangsel, Ribuan Warga Antusias Menyaksikan
Pemerintahan2 minggu agoPemkot Tangsel Gelar Renungan Suci di TMP Seribu
Pemerintahan2 minggu agoBenyamin Davnie Ajak Warga Tangsel Urus Tanah Warisan, Ada Diskon BPHTB 81 Persen
Sport2 minggu agoJadwal Dewata Challenge Series 2026: Bali United, Persib Bandung, dan Sabah FC
Pemerintahan2 minggu agoHUT ke-81 RI, Benyamin Davnie: Kedaulatan Dimulai dari Optimalisasi Potensi Tangsel
Serba-Serbi2 minggu agoApa Itu DESIL?
Pemerintahan2 minggu agoJelang HUT ke-81 RI, Pemkot Tangsel Terus Matangkan Persiapan Upacara Kemerdekaan
Pemerintahan2 minggu agoKemarau Panjang, Pilar Saga Ichsan: Pemkot Tangsel Salurkan 339.200 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan













































