Rencana Pembangunan PLTSa Cipeucang, Tangsel Gelar Market Sounding

By on Selasa, 21 Mei 2019

Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel)  menggelar kegiatan market sounding Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Cipeucang, Tangsel. Bertempat di Ruang rapat merdeka 1-2 Assembly Hall Swiss-Belhotel Intermark Indonesia, Serpong, Senin (20/5).

Kegiatan market sounding ini dihadiri kurang lebih 300 peserta yang berasal dari perusahaan swasta nasional maupun asing dan BUMN di bidang pelaku industri pengelolaan sampah, kontraktor, perbankan dan lrmbaga keuangan, konsultan serta asosiasi bisnis terkait kedutaan besar dari negara seahabat baik dari dalam dan luar negeri,  diantaranya ITOCHU Corporation, Hyundai Enginnering Co, Korea Trade-Investment Promotion Agency (KOTRA)

Hitz Indonesia, Marubeni Corporation, Fortum Oyj, CNIM, Posco E&C, Summit Niaga (Sumitomo Group), PT. Pupuk Indonesia Energi, PT. Daya Barus Nusantara, PT. Rekayasa Industri, PT. Nusantara Infrastructure Tbk, PT. Bayu Buana Gemilang, PT. Samsung C&T Corporation, PT. Waskita Energy, Dohwa Engineering Co. Ltd, China Power International Holding Limited, PT. Bumi Resik Nusantara, PT. Sinarmas Energy, Embassy of Poland, PT. Maxpower Indonesia, PT. Adhi Karya, PT. PP, Zhongde Waste Technology Indonesia, Austrian Embassy, Danish Embassy-Trade Council, Adaro Power, PT. Sinar Mas Land, PT. Sucofindo dan perusahaan lainnya. Turut pula hadir perwakilan dari Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Ikmal Lukman menjelaskan dari sekian banyak market sounding ,baru kali ini peminat yang hadir cukup banyak bahkan dari distributor pun ikut dalam kegiatan market sounding PLTSa Cipeucang.

Dia mengatakan, kegiatan market sounding merupakan kegiatan BKPM untuk memperkenalkan dan menawarkan proyek dengan skema KPBU.

“Tujuan kegiatan Market Sounding ini adalah untuk mendapatkan masukan (feedback) dari pasar terhadap bentuk kerjasama yang ditawarkan, disamping untuk menyampaikan keberadaan proyek ini kepada pasar. Feedback dimaksud tidak saja dari sisi teknis tetapi juga sisi keuangan, sosial dan lingkungan bahkan alokasi risiko yang ditawarkan. Selanjutnya feedback tersebut akan menjadi masukan dalam penyempurnaan Outline Business Case (OBC),” ujarnya.

Dia menyampaikan bahwa sampah merupakan salah satu permasalahan yang serius bagi kota-kota besar karena peningkatan jumlah sampah tanpa pengelolaan yang tepat menjadi tantangan utama bagi Pemerintah Daerah. Untuk menjawab tantangan tersebut Pemerintah telah memilih skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha atau KPBU sebagai salah satu bentuk pembiayaan strategis serta terobosan untuk mendukung pembangunan infrastruktur pengelolaan persampahan yang dapat mengurangi permasalahan sampah perkotaan.

Proyek PLTsa Kota Tangerang Selatan ini termasuk dalam 12 Kota Prioritas Nasional yang tercantum dalam Perpres No. 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

“Total kebutuhan investasi Proyek ini sekitar 119 juta USD serta Internal Rate Return (IRR) sekitar 10% dengan masa konsesi selama 20 tahun dan pengembalian investasi dengan menggunakan skema tipping fee sebesar Rp. 650.000/ton dengan penjaminan (Government Guarantee) dari PT. Penjamin Infrastruktur Indonesia (PT. PII),” ungkapnya.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, menyampaikan,  bahwa meningkatnya produksi sampah di Kota Tangerang Selatan menyebabkan sampah tidak dapat ditangani semuanya sehingga tidak dapat ditampung di TPA.

“Karena kondisi TPA yang sudah overload maka diperlukan alternatif teknologi pengolahan sampah. Sebagai langkah upaya tersebut, dengan masuknya Kota Tangerang Selatan dalam Perpres No.35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan (PLTSa) diharapkan dapat menangani permasalahan sampah yang ada di kota Tangerang Selatan secara keseluruhan” terangnya.

Diharapkan kegiatan Market Sounding ini selain untuk menerima masukan dalam penyempurnaan OBC dan menjadi usulan penyusunan FBC juga untuk menjajaki sejauh mana minat investor terhadap pembangunan PLTSa di Kota Tangerang Selatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, Toto Sudarto menjelaskan bahwa tempat pemprosesan akhir sampah berada di TPA Cipeucang di Kecamatan Serpong. Luas lahan TPA keseluruhan yang dimiliki 13.6 Ha, dengan target luas TPA 10-15 Ha. Luas lahan Landfill 1 (dibangun dengan dana APBN 2011) dengan luas 2.5 Ha dan Landfill 2 sebesar 1.7 Ha (dibangun dengan dana APBN 2015).

Ia mengaku, kedua Landfill tersebut dibangun melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan konstruksi Sanitary Landfill. Luas proyek yang diusulkan untuk lokasi PLTSa adalah 4 Ha, dengan rincian 2 Ha untuk fasilitas PLTSa dan 2 Ha untuk fasilitas Landfill. Cakupan proyek yang dikerjasamakan dengan pihak swasta meliputi pembangunan Incinerator Power Plant dengan skema Build Operate Transfer (BOT). Adapun Kapasitas Incinerator sebesar 800 ton/hari dan kapasitas Landfill eksisting 792.000 ton.

Kegiatan Market Sounding ini dilaksanakan dengan format acara yang terdiri dari 2 (dua) sesi utama, yaitu sesi Presentasi Proyek dan sesi Diskusi Proyek. Dalam sesi Presentasi Proyek disampaikan penjelasan mengenai “Skema Pembiayaan dalam Penyediaan Infrastruktur dan Dukungan Pemerintah”, oleh Direktur Kerjasama Pemerintah-Swasta Rancang Bangun Kementerian PPN/Bappenas; Penjelasan tentang “Penjaminan Proyek Infrastruktur”, oleh Direktur Eksekutif Bisnis PT. Penjaminan Infrastruktur (PT. PII); Presentasi Proyek “Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Kota Tangerang Selatan” dan  Pemaparan Hasil study “Outline Business Case (OBC) Proyek PLTSa Kota Tangerang Selatan”, oleh Perwakilan dari Korea Environmental Industry & Technology Institute (KEITI) selaku konsultan.

Acara dilanjutkan dengan site visit ke lokasi TPA Cipeucang yang bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi TPA sehingga calon investor dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap dalam pengambilan keputusan untuk berpartisipasi dalam proyek ini. (dkt)