Connect with us

Opini

Demokrasi dan Ranah Perjuangan Kultural

Oleh: @Verimuhlis * 

Pesta demokrasi sebentar lagi digelar. Komisi penyelenggara pemilu disibukkan dengan beberapa tugas dan persoalan yang belum selesai. Bak gayung bersambut, politik nasional hingar dengan persoalan siapa saja pasangan capres-cawapres yang layak diusung dan dimenangkan. Banyak nama bermunculan. Tiap partai mengukur diri, menjaring kekuatan, melakukan simulasi guna meracik kemungkinan-kemungkinan.

Namun di tengah itu, rupanya ada hal yang luput dari perhatian. Yakni, evaluasi non-teknis berkenaan dengan kualitas demokrasi sebagai sebuah sistem yang kita yakini hingga saat ini. Sejauh mana penerapan demokrasi telah kita jalani bersama? Apa saja masalah utama yang menjadi hambatannya? Sejauh mana pula demokrasi telah mengantarkan kita mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara?

Secara prosedural, mekanisme demokrasi lewat pemilu telah kesekian kali diselenggarakan. Namun secara substansial masih menjadi pergulatan yang sampai sekarang terus diupayakan. Irama apologetik yang sering diutarakan, bahwa untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah. Butuh pengorbanan dan kesabaran melalui proses yang cukup panjang. Tentunya, ini bukanlah alasan mendasar karena pada prinsipnya pencapaian suatu tujuan tergantung pada upaya yang dilakukan.

Advertisement

Selama ini, perhatian terhadap demokrasi banyak diarahkan pada wilayah permukaan seperti mekanisme pemilu demi lahirnya pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sementara struktur dalam (deep structure) demokrasi menyangkut nilai-nilai di mana masyarakat mampu berpartisipasi secara sadar dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan jarang mendapat perhatian.

Dalam praktik, seolah terdapat hubungan asimitris antara sistem dengan kultur masyarakat sehingga penerapan demokrasi terkesan dipaksakan. Apalagi perilaku elit politik memberi citra negatif seolah demokrasi hanya sebatas kebebasan mencapai kekuasaan dengan mengesampingkan nilai etika dan estetika. Asumsi yang timbul kemudian, saat pesta demokrasi berlangsung, kesan yang muncul adalah pesta sungguhan layaknya pesta penuh hidangan euphoria. Semua elit politik berlomba-lomba berbuat “baik” dengan berbagi sembako, sumbangan dan sebagainya.

 

Perjuangan Kultural

Advertisement

Ketimpangan antara sistem dan kultur sangat potensial bagi terjadinya destruksi yang merusak tatanan demokrasi. Kondisi demikian bisa dimanfaatkan oleh beberapa elit tertentu untuk melakukan praktik yang bertentangan dengan nilai demokrasi. Misalnya, praktik money politic, transaksi jual beli suara atau dengan cara mendagangkan stigma seperti agama dan ikatan primordial lainnya. Meski untuk yang terakhir tidak terlalu kentara, masyarakat jelas akan menjadi korban permainan elit politik yang jauh dari cita-cita ideal demokrasi.

Oleh karena itu, sebagaimana diungkap Francis Fukuyama, harus ada hubungan simbiosis mutualis antara sistem dengan budaya masyarakat sebagai modal kultural demokrasi. Selama masyarakat hidup dalam budaya arsitokrasi atau feodalisme, hampir dipastikan demokrasi berjalan tidak efektif, tanpa terkendali. Demokrasi meniscayakan partisipasi penuh sehingga kualitasnya bergantung pada kualitas modal sosial yang ada di dalamnya. Begitu pula kualitas pemimpin yang dilahirkan dari rahim demokrasi sangat bergantung pada kualitas pemilih.

Karena suatu sistem erat kaitannya dengan budaya masyarakat, maka satu-satunya jalan menyelamatkan kualitas demokrasi adalah melalui perjuangan kultural. Yaitu, perjuangan yang termanifestasi dalam gerakan moral yang mengarahkan masyarakat ke arah nilai sesuai dengan substansi dan tujuan demokrasi. Tentu semuanya harus beroperasi dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan sebagaimana termuat dalam Pancasila.

Perjuangan kultural berbeda dengan perjuangan politik yang bersifat struktural. Jika perjuangan politik-struktural selalu dikaitkan dengan konsep dan jabatan, akuisisi kekuasaan (acquisition of power) atau bagi-bagi kekuasaan (sharing of power), perjuangan kultural lebih kepada perberdayaan politik (political empowerment)  sebagai kekuatan kontrol atas proses demokratisasi. Perjuangan kultural bertumpu pada gerakan kelompok civil society yang berperan dalam mencerdaskan masyarakat.

Advertisement

Hal itu biasanya dilakukan oleh lembaga pendidikan, LSM, organsiasi masyarakat, media massa dan lain sebagainya. Hanya saja yang menjadi persoalan hingga kini adalah efektifitas dari kekuatan demokrasi tersebut, terutama ketika dihadapkan pada persoalan capital sebagai tulang punggung organisasi. Bila persoalan itu tidak segera dibenahi, kemungkinan besar dapat melibas independensi organisasi sehingga ikhtiar menuju emansipasi terjebak dalam lingkaran absurd.

Check and Balances                 

Penguatan peran dan fungsi kultural oleh kalangan masyarakat sipil diharapkan dapat mengimbangi realitas puncak politik kekuasaan. Sebab tanpanya, laju kekuasaan akan selalu berjarak dengan kehendak bersama. Dinamika demokrasi pun akan diwarnai oleh—meminjam istilah Alexis de Tocqueville—“tirani mayoritas”. Yaitu, suatu kecenderungan melegitimasi kekuasaan dengan memanfaatkan anggapan bahwa “suara rakyat (mayoritas) suara Tuhan”.

Padahal, istilah mayoritas perlu ditelusuri lebih jauh dengan cara mengaitkannya dengan kualitas, baik kualitas pemilih maupun langkah kebijakan yang akan diambil oleh penguasa. Bisa jadi suara mayoritas sudah dibeli sebelumnya. Bisa jadi pula suara mayoritas ditipu oleh pencitraan semu dan palsu. Dengan kata lain, setiap sesuatu yang disandarkan pada ukuran mayoritas tak sepenuhnya baik untuk kepentingan bersama maupun bagi kualitas demokrasi itu sendiri.

Advertisement

Maka pada tahap itulah diperlukan peran nyata lewat perjuangan kultural dengan mengarahkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kesadaran palsu (false consciousness), terbuai janji manis kaum elit, rayuan iming-iming duit, dan seterusnya. Pengarahan itu dilakukan tidak lain untuk menggapai hukum perubahan yang teratur (orderly change) dan direncanakan. Perubahan yang mengambil bentuk pergerakan buttom up sehingga benar-benar merepresentasikan suara Tuhan.

Akhirnya, pemilu tahun 2009 menjadi pelajaran nyata bagi setiap insan demokrasi untuk kembali memperkuat peranan kultural di tengah puncak pragmatisme politik, puncak keberhasilan ilmu dan seni pencitraan. Sebuah peran yang mirip “polisi demokrasi” di tengah dinamika politik yang timpang.

* H.Veri Muhlis Arifuzzan (Ketua GEMA MKGR Banten dan Ketua Perhimpunan Menata Tangsel)

Advertisement
Sport3 jam ago

Hasil Persija vs Persik 2-1, Macan Kemayoran Tetap di Puncak Klasemen BRI Super League 2026/2027

Jabodetabek9 jam ago

Bobotoh Meninggal Dunia Usai Nonton Persib vs Garudayaksa FC di Pakansari Bogor

Sport11 jam ago

Jadwal BRI Super League 2026/27, Selasa 27 Oktober: PSS Sleman vs Borneo FC Samarinda

Sport11 jam ago

Prediksi Persija vs Persik Kediri di BRI Super League 2026/2027, Macan Kemayoran Diunggulkan

Sport11 jam ago

Persija vs Persik Kediri, Shin Tae-yong Bidik Tiga Poin di JIS

Sport12 jam ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Senin 26 Oktober: Persebaya vs Madura United, Bhayangkara FC vs PSM Makassar, dan Persija vs Persik

Sport1 hari ago

Hasil Garudayaksa FC vs Persib Bandung 1-2

Sport1 hari ago

Arema FC Hajar Dewa United 4-0, Kekalahan Perdana Banten Warriors di BRI Super League 2026/27

Sport1 hari ago

Hasil Arema vs Dewa United 4-0 di BRI Super League 2026/27 Pekan ke-7

Sport1 hari ago

Hasil Pertandingan Persita Tangerang Vs Bali United Berakhir 1-1

Nasional3 hari ago

4 Pernyataan Sikap MUI Soal Konser Andrea Bocelli di Indonesia

Tangerang Selatan3 hari ago

Warga Kelurahan Kranggan Apresiasi Program Penataan Kawasan Kumuh Tangsel

Nasional3 hari ago

Sambut Konser Andrea Bocelli, Pemuda Ekonomi Syariah Dorong Sinergi Musik, Pendidikan, dan Ekonomi Kemanusiaan

Jabodetabek3 hari ago

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Asta Cita Prabowo Penting untuk Generasi Mendatang

Jabodetabek3 hari ago

Wakil Ketua Umum ISNU Fadli Yasir Sambut Baik Konser Andrea Bocelli di Indonesia

Pemerintahan4 hari ago

Bali Tech Week 2026, Diskominfo Tangsel Dukung Transformasi Digital

Pemerintahan4 hari ago

Cegah TPPO, Pemkot Tangsel Terus Perkuat Edukasi dan Kewaspadaan Masyarakat

Pemerintahan4 hari ago

Diskominfo Tangsel Gandeng Onno W Purbo Gelar Pelatihan AI bagi Ibu-Ibu

Pemerintahan4 hari ago

Pemkot Tangsel Tunda Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya, Penutupan Jalan Belum Berlaku

Nasional5 hari ago

Prof Asep Saepudin Jahar: Santri Bukan Penonton, Harus Jadi Penggerak Perubahan Bangsa

Sport3 minggu ago

38 Peserta League Cup 2026/27

Sport3 minggu ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Sport2 minggu ago

Hasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta

Sport2 minggu ago

Hasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta

Sport2 minggu ago

Hasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda

Nasional2 minggu ago

Grand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik

Sport2 minggu ago

Klasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober

Sport3 minggu ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport3 minggu ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Sport1 minggu ago

Dramatis! Persita Tangerang Hajar Persija Jakarta 3-2

Jabodetabek3 hari ago

Wakil Ketua Umum ISNU Fadli Yasir Sambut Baik Konser Andrea Bocelli di Indonesia

Sport1 minggu ago

Hasil Persita Tangerang vs Persija Jakarta Imbang 1-1 di Babak Pertama

Nasional2 minggu ago

Reshuffle Kabinet: Prabowo Subianto Lantik 4 Wamen, Kepala BNPB, dan Pimpinan BPGMN

Nasional2 minggu ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Dukung Ruang Ekspresi bagi Anak-Anak Disabilitas

Sport1 minggu ago

Hasil Akhir Persita vs Persija Skor 3-2, Macan Kemayoran Kalah Perdana

Sport1 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Minggu 18 Oktober 2026: Persebaya vs PSS Sleman, Persib vs Persik

Sport1 minggu ago

Kekalahan Perdana Persija Jakarta di BRI Super League 2026-2027, Persita Menang Dramatis 3-2

Sport1 minggu ago

BRI Super League 2026/2027, Hasil Persib vs Persik Kediri Skor 1-0

Sport1 minggu ago

Jadwal BRI Super League Hari Ini, Sabtu 17 Oktober 2026: Garudayaksa FC vs Arema FC dan Persita vs Persija Jakarta

Populer