TPID Pastikan IHK 2017 di Tangsel Relatif Terkendali

Kamis, 23 November 2017

Kabartangsel.com — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengklaim telah berhasil mengendalikan gejolak harga sejumlah bahan pangan pokok yang beredar di pasaran. Indikator suksesi itu didasari telah menurunnya angka Indeks Harga Konsumen (IHK) 2017. Kontras dengan periode yang sama pada tahun lalu, jumlah capaiannya berkisar 3 persen lebih.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tangsel bersama para pihak pemangku kepentingan atau stakeholder secara intens dan masif terus melakukan koordinasi. Alhasil, melalui progam kerjasama lintas sektoral ini sangat efektif dalam upaya menjaga serta memonitoring disparitas harga yang cenderung bergerak fluktuatif.

“Memasuki bulan Agustus kemarin harga-harg kebutuhan pokok dan jasa di Kota Tangerang Selatan secara umum mengalami penurunan,” ungkap Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah, Wijaya Kusuma, Rabu, (22/11/2-17).

Ia memaparkan, penurunan dapat dilihat dari berubahnya angka IHK pada periode Juli 2017 yang jumlahnya mencapai 136,09. Memasuki satu bulan berikutnya di tahun yang sama terjadi perubahan indeks -0,06 persen.

Wijaya sebutkan, deflasi terjadi karena dua dari tujuh kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks secara beruntun. Yakni, pada kelompok bahan pangan turun sebesar -1,12 persen, serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mencapai -0,64 persen.

Sedangkan lima kelompok pengeluaran lainnya yang mengalami kenaikan yaitu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,45 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebanyak 0,14 persen.

Berikutnya kelompok sandang 0,18 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen, serya kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga meningkat 0,50 persen. “Laju angka inflasi tahun kalender berjalan (2017,) tercatat sebesar 2,36 persen. Sedangkan inflasi YoY (Year of Year) tercatat sebesat 3,94 persen,” papar Wijaya.

Ia menambahkan, per triwulan tahun anggaran berjalan TPID Kota Tangsel mengagendakan rapat koordinasi. Walikota Airin Rachmi Diany pun bahkan tak pernah absen untuk untuk ikut hadir dan memimpin kegiatan rapat koordinasi. Menurutnya, belum lama ini kegiatan tersebut dilaksanakan di salah satu hotel di kawasan Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

“Tujuan strategis dari kegiatan rakor TPID adalah untuk saling bertukar data dan informasi sekaligus menyamakan persepsi antara pihak terkait. Ya tentu saja yang dibahas seputar perkembangan ekonomi terkini di tingkat regional,” tambah Wijaya.

Di lokasi yang sama, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel, Achmad Widyanto, menyebutkan bahwa dari hasil pencacahan pada periode 2017 ada sebanyak 180 komoditi yang didata. Hasil tabulasi tercatat sebanyak 104 komoditi mengalami kenaikan harga, dan 66 lainnya menurun.

Sedangkan jeniz komoditi yang lainnya tidak berubah. “Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan cukup tinggi antara lain rokok kretek, taman kanak-kanak, rokok kretek filter, dan telur ayam ras,” ujarnya merinci.

Sementara komoditi yang mengalami penurunan cukup tinggi, Windyanto bilang, jenis bawang merah dan putih, kelapa serta cabai rawit. Adapun pada periode Agustus 2017 juga ada beberapa kelompok-kelompok komoditi yang memberikan andil terjadinya deflasi di Kota Tangerang Selatan.

Mencakup pada kelompok bahan makanan -0,2426 persen, kelompok makanan jadi dan minuman, rokok serta tembakau sebanyak 0,0911 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,0321 persen.

Kemudian pada kelompok sandang menyumbang deflasi sebesar 0,0078 persen, kesehatan 0,0030 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebanyak 0,0436 persen. “Dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,0045 persen,” sebut Windyanto. (yw/fid)