Ada saja yang ‘meragukan’ keislaman Prof Dr Quraish Shihab mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (dulu IAIN) periode 1992-1998. Bahkan, ada yang menuduh kalau paham keislaman doktor lulusan Universitas al-Azhar itu Syi’ah. Tuduhan itu didasarkan, salah satunya, dari buku-buku yang ditulis Quraish. Dimana dalam buku itu Quraish mengutip pendapat dari ulama Syi’ah. Namun betulkan tuduhan semacam itu?
“Saya menganut Islam Nusantara yang Berkemajuan,” kata Quraish Shihab pada kesempatan bedah buku ‘Trilogi Islam M Quraish Shihab’ (Islam yang Saya Anut, Islam yang Saya Pahami, dan Islam yang Disalahpahami), di Pusat Studi Alquran, Tangerang Selatan, Kamis (31/1/2019).
Sebagaimana diketahui, Islam Nusantara adalah tipologi Islam yang diusung Nahdlatul Ulama (NU). Sementara Islam Berkemajuan merupakan ‘miliknya’ Muhammadiyah.
Quraish kemudian menjelaskan kalau Islam memang pertama kali turun di Makkah. Kemudian Islam menyebar ke Madinah, Syam, Irak, Iran, dan tempat-tempat lainnya. Dalam penyebarannya ke tempat-tempat lain itu, terjadi ‘interaksi’ antara Islam dan budaya setempat. Dimana Islam mempengaruhi budaya setempat. Begitu pun sebaliknya. Budaya setempat ‘mempengaruhi’ Islam. Sehingga misalnya, ketika Imam Syafi’i berada di Irak, maka budaya Irak yang mempengaruhi pendapat-pendapat Imam Syafi’i. Begitu pun ketika di Mesir.
“Itu sebenarnya paham saya. Kita tidak mempermasalahkan orang Arab dengan pandangan-pandangannya. Tetapi kita tidak mau ada orang Arab yang mempermasalahkan kita dengan pandangan-pandangan kita,” jelas penulis kita Tafsir Al-Misbah itu.
Sementara itu, KH Cholil Nafis yang menjadi narasumber menyebutkan kalau di dalam bukunya itu Quraish belajar kitab Aqidatul Awam saat kecil dulu. Sebuah kitab yang sangat dekat dengan Nahdlatul Ulama.
“Saya bangga sekali ketika Prof Quraish menyebut tentang ‘Keyakinan Saya Masih Kecil (salah satu sub-bab di dalam buku Prof Quraish). Yaitu Aqidatul Awam. Yakin dengan sifat Allah yang 20,” jelas Ketua Komisi Dakwah MUI ini.
Hal yang sama juga disampaikan narasumber lainnya, Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’thi. Menurutnya, buku ‘Trilogi Islam M Quraish Shihab’ itu memberikan perspektif bahwa Quraish adalah Muhammadiyah-NU. Ditambah dulu Quraish pernah belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
“Beliau ini Mu-Nu saya kira. Muhammadiyah-NU,” ucapnya.
Adapun Muchlis M Hanafi menjelaskan, dalam buku Islam yang Saya Pahami Quraish mengungkapkan kalau dirinya memedomani Imam Al-Asy’ari dalam bidang akidah, Imam Syafi’i dalam fiqih, dan Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi dalam bidang tasawuf ketika menjawab persoalan keagamaan.
“Inikan mazhabnya NU,” katanya.
Namun, lanjut Muchlis, dalam bukunya itu Quraish juga menunjukkan sisi-sisi pembaharuan dalam pemahaman keagamaan. Salah satunya sosok Muhammad Abduh yang berpengaruh dalam pemikiran Quraish.
“Dan Muhammad Abduh ini adalah salah satu tokoh yang menginspirasi garis perjuangan Muhammadiyah,” jelas Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an.
Sumber: (NUOnline/suaraislam, Kamis, 31 Januari 2019)
Sport6 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Pekan ke-8, 30 Oktober–1 November
Nasional6 hari agoKonser Andrea Bocelli Digelar 31 Oktober di Borobudur dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran
Sport6 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Jumat 30 Oktober 2026: Java United FC vs Bhayangkara FC dan Persebaya vs Persijap
Nasional5 hari agoMA Kabulkan Kasasi Nomor 742 K/TUN/2026, Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka Dinyatakan Tidak Sah
Hukum1 hari agoPresiden Prabowo dan Seskab Teddy Disebut Jadi Target Penyadapan, Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Ditangkap
Hukum5 hari agoKoalisi Mahasiswa dan Pemuda Astacita Desak Pembersihan Internal Polri dan Penegakan Sistem Merit
Sport3 hari agoJadwal BRI Super League 2026/2027 Hari Ini, Minggu 1 November: PSIM vs Borneo FC, Persib vs Isenmulang FC, dan Garudayaksa FC vs PSS Sleman
Sport3 hari agoHasil Dewa United vs Persija 2-1, Shin Tae-yong Sebut Kekalahan Jadi Alarm untuk Macan Kemayoran







