Connect with us

Tokoh

Dirum Perseroda PITS: Agus Supadmo, Aktivis yang Memilih Pulang dan Bekerja untuk Kotanya

Agus Supadmo SE, M.Si.

Agus Supadmo saat ini menjabat sebagai Direktur Umum Perseroda PITS, ia memiliki pengalaman luas di bidang manajemen operasional, keuangan, logistik, dan pengembangan bisnis. Agus Supadmo telah meniti karier di berbagai sektor, baik swasta maupun pemerintahan.

Karier profesionalnya dimulai sebagai Surveyor di PT Putra Surya Multidana (1996–1998). Selanjutnya, ia mengembangkan kompetensi di bidang pemasaran dan operasional sebagai Marketing & Sales Supervisor di PT Daikin Clutch Indonesia (1998–2004), Marketing & Sales Manager di PT Padan Lima Sedarum (2004–2006), serta Manager Operasional di PT Panca Mitra Dinamis (2006–2009).

Pengabdiannya di sektor publik dimulai saat bergabung dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ia bertugas di Divisi Keuangan, Umum, Logistik, dan SDM KPU Kota Tangerang Selatan (2010–2013), kemudian melanjutkan karier di Divisi Keuangan, Umum, dan Logistik KPU Provinsi Banten (2013–2018).

Selanjutnya, Agus dipercaya menjabat sebagai Manager Pengembangan Bisnis PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (2019–2020), kemudian sebagai Kepala Divisi Pengelolaan Air Minum (2020–2022). Pada periode 2022–2023, ia juga mengemban amanah sebagai Komisaris PT Pasar Tangsel Mandiri.

Advertisement

Di luar karier profesional, Agus aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pengembangan kebijakan publik. Berbagai peran strategis yang pernah diembannya antara lain sebagai Wakil Koordinator Harian Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Situ Gintung, Koordinator Tim Penyusun Buku Selayang Pandang Kota Tangerang Selatan (2009), Koordinator Tim Penyusun Modul Sosialisasi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (2010), serta Anggota Tim Seleksi Calon Anggota KPU Provinsi Banten (2023).

Dari Alam, Watak Itu Dibentuk

Orang sering melihat perjalanan seseorang dari jabatan terakhirnya. Padahal, untuk memahami Agus Supadmo, atau yang akrab disapa Padmo, barangkali kita harus kembali jauh ke belakang, ke masa ketika ia masih menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta dan aktif sebagai pecinta alam. Di sanalah sebagian wataknya dibentuk. Dunia pecinta alam mengajarkan seseorang hidup bersama kelompok, berjalan dalam keadaan yang tidak selalu nyaman, mengambil keputusan ketika keadaan berubah, menjaga kawan, dan memahami bahwa perjalanan panjang hampir tidak pernah bisa diselesaikan sendirian. Di gunung, orang yang paling hebat bukan selalu mereka yang berjalan paling cepat. Kadang yang paling dibutuhkan justru orang yang tahu kapan harus memimpin, kapan harus menunggu, dan kapan harus memastikan tidak ada kawan yang tertinggal.

Nilai-nilai itu rupanya terus terbawa dalam perjalanan hidup Padmo. Bertahun-tahun setelah masa mahasiswa berlalu, hubungannya dengan dunia pecinta alam UMJ tidak benar-benar putus. Ia tetap menjadi bagian dari keluarga besar yang pernah membentuknya. Padmo pernah berbicara tentang tiga hal yang menurutnya penting dalam kehidupan organisasi: loyalitas, kekeluargaan, dan prestasi. Tiga kata yang sederhana, tetapi cukup menggambarkan cara ia memandang sebuah kelompok. Loyalitas tanpa prestasi hanya akan membuat organisasi nyaman dengan dirinya sendiri. Prestasi tanpa kekeluargaan membuat organisasi kehilangan jiwa. Sedangkan kekeluargaan tanpa loyalitas mudah pecah ketika masalah datang. Barangkali karena itulah, di mana pun berada, Padmo selalu berusaha menjadi bagian dari lingkungan, bukan sekadar seseorang yang datang karena memiliki jabatan.

Dunia Kerja Tak Mematikan Jiwa Aktivis

Selepas kuliah, Padmo masuk ke dunia profesional. Ia sempat bekerja di sejumlah perusahaan, termasuk Astra. Dunia kerja memberinya pelajaran yang berbeda dari dunia aktivisme. Jika organisasi mahasiswa mengajarkan keberanian bersuara, perusahaan mengajarkan disiplin. Jika alam mengajarkan solidaritas, dunia korporasi mengajarkan target, struktur, waktu, dan tanggung jawab. Dua dunia itu tampak berbeda, tetapi sesungguhnya sama-sama membentuk watak seseorang. Aktivisme tanpa disiplin mudah berubah menjadi kegaduhan, sementara disiplin tanpa keberanian sering hanya melahirkan orang-orang yang pandai mengikuti keadaan.

Advertisement

Ada orang yang setelah masuk dunia perusahaan menjadi sepenuhnya orang perusahaan. Ada pula yang tetap menyimpan kegelisahan seorang aktivis. Padmo tampaknya termasuk yang kedua. Kehidupan profesional tidak mematikan keinginannya untuk terlibat dalam urusan publik. Jiwa aktivis yang tumbuh sejak masa mahasiswa kemudian membawanya masuk ke sebuah dunia yang jauh lebih riuh, lebih keras, dan penuh kepentingan: dunia kepemiluan.

Dari Pilkada Pertama Tangsel ke KPU Provinsi Banten

Setidaknya sejak 2010, Agus Supadmo telah menjadi bagian dari KPUD Kota Tangerang Selatan. Ia membidangi sosialisasi dan pencalonan, sebuah posisi yang menempatkannya langsung di tengah denyut demokrasi kota yang ketika itu masih sangat muda. Tangsel baru saja berdiri sebagai daerah otonom. Institusinya sedang dibangun, identitas kotanya sedang dicari, dan untuk pertama kalinya masyarakat akan memilih pemimpin daerahnya sendiri. Di tengah suasana seperti itulah Padmo menjadi bagian dari penyelenggara Pilkada pertama Kota Tangerang Selatan.

Pilkada pertama Tangsel bukan kontestasi yang sederhana. Persaingan politik berlangsung keras, perhatian publik sangat besar, dan prosesnya bahkan berlanjut hingga sengketa di Mahkamah Konstitusi. Bagi seorang penyelenggara pemilu, pengalaman semacam itu tentu bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan sekolah politik yang sesungguhnya. Di sana Padmo belajar bahwa demokrasi tidak hanya hidup dalam pidato tentang rakyat. Demokrasi juga hidup dalam daftar pemilih, surat suara, aturan pencalonan, sosialisasi kepada masyarakat, keberatan peserta, tekanan politik, protes, dan keputusan-keputusan yang harus diambil ketika hampir semua pihak merasa memiliki kebenaran masing-masing.

Seorang penyelenggara pemilu dituntut berdiri di tengah, tetapi berdiri di tengah tidak selalu berarti berada di tempat yang nyaman. Justru orang yang berada di tengah sering menerima tekanan dari berbagai arah. Dunia pemilu mengajarkan bahwa keputusan harus dibuat berdasarkan aturan dan diambil pada waktunya. Terlambat mengambil keputusan kadang bisa sama buruknya dengan mengambil keputusan yang salah. Barangkali dari pengalaman panjang inilah salah satu watak Padmo semakin terbentuk: tegas dalam hal yang dianggap prinsip dan menghargai waktu.

Advertisement

Pengalaman di KPUD Tangsel juga memperluas cakrawala pergaulannya. Ia berhadapan dengan politisi, birokrat, aktivis, wartawan, akademisi, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok yang kepentingannya tidak selalu berjalan ke arah yang sama. Dari kota yang masih muda itu, langkah Padmo kemudian naik ke tingkat provinsi. Pada 2013, ia dipercaya menjadi anggota KPU Provinsi Banten untuk periode 2013–2018. Jika sebelumnya ia melihat demokrasi dari dekat dalam ruang sebuah kota, kini cakrawalanya menjadi jauh lebih luas.

Banten memiliki karakter politik yang kompleks. Wilayahnya membentang dari kawasan metropolitan yang berhimpitan dengan Jakarta hingga daerah-daerah dengan karakter sosial, ekonomi, dan politik yang sangat berbeda. Menjadi komisioner KPU Provinsi Banten berarti berhadapan dengan wilayah yang lebih luas, kepentingan yang lebih beragam, dan tekanan politik yang tentu tidak lebih ringan. Padmo menjalani dunia kepemiluan dari Tangsel hingga Banten, dari penyelenggaraan pilkada di sebuah daerah otonom yang masih muda hingga berada dalam struktur penyelenggara pemilu tingkat provinsi.

Pengalaman itu dengan sendirinya membentuk jaringan yang luas. Namun jaringan, seperti pisau, bergantung pada tangan yang memegangnya. Ia bisa digunakan hanya untuk membuka pintu bagi diri sendiri, tetapi bisa pula digunakan untuk mempermudah pekerjaan, mempertemukan orang-orang, dan menyelesaikan persoalan yang tidak selalu bisa selesai hanya melalui surat resmi. Ketika masa tugasnya sebagai Komisioner KPU Provinsi Banten berakhir pada 2018, Padmo telah melewati hampir satu dekade dalam dunia kepemiluan. Ia pernah berdiri di tengah kerasnya Pilkada Tangsel, lalu melihat demokrasi dari ruang yang lebih luas di tingkat Provinsi Banten. Bagi sebagian orang, pengalaman sebagai komisioner tingkat provinsi mungkin menjadi alasan untuk terus mengejar jabatan publik yang lebih tinggi. Padmo justru mengambil jalan lain. Ia memilih pulang dan bekerja untuk kotanya.

Dari Komisioner Provinsi Menjadi Pegawai BUMD

Setelah menyelesaikan tugasnya di KPU Provinsi Banten, Padmo bergabung dengan PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan atau PITS. Pilihan itu terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mengatakan banyak hal. Tidak semua orang yang pernah duduk sebagai komisioner tingkat provinsi bersedia kembali masuk ke sebuah perusahaan daerah sebagai pegawai. Jabatan kadang meninggalkan candu yang tidak terlihat. Seseorang bisa selesai dari jabatan, tetapi belum tentu jabatan selesai dari dirinya. Ada orang yang setelah pernah duduk di kursi tinggi merasa semua kursi setelahnya terlalu rendah.

Advertisement

Padmo memilih jalan berbeda. Ia tidak merasa pengalaman sebagai komisioner KPU Provinsi Banten membuat dirinya terlalu besar untuk menjadi pegawai BUMD. Ia masuk ke PITS, bekerja, menjalani proses, dan menempati berbagai bagian serta divisi. Ia tidak datang dengan tuntutan agar masa lalunya selalu dihormati dengan jabatan tinggi. Ada kerendahan hati dalam pilihan seperti itu. Sebab ukuran seseorang bukan hanya seberapa tinggi kursi yang pernah didudukinya. Kadang ukuran yang lebih jujur justru terlihat ketika kursi itu sudah tidak ada: apakah ia masih sanggup bekerja, menerima proses, dan memulai kembali.

Pengalaman panjang dan jaringan yang dimilikinya secara alamiah membuat Padmo menjadi salah satu pegawai senior yang disegani. Bukan hanya karena ia pernah menjadi komisioner provinsi, tetapi karena ia telah melewati banyak dunia. Ia mengenal aktivisme, pernah bekerja di perusahaan besar, memahami penyelenggaraan pemilu, hidup dalam organisasi, dan kemudian belajar mengenai perusahaan daerah dari dalam. Berbagai bagian dan divisi pernah ditempatinya sehingga ia tidak mengenal perusahaan hanya dari satu meja.

Senior yang Tidak Membuat Jarak

Senioritas punya dua wajah. Ada orang yang merasa senior lalu menciptakan jarak, ada pula yang menggunakan pengalaman untuk menjadi tempat bertanya. Padmo lebih dikenal sebagai tipe kedua. Wataknya tegas dan dalam soal yang dianggap prinsip ia bisa keras, tetapi ketegasan itu tidak membuatnya membangun tembok dengan pegawai lain. Ia mau berbaur, mau duduk bersama, mau bercanda, dan tidak selalu membawa jabatan ke meja pergaulan. Karena itu, di lingkungan kerja ia secara alamiah menjadi sosok kakak bagi banyak pegawai.

Ia bisa berbeda pendapat tanpa harus memutus pergaulan. Ia bisa menegur tanpa kehilangan kemampuan untuk kembali duduk bersama. Dalam sebuah perusahaan yang dihuni orang-orang dengan usia, latar belakang, kepentingan, dan karakter berbeda, kemampuan seperti itu sering kali lebih berharga daripada sekadar kecakapan administratif. Organisasi tidak hanya hidup karena struktur, tetapi juga karena hubungan antarmanusia di dalamnya. Peraturan bisa membuat orang datang ke kantor, tetapi rasa saling percaya yang membuat mereka mau bekerja bersama.

Advertisement

Salah satu ciri yang melekat pada Padmo adalah soal waktu. Ia dikenal tepat waktu. Bagi sebagian orang, datang tepat waktu mungkin hanya kebiasaan kecil, tetapi sesungguhnya waktu adalah bentuk penghormatan paling sederhana kepada orang lain. Terlambat tanpa alasan berarti membuat orang lain menunggu, dan membuat orang lain menunggu berarti menganggap waktu kita lebih berharga daripada waktu mereka. Barangkali pengalaman hidupnya membentuk kebiasaan itu. Di alam, terlambat bisa membuat rombongan kehilangan cahaya. Di perusahaan, terlambat bisa membuat pekerjaan berantakan. Dalam pemilu, terlambat mengambil keputusan bisa memunculkan persoalan besar. Padmo hidup cukup lama dalam tiga dunia itu.

Belajar Perusahaan dari Banyak Ruang

Di PITS, Padmo mengalami sendiri bagaimana kebijakan dari atas diterjemahkan menjadi pekerjaan di bawah, bagaimana pegawai menghadapi tekanan, bagaimana keputusan manajemen diterima, dan bagaimana sebuah BUMD harus berhadapan dengan harapan pemerintah sekaligus tuntutan masyarakat. Ia belajar perusahaan bukan dari buku, bukan pula hanya dari laporan dan presentasi, melainkan dari pekerjaan sehari-hari. Ia mengenal perusahaan dari banyak ruang dan, karena itu, memahami bahwa organisasi sering kali terlihat berbeda tergantung dari kursi mana seseorang memandangnya.

Ketika PITS membentuk anak usaha yang bergerak dalam pengelolaan pasar, Padmo mendapat kepercayaan menjadi komisaris. Kepercayaan itu membuka babak lain dalam perjalanannya. Dari seorang pegawai, ia masuk ke ruang pengawasan perusahaan. Namun perusahaan daerah tidak pernah hidup di ruang hampa. Arah kebijakan berubah, kebutuhan kota berkembang, dan struktur usaha harus menyesuaikan diri.

Ketika PITS kemudian diarahkan bertransformasi menjadi BUMDAM, Badan Usaha Milik Daerah Air Minum, pengelolaan pasar tidak lagi sejalan dengan arah utama perusahaan. Pasar kemudian harus diserahkan kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk dipersiapkan menjadi perseroda tersendiri. Perubahan itu bukan sekadar soal memindahkan satu unit usaha, melainkan bagian dari perubahan besar arah perusahaan. PITS bergerak menuju fokus yang lebih tegas pada pelayanan air minum, sementara pengelolaan pasar disiapkan memiliki rumah kelembagaannya sendiri.

Advertisement

Perubahan itu menutup satu bab dalam perjalanan Padmo, tetapi membuka bab berikutnya. Setelah menjalani peran sebagai pegawai dan komisaris anak usaha, Padmo kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Perusahaan PITS. Posisi ini bukan sekadar mengurus surat, rapat, dan administrasi. Sekretaris perusahaan berada di persimpangan banyak kepentingan. Ia berhubungan dengan direksi, komisaris, pemegang saham, pemerintah daerah, pegawai, mitra, dan publik. Ia harus memahami organisasi sekaligus tahu bagaimana organisasi menjelaskan dirinya kepada dunia luar.

Posisi itu menuntut seseorang tahu kapan harus bicara dan, yang lebih sulit, kapan harus mendengar. Seluruh pengalaman Padmo seperti bertemu di titik itu. Aktivisme memberinya keberanian, dunia perusahaan memberinya disiplin, KPU memberinya pengalaman kelembagaan dan jaringan, organisasi memberinya kemampuan bergaul, sedangkan bertahun-tahun bekerja di PITS memberinya pemahaman tentang denyut perusahaan dari dalam.

Dari Pegawai Menuju Ruang Direksi

Ketika pada 2025 dibuka seleksi untuk jabatan Direktur Umum Perseroda PITS, Padmo ikut dalam proses tersebut. Ia bukan calon tunggal dan harus melewati tahapan seleksi bersama peserta lain. Namun ia datang dengan modal yang tidak bisa dibangun dalam semalam: pengalaman mengenal perusahaan dari berbagai sisi. Ia bukan orang luar yang baru mengenal PITS dari laporan tahunan atau bahan presentasi. Ia pernah menjadi pegawai yang menerima keputusan, bekerja di berbagai bagian, menjadi komisaris anak usaha yang menjalankan fungsi pengawasan, dan menjadi sekretaris perusahaan yang berdiri di antara manajemen, pemegang saham, pegawai, serta publik.

Padmo akhirnya lolos dan dipercaya menjadi Direktur Umum. Perjalanan dari pegawai menuju direksi membuat kisah Agus Supadmo menarik, bukan semata-mata karena kenaikan jabatannya, tetapi karena jalan panjang yang mendahuluinya. Ia pernah berada di luar perusahaan dengan jabatan publik yang prestisius, lalu bersedia masuk dan bekerja sebagai pegawai. Ia menjalani proses, mengenal organisasi dari bawah, berpindah ruang, menerima tanggung jawab, dan baru kemudian sampai di jajaran direksi.

Advertisement

Ada orang yang datang ke perusahaan langsung dari pintu atas. Padmo masuk dari pintu yang lain dan berjalan melewati lorong-lorongnya lebih dulu. Karena itu, ketika akhirnya duduk di jajaran direksi, ia membawa pengalaman yang berbeda. Ia pernah merasakan bagaimana keputusan manajemen dilihat dari bawah, bagaimana pengawasan dijalankan dari kursi komisaris, dan bagaimana kepentingan yang berbeda harus dijembatani dari posisi sekretaris perusahaan. Pengalaman seperti itu tidak otomatis membuat seseorang berhasil, tetapi setidaknya membuatnya sulit beralasan bahwa ia tidak memahami perusahaan yang kini ikut dipimpinnya.

Aktivis yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Di luar pekerjaan, jejak aktivisme Padmo juga tidak pernah benar-benar hilang. Ia dikenal aktif di lingkungan Muhammadiyah dan tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kampus, pecinta alam, Muhammadiyah, dunia kepemiluan, pemerintahan kota, dan perusahaan daerah menjadi lingkaran-lingkaran yang membentuk kehidupannya. Padmo seperti tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia lamanya. Ia hanya membawa pengalaman dari satu dunia ke dunia berikutnya.

Barangkali itu pula yang membuat pergaulannya luas. Ia bisa berbicara dengan aktivis karena pernah menjadi aktivis. Ia memahami pegawai karena pernah dan lama menjadi pegawai. Ia mengerti dunia kelembagaan karena pernah menjadi penyelenggara pemilu. Ia memahami pengawasan karena pernah menjadi komisaris. Kini ia harus memahami satu tanggung jawab baru yang jauh lebih berat: mengambil keputusan sebagai direksi.

Setiap pengalaman memang meninggalkan bekas, tetapi pengalaman baru menjadi berharga ketika seseorang mampu mengubahnya menjadi kebijaksanaan. Banyak orang punya masa lalu panjang, tetapi tidak semua orang belajar darinya. Banyak pula orang memiliki jaringan luas, tetapi tidak semua mampu menjadikan jaringan itu sebagai jembatan. Pada akhirnya, pengalaman dan pergaulan hanya modal. Nilainya baru terlihat dari apa yang dihasilkan.

Advertisement

Semakin Tinggi, Semakin Keras Angin

Kini Agus Supadmo berada di jajaran direksi Perseroda PITS. Namun menjadi direksi bukan akhir perjalanan. Justru di sanalah penilaian sesungguhnya dimulai. Pengalaman bisa menjadi modal, jaringan bisa membuka pintu, dan senioritas bisa membuat seseorang didengar. Namun pada akhirnya seorang direksi tidak dinilai dari seberapa panjang daftar jabatan yang pernah dipegangnya, seberapa banyak orang yang dikenalnya, atau seberapa menarik kisah perjalanan hidupnya. Ia dinilai dari hasil: apakah perusahaan menjadi lebih sehat, apakah pegawai bekerja dalam sistem yang lebih baik, apakah tata kelola semakin rapi, apakah keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, serta apakah perusahaan daerah benar-benar memberi manfaat kepada kota yang memilikinya.

Agus Supadmo telah melihat organisasi dari banyak ketinggian. Ia pernah menjadi aktivis yang berdiri di luar sistem, menjadi penyelenggara pemilu yang menjaga sistem, menjadi pegawai yang bekerja di dalam sistem, menjadi komisaris yang mengawasi sistem, dan menjadi sekretaris perusahaan yang menjembatani berbagai kepentingan di dalamnya. Kini ia menjadi direksi yang ikut menentukan ke mana sistem itu akan berjalan.

Setelah Tubagus Hendra dan Kuncen PITS Dr. Sugeng, kini giliran Padmo diulas. Perjalanan dari dunia pecinta alam menuju ruang direksi memang panjang, tetapi gunung dan ruang direksi sesungguhnya memiliki satu kesamaan: semakin tinggi seseorang naik, semakin keras angin yang menerpanya. Di ketinggian, orang tidak lagi dinilai dari cerita tentang perjalanan yang telah dilalui, melainkan dari apakah ia tetap ingat kepada mereka yang berjalan bersamanya, apakah ia mampu membawa rombongan menuju tujuan, dan apakah, setelah berada di tempat yang tinggi, ia masih tahu jalan pulang.

Advertisement
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pemerintahan4 jam ago

Benyamin Davnie Sambangi CFD BSD, Warga Berolahraga hingga Berburu Kuliner UMKM

Tangerang Selatan2 hari ago

Raker Karang Taruna Tangsel, Pilar Saga Ichsan: Program Harus Tepat Sasaran

Pemerintahan2 hari ago

Program Bantuan Jaminan Sosial BAZNAS Diluncurkan, Pilar Saga Ichsan Dorong Perlindungan Pekerja Rentan Tangsel Menuju Kemandirian Ekonomi

Nasional2 hari ago

Mutasi Polri 2 Oktober 2026: 88 Pati dan Pamen, Sejumlah PJU Mabes dan Kapolda Berganti

Nasional2 hari ago

Kapolri Suyudi Ario Seto Mutasi 88 Pati dan Pamen Polri, 19 Kapolda Diganti Termasuk Kapolda Banten

Nasional3 hari ago

Prabowo Lantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Bakom RI

Nasional3 hari ago

Presiden Prabowo Subianto Angkat 26 Anggota Wantimpres, Ini Profil Lengkapnya

Pemerintahan3 hari ago

Gantikan Mukroni, H Ika Resmi Jadi Plt Kepala Dispora Tangsel

Pemerintahan3 hari ago

Alasan Mukroni Mundur dari Jabatan Kadispora Tangsel

Pemerintahan3 hari ago

Kadispora Tangsel Mengundurkan Diri, Pemkot Tangsel Pastikan Pelayanan Dispora dan Persiapan Porprov Banten 2026 Tetap Berjalan

Pemerintahan3 hari ago

Ular Sanca Masuk Permukiman Warga di Rempoa, Damkar Tangsel Lakukan Evakuasi

Pemberitahuan3 hari ago

Perizinan Tangsel Makin Mudah, SIMPONIE V3 Hadir dengan Fitur Ramah Difabel dan Real-Time

Tangsel ONE: Satu Akses, Satu Data, Satu Tangsel
Pemerintahan3 hari ago

Tangsel One Tambah Fitur Baru, Warga Tangsel Bisa Cari Loker hingga Cek Harga Pasar

Sport3 hari ago

FAM Tuntut Penjelasan FIFA soal Perubahan Waktu Tambahan Indonesia vs Bangladesh

Sport3 hari ago

Tamatlah Sudah Alkisah Kami: Malaysia Cetak 6 Gol ke Gawang Singapura, tapi Gagal ke Final FIFA ASEAN Cup 2026

Sport3 hari ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Sport3 hari ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Otomotif3 hari ago

iCAR V27, SUV Listrik Bergaya Offroad untuk Perjalanan Kota dan Luar Kota

Opini4 hari ago

Anak Remaja Makin Jarang Bercerita? Jangan-Jangan yang Dibutuhkan Bukan Nasihat, tetapi Kehadiran

Nasional4 hari ago

Perombakan Kabinet Merah Putih, Berikut Daftar Lengkap Pejabat yang Dilantik Prabowo

Sport2 minggu ago

Tiket FIFA ASEAN Cup 2026: Harga dan Cara Beli via Garuda ID

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Jadwal Pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap: Division 1 dan Division 2

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober 2026

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Jumat 18 September: Arema FC vs Persik Kediri dan Madura United vs PSIM

Sport2 minggu ago

Daftar 14 Tim Peserta FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Klasemen BRI Super League 2026/27 Pekan ke-3: Dewa United Banten FC di Puncak

Nasional3 minggu ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Berikan Selamat kepada Suahasil Nazara atas Amanah Baru yang Diembannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap BRI Super League 2026/27 Pekan Ketiga

Nasional4 hari ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport5 hari ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Sport2 minggu ago

Daftar Lengkap 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Obituari3 minggu ago

Kurniawan Zulkarnain: Intelektual Organik yang Tak Pernah Berhenti Gelisah Memikirkan Indonesia

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, 20 September: Borneo FC vs Bali United, Dewa United vs PSS Sleman, Persijap vs Persib

Banten2 minggu ago

Hasil Dewa United vs PSS Sleman Berakhir 2-1 di Pekan ke-3 BRI Super League 2026/27

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026/27, Sabtu 19 September: Persebaya vs Garudayaksa FC, PSM Makassar vs Persita, Bhayangkara FC vs Isenmulang Kalteng FC, dan Persija Jakarta vs Java United FC

Sport2 minggu ago

Persijap Jepara vs Persib Bandung: Maung Bandung Menang 2-1

Nasional2 minggu ago

25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Bermasalah, Mentan Andi Amran Sulaiman: Tarik, Cabut Izin, Proses Hukum!

Bisnis3 minggu ago

ParagonCorp dan BRIN Eksplorasi Mikroalga Lokal

Populer