Pendidikan
Pride Homeschooling Ciputat, Jawaban saat Sekolah Tak Lagi Menjadi Tempat Aman bagi Anak

Tidak sedikit orang tua hari ini pulang dengan perasaan cemas. Bukan karena nilai anaknya jelek, tetapi karena melihat perubahan yang tak mereka kenali: anak menjadi pendiam, mudah marah, kehilangan percaya diri, atau enggan bercerita tentang sekolahnya. Di tengah sistem pendidikan formal yang seragam dan penuh tekanan, muncul satu pertanyaan penting: apakah semua anak harus tumbuh dengan cara yang sama?
Pertanyaan inilah yang menjadi kegelisahan awal berdirinya Pride Homeschooling Ciputat, sebuah lembaga pendidikan yang memilih jalan berbeda—bukan dengan menambah tekanan, tetapi dengan menghadirkan ruang aman bagi anak untuk tumbuh sesuai fitrahnya.
Dalam wawancara khusus, Founder Pride Homeschooling Ciputat, Dr. Ahmad Ahidin, M.Pd.I, mengawali penjelasannya dengan sebuah kisah sederhana namun sarat makna.
“Ada seseorang bertanya kepada seorang tukang kebun, ‘Pak, mengapa tanaman-tanaman di kebun ini bisa tumbuh subur dan terlihat begitu indah?’,” ujarnya, Rabu (14/1).
Tukang kebun tersebut menjawab, “Saya tidak membuat tanaman itu tumbuh. Saya hanya menyingkirkan hal-hal yang menghambat dan merusak pertumbuhannya. Selebihnya, biarlah ia tumbuh sesuai fitrahnya.”
Menurut Dr. Ahmad Ahidin, anak-anak kita pun seperti tanaman itu. Mereka sejatinya telah membawa benih kebaikan, kecerdasan, dan potensi yang unik. Namun sayangnya, tidak semua lingkungan sekolah memberi ruang aman bagi benih itu untuk bertumbuh.
“Di sekolah formal, anak sering harus beradaptasi dengan lingkungan yang tidak selalu ramah: bullying, perundungan verbal, tekanan pergaulan, hingga budaya saling membandingkan. Perlahan, itu mematikan keberanian dan rasa percaya diri anak,” tuturnya.
Ia menekankan satu hal penting: sering kali bukan anaknya yang bermasalah, tetapi lingkungannya yang menghambat pertumbuhan.
Berangkat dari kesadaran inilah Pride Homeschooling Ciputat hadir. Bukan untuk menjauhkan anak dari dunia, tetapi untuk melindungi fase tumbuh kembangnya yang paling rentan. Homeschooling di sini tidak dimaknai sebagai pendidikan eksklusif, melainkan pendidikan yang sadar akan kebutuhan emosional, psikologis, dan fitrah anak.
“Kami tidak mengistimewakan anak. Kami hanya menyingkirkan hal-hal yang merusak pertumbuhannya,” tegas Dr. Ahidin.
Di Pride Homeschooling Ciputat, suasana belajar dirancang agar anak merasa aman secara emosi, bebas dari stigma, dan dihargai sebagai individu. Anak tidak dipaksa mengejar target yang sama, tetapi didampingi menemukan ritme belajarnya sendiri. Akhlak, karakter, dan kesehatan mental menjadi pondasi sebelum prestasi akademik.
Pendekatan ini membuahkan hasil nyata. Sejumlah siswa Pride Homeschooling Ciputat tetap mampu berprestasi di bidang yang mereka minati mulai dari seni, olahraga, hingga dunia modeling tanpa harus tertinggal secara akademik. Bagi lembaga ini, bakat bukan gangguan belajar, melainkan amanah yang harus diarahkan.
“Kami percaya, ketika anak merasa aman, dihargai, dan didukung, prestasi akan mengikuti dengan sendirinya,” ungkapnya. (red)
Sport2 minggu agoJadwal BRI Super League 2026/27, Sabtu 5 September: Persik Kediri vs Dewa United, PSIM Yogyakarta vs Persita, Bhayangkara FC vs Persebaya, dan Borneo FC Samarinda vs Persija Jakarta
Sport2 minggu agoPSIM Yogyakarta vs Persita Tangerang: Pendekar Cisadane Punya Rekor Apik di Bantul
Banten1 minggu ago40 Guru Madrasah Dapat Beasiswa S1, STAI Syekh Manshur Apresiasi Program Madrasah Gemilang
Nasional6 hari agoPurbaya Yudhi Sadewa Dicopot Presiden Prabowo, Prof Suahasil Nazara Dilantik Jadi Menteri Keuangan
Sport2 hari agoJadwal Pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap: Division 1 dan Division 2
Sport2 hari agoJadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
Politik1 minggu agoWI Banten Dorong Perempuan Aktif di Dunia Politik
Nasional5 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Berikan Selamat kepada Suahasil Nazara atas Amanah Baru yang Diembannya





































