Connect with us

Opini

Anak Remaja Makin Jarang Bercerita? Jangan-Jangan yang Dibutuhkan Bukan Nasihat, tetapi Kehadiran

Oleh: Dessy Natalia
(Mama dari dua anak remaja dan mahasiswa Magister Psikologi yang sedang belajar memahami dunia remaja)

 

“Bagaimana sekolah hari ini, Nak?”

“Biasa aja.”

Advertisement

“Capek?”

“Enggak.”

Lalu anak masuk kamar, mengambil ponsel, dan kembali ke dunianya.

Pemandangan seperti ini mungkin tidak asing bagi banyak orang tua di Tangerang Selatan. Di tengah kesibukan keluarga di kawasan BSD, Serpong, Pamulang, Ciputat, dan sekitarnya, orang tua sering kali mendapati anak yang dahulu banyak bercerita kini semakin pendiam.

Advertisement

Sebagai mama dari dua anak remaja, saya pun pernah bertanya-tanya: mengapa sekarang jawaban anak terasa semakin pendek? Apakah mereka sedang menjauh? Apakah ada yang salah dengan hubungan kami?

Belum tentu.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin menarik bagi saya ketika saya mulai belajar psikologi. Saya menemukan bahwa mungkin persoalannya bukan sesederhana “anak sudah tidak mau dekat dengan orang tua”.

Memasuki masa remaja, anak memang mulai membutuhkan kemandirian. Teman sebaya semakin penting, dunia digital semakin dekat, dan mereka mulai membangun identitas diri. Namun, kebutuhan terhadap orang tua tidak hilang. Yang berubah adalah bentuk kebutuhannya.

Advertisement

Remaja bukan sekadar “anak yang banyak drama”

Remaja sering dianggap terlalu sensitif, mudah marah, atau banyak drama. Padahal, masa remaja merupakan periode penting untuk belajar mengelola emosi.

Dalam psikologi, regulasi emosi merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat.

Artinya, remaja tidak harus selalu tenang dan tidak boleh marah. Marah, sedih, kecewa, takut, dan frustrasi adalah emosi yang normal.

Advertisement

Yang penting adalah bagaimana ia merespons emosi tersebut.

Seorang remaja yang mendapat nilai buruk, misalnya, mungkin berkata, “Aku memang bodoh.”

Namun, dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, ia dapat belajar mengatakan, “Aku kecewa dengan nilai ini. Aku perlu melihat bagian mana yang belum kupahami dan mencoba lagi.”

Kemampuan tersebut tidak muncul begitu saja. Hubungan dengan orang tua merupakan salah satu konteks yang dapat mendukung perkembangan emosi remaja.

Advertisement

Penelitian Amira dan Mastuti (2021) terhadap remaja di Indonesia menemukan adanya hubungan antara parent attachment atau kelekatan dengan orang tua dan strategi regulasi emosi. Kelekatan yang lebih tinggi berkorelasi dengan kecenderungan menggunakan cognitive reappraisal, yaitu melihat kembali suatu situasi dan mencoba memaknainya dengan cara yang berbeda.

Namun, penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan berarti kelekatan orang tua secara langsung menyebabkan regulasi emosi menjadi lebih baik. Kesehatan mental remaja juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti tekanan akademik, hubungan dengan teman sebaya, pengalaman perundungan, media sosial, kondisi keluarga, dan karakteristik pribadi.

Anak tidak harus menceritakan semuanya

Kelekatan atau attachment sering dipahami sebagai ikatan emosional antara anak dan figur pengasuhnya.

Advertisement

Kelekatan yang aman bukan berarti orang tua dan anak tidak pernah bertengkar. Bukan juga berarti anak harus menceritakan semua masalah kepada orang tua.

Pertanyaannya sederhana.

Apakah anak merasa orang tuanya dapat dipercaya?

Apakah ia merasa didengarkan ketika berbicara?

Advertisement

Apakah ia merasa dipahami?

Atau justru merasa jauh dan tidak nyaman ketika berinteraksi dengan orang tua?

Karena itu, anak yang tidak banyak bercerita belum tentu tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Advertisement

Ketika hidup terasa berat, apakah anak masih merasa aman untuk datang kepada orang tuanya?

Rumah sebagai tempat bertumbuh

Perspektif psikologi positif mengajak kita tidak hanya bertanya apa yang salah dengan anak, tetapi juga melihat kekuatan dan kondisi yang membantu seseorang bertumbuh.

Dalam keluarga, pertanyaannya dapat diubah dari:

Advertisement

“Kenapa anak saya bermasalah?”

menjadi:

“Bagaimana saya dapat membantu anak saya berkembang?”

Orang tua tidak harus menjadi sempurna. Yang penting adalah terus membangun hubungan yang positif.

Advertisement

Ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, dengarkan sebelum memberi nasihat.

Ketika anak berkata, “Aku capek banget hari ini,” tidak selalu harus dijawab dengan ceramah.

Cobalah berkata:

Advertisement

“Kelihatannya hari ini berat ya. Mau cerita?”

Kadang-kadang anak tidak membutuhkan solusi. Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Kedua, terima emosinya, tetapi tetap arahkan perilakunya.

Orang tua dapat mengatakan:

Advertisement

“Mama mengerti kamu marah. Mama memahami kamu kecewa. Tetapi membentak bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah.”

Perasaan dapat diterima, tetapi perilaku tetap perlu diarahkan.

Ketiga, jangan setiap percakapan menjadi ceramah.

Jika setiap kali anak bercerita ia mendapatkan nasihat panjang, teguran, atau perbandingan dengan anak lain, lama-kelamaan ia mungkin memilih untuk tidak bercerita.

Advertisement

 

Keempat, bangun kedekatan melalui aktivitas sederhana.

Makan bersama, mengantar anak, berjalan-jalan, menonton film, memasak, atau sekadar duduk bersama dapat menjadi kesempatan membangun hubungan.

Kedekatan tidak selalu membutuhkan percakapan yang serius.

Advertisement

Kelima, berikan ruang tanpa menghilang.

Remaja membutuhkan privasi. Namun, memberikan ruang bukan berarti melepaskan anak.

Orang tua dapat mengatakan:

“Kalau kamu belum siap cerita sekarang, tidak apa-apa. Kalau nanti kamu siap, Mama ada di sini.”

Advertisement

Pesannya sederhana:

“Kamu boleh punya ruang, tetapi kamu tidak sendirian.”

Tidak semua “Biasa aja” berarti masalah

Mungkin suatu hari anak tidak lagi banyak bercerita.

Advertisement

Mungkin ia lebih banyak bersama teman-temannya.

Mungkin ia lebih sering berada di kamar.

Dan mungkin ketika ditanya bagaimana sekolahnya, jawabannya hanya:

“Biasa aja.”

Advertisement

Bisa jadi memang benar-benar biasa saja.

Masa remaja adalah proses menuju kemandirian. Karena itu, berkurangnya cerita tidak otomatis berarti hubungan dengan orang tua memburuk.

Yang penting adalah memastikan anak mengetahui bahwa ketika ia mengalami kegagalan, kekecewaan, ketakutan, atau kebingungan, rumah tetap menjadi tempat yang aman untuk kembali.

Kelekatan tidak dibangun melalui satu percakapan besar.

Advertisement

Ia dibangun melalui ratusan pengalaman kecil: ketika anak didengarkan, ketika emosinya dihargai, ketika kesalahannya diarahkan, ketika ia diberi ruang, ketika keberhasilannya diapresiasi, dan ketika ia mengetahui bahwa orang tuanya tetap hadir.

Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan membuat anak selalu bergantung kepada kita.

Tujuannya adalah membantu anak menjadi semakin mandiri, mampu mengelola emosinya, mengenali kekuatannya, membangun hubungan yang sehat, dan tetap mengetahui bahwa ketika ia membutuhkan tempat untuk pulang, pintunya selalu terbuka.

 

Advertisement

Referensi singkat

Amira, F. S., & Mastuti, E. (2021). Hubungan antara parent attachment dengan regulasi emosi pada remaja. Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental, 1(1), 837–843.

Armsden, G. C., & Greenberg, M. T. (1987). The inventory of parent and peer attachment: Individual differences and their relationship to psychological well-being in adolescence. Journal of Youth and Adolescence, 16(5), 427–454.

Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226.

Advertisement

Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.

 

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sport12 menit ago

Kekalahan Perdana Persija Jakarta di BRI Super League 2026-2027, Persita Menang Dramatis 3-2

Sport2 jam ago

Dramatis! Persita Tangerang Hajar Persija Jakarta 3-2

Sport3 jam ago

Hasil Persita Tangerang vs Persija Jakarta Imbang 1-1 di Babak Pertama

Sport8 jam ago

Persita Tangerang vs Persija Jakarta: Jadwal, Prediksi Skor, dan Head to Head di BRI Super League 2026/27

Sport8 jam ago

Jadwal BRI Super League Hari Ini, Sabtu 17 Oktober 2026: Garudayaksa FC vs Arema FC dan Persita vs Persija Jakarta

Nasional2 hari ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Dukung Ruang Ekspresi bagi Anak-Anak Disabilitas

Nasional2 hari ago

Grand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik

Nasional2 hari ago

Reshuffle Kabinet: Prabowo Subianto Lantik 4 Wamen, Kepala BNPB, dan Pimpinan BPGMN

Sport4 hari ago

Jadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober

Sport4 hari ago

Klasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak

Sport4 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta

Sport4 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda

Sport4 hari ago

Hasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta

Sport1 minggu ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport1 minggu ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Sport1 minggu ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Sport1 minggu ago

38 Peserta League Cup 2026/27

Nasional2 minggu ago

Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Rakabuming Raka, Gugatan Tak Diterima

Logo HUT ke-18 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Tahun 2026
Pemerintahan2 minggu ago

Karya Syifa Nabilah Azhari Jadi Pemenang Sayembara Logo HUT ke-18 Tangsel

Sport2 minggu ago

Ranking FIFA Timnas Indonesia Terbaru Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Nasional2 minggu ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Nasional2 minggu ago

G30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia

Sport2 minggu ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Bisnis2 minggu ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Sport2 minggu ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Bisnis2 minggu ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Bisnis2 minggu ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Gelar Edukasi Cegah Stunting

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Bisnis2 minggu ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Sport2 minggu ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Bisnis2 minggu ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Bisnis2 minggu ago

Saatnya Generasi Muda Berinvestasi Lebih Mindful

Nasional2 minggu ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Nasional2 minggu ago

Profil Suyudi Ario Seto, Putra Pandeglang Banten Disetujui DPR Jadi Calon Kapolri

Nasional2 minggu ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Nasional2 minggu ago

Pernyataan Lengkap Suyudi Ario Seto Usai Disetujui DPR RI untuk Jadi Kapolri

Bisnis2 minggu ago

PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk di NTT

Populer