Lifestyle
Sebelum Meninggal Ani Yudhoyono Sempat Membaik, Mengapa Bisa Begitu?

Ibu Negara Indonesia yang ke-6, Ani Yudhoyono, tutup usia pada Sabtu (1/6). Setelah berbulan-bulan berjuang melawan kanker darah yang diidapnya, Ani Yudhoyono sempat menjalani perawatan intensif pada Rabu (29/5) karena kondisinya menurun dan beliau mengalami demam tinggi.
Akan tetapi, keesokan harinya yaitu Kamis (30/5) Ani Yudhoyono dikabarkan mulai pulih dari demam tinggi. Sayangnya, bukannya terus membaik, Ani Yudhoyono justru mengalami penurunan kondisi hingga akhirnya meninggal dunia.
Memang banyak kasus pasien penyakit kronis yang sudah sampai tak bisa mengenali anak-anak dan cucunya sendiri, tiba-tiba tampak sehat lagi. Dalam waktu beberapa jam atau hari, pasien bisa mengenali keluarganya. Pasien bahkan sanggup berdiri atau duduk tegak dan berbicara dengan normal. Keluarga sudah optimis bahwa kesehatan pasien akan pulih, tetapi setelah itu pasien yang kondisinya sempat membaik justru meninggal dunia.
Bagaimana bisa orang yang sudah mau meninggal dunia malah tampak segar dan membaik kembali? Apa kata para ahli soal fenomena unik ini? Simak penjelasan di bawah ini!
Pasien tampak membaik dan sehat lagi sebelum meninggal
Tak cuma terjadi pada Ibu Negara keenam Indonesia, rupanya fenomena pasien penyakit kronis yang membaik sebelum meninggal sudah diketahui sejak hampir tiga abad lalu. Fenomena ini dikenal dalam ranah medis sebagai terminal lucidity, yang secara harfiah artinya kejernihan menjelang ajal.
Seperti dijelaskan oleh seorang pakar biologi dan kesehatan jiwa, Michael Nahm, terminal lucidity dapat diartikan sebagai “munculnya kejernihan dan ketajaman mental pada pasien yang tak sadarkan diri, mengalami gangguan kejiwaan, atau sangat lemah beberapa saat sebelum ajal menjemput.”
Menurut penelitian oleh Michael Nahm dan timnya dalam jurnal Archives of Gerontology and Geriatrics, kondisi ini bisa dialami pasien kira-kira beberapa hari, jam, atau menit sebelum akhirnya meninggal dunia.
Dihimpun dari berbagai studi kasus di seluruh dunia, terminal lucidity paling banyak terjadi pada pasien yang mengidap berbagai penyakit yang menyerang otak. Mulai dari tumor otak, trauma pada otak, stroke, meningitis (radang selaput otak), Alzheimer, dan skizofrenia. Namun, tak menutup kemungkinan pasien penyakit kronis lainnya juga sempat “sembuh” hanya beberapa saat sebelum meninggal.

Apa yang terjadi selama pasien sempat membaik?
Berbagai laporan yang berhasil dicatat secara medis menunjukkan kondisi yang berbeda-beda antara satu pasien dan pasien lainnya. Dalam sebuah studi kasus dalam The Journal of Nervous and Mental Disease, seorang pengidap skizofrenia kronis sudah tidak menunjukkan gejala-gejala skizofrenia lagi selama dua hari sebelum ajalnya menjemput. Pasien tersebut dikatakan tampak normal, seperti orang pada umumnya.
Pengamatan lain yang dicatat para ahli menguak bahwa seorang pasien meningitis yang tadinya sudah linglung dan hanya bisa meracau tiba-tiba pikirannya jadi segar dan berfungsi normal kembali. Pasien ini jadi mampu berbicara dengan jelas serta menjawab pertanyaan dengan baik. Sayangnya kondisi ini hanya bertahan beberapa menit sebelum kematiannya.
Masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang sampai saat ini masih terus dipelajari oleh para ahli. Namun, polanya selalu mirip. Pasien akan tiba-tiba sembuh dari penyakitnya, seolah mendapatkan kejernihan pikiran dan sanggup melakukan hal-hal yang tadinya tak bisa dilakukan, misalnya bicara atau makan dengan lahap.


Mengapa fenomena ini bisa terjadi?
Hingga saat ini, belum ada analisis ilmiah yang cukup kuat untuk menjelaskan mengapa fenomena ini sering terjadi dan apa penyebabnya. Salah satu teori yang sedang diteliti lebih dalam menduga bahwa saat pasien menderita penyakit kronis, volume otak akan sedikit menyusut. Ini karena jaringan-jaringan otak semakin melemah dan menyusut.
Oleh karenanya, otak yang tadinya penuh tekanan jadi agak melonggar. Hal ini diyakini bisa mengembalikan macam-macam fungsi otak yang telah rusak. Misalnya daya ingat dan kemampuan berbicara.
Dari penelitian-penelitian seputar terminal lucidity ini, para ahli berharap bahwa suatu hari nanti hasilnya bisa dipakai sebagai panduan perawatan terbaru bagi pasien dengan penyakit kronis. Harapan yang lebih ambisius yaitu fenomena unik ini bisa dikembangkan jadi metode pengobatan khusus buat pasien dengan kerusakan atau gangguan fungsi otak.
Kabartangsel.com
Tangerang4 minggu agoKinanthi Trans Solusi Layanan Sewa Bus Pariwisata Tangerang untuk Mobilitas Massal yang Efisien
Sport3 minggu agoFIFA World Cup 2026 Schedule: Complete Fixtures, Groups, Format, and Tournament Dates
Sport3 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Lengkap
Nasional4 minggu agoKementerian UMKM Terus Dorong Penguatan Kemitraan Global bagi Pelaku UMKM Indonesia
Nasional4 minggu agoWamen UMKM Helvi Moraza Dorong Bali Jadi Pusat Wellness Dunia
Nasional4 minggu agoPresiden Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, Trenggono dan Agustina Arumsari sebagai Wakil Kepala BGN, serta Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden
Sport4 minggu agoVeda Ega Pratama Kena Hukuman Long Lap Penalty, Misi Berat Menanti di Moto3 Hungaria 2026
Bisnis4 minggu agoIKPP Tangerang 50 Tahun Berkarya, Perkuat Kontribusi Lingkungan dan Sosial melalui Rekam Jejak Penghargaan Berkelanjutan


























