5 Tips untuk Keluarga dalam Merawat Pasien Cuci Darah

By on Senin, 22 Juli 2019

Setiap pasien cuci darah memerlukan perawatan khusus sehingga terkadang mereka juga membutuhkan bantuan dari para anggota keluarganya. Tak hanya dukungan fisik, dukungan emosional juga diperlukan untuk menunjang kesehatannya.

Tips merawat pasien cuci darah

Berikut adalah sederet hal yang bisa Anda lakukan untuk mendukung anggota keluarga yang menjalani cuci darah:

1. Memastikan pasien melakukan kewajibannya

Pasien penyakit gagal ginjal berhak mendapatkan perawatan berupa cuci darah. Akan tetapi, pasien juga memiliki sejumlah kewajiban yang harus dilakukan agar manfaat cuci darah dapat terasa secara optimal. Misalnya:

  • Ikut serta dalam memutuskan jenis perawatan yang cocok untuknya.
  • Mengonsumsi obat-obatan sesuai petunjuk dokter.
  • Menerapkan anjuran makan dan asupan cairan serta menghindari pantangannya.
  • Menyampaikan kepada tenaga medis terkait apabila obat-obatan tertentu sulit didapatkan.
  • Rutin menjalani cuci darah dan tiba tepat waktu.

Itu sebabnya, sebagai anggota keluarga yang merawat pasien cuci darah, pastikan ia melakukan kewajiban-kewajiban di atas agar pengobatannya dapat berjalan dengan optimal.

2. Mendukung pasien untuk kembali beraktivitas

Salah satu tips ketika merawat pasien cuci darah adalah memotivasinya untuk tetap aktif.

Menjalani perawatan tidak serta-merta membatasi pasien cuci darah dari kegiatan yang disukainya. Jika anggota keluarga Anda menjalani cuci darah, dukunglah ia agar tetap aktif bekerja, berolahraga, atau melakukan hobinya

Pasien mungkin akan merasa kewalahan saat memulai rutinitasnya kembali. Anda dapat membantu pasien dengan membuatkannya jadwal, mengantarnya ke lokasi kerja, atau mendampinginya saat bepergian.

3. Membantu menjaga kebersihan tubuh pasien

Beberapa pasien gagal ginjal menjalani cuci darah dengan metode dialisis peritoneal. Metode ini dilakukan dengan menghubungkan dinding perut pasien ke kantung berisikan campuran mineral, gula, dan air.

Perut pasien biasanya dihubungkan menggunakan tabung kateter. Area pemasangan kateter biasanya rentan mengalami infeksi. Itu sebabnya, membersihkan area tersebut harus Anda lakukan ketika merawat pasien cuci darah.

Anda dapat membersihkannya dengan cara berikut:

  • Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
  • Kenakan masker dan sarung tangan.
  • Lepaskan perban secara perlahan tanpa memindahkan posisi kateter.
  • Gunakan larutan steril untuk membersihkan luka, kateter, dan kulit di sekitarnya.
  • Tutup kembali kateter dengan perban yang baru.

4. Membantu pasien untuk patuh pada aturan dan pantangan makan

Pola makan merupakan hal yang penting ketika merawat pasien cuci darah. Mereka perlu mengonsumsi sumber protein serta membatasi cairan dan makanan yang tinggi kalium, fosfor, dan natrium.

Anda dapat membantu pasien menjaga asupannya dengan cara berikut:

  • Membatasi makanan yang banyak mengandung air. Misalnya sup, kaldu, dan buah-buahan tinggi air (semangka, stroberi, pir, jeruk, dan sejenisnya).
  • Membuat daftar makanan yang perlu dikonsumsi dan dihindari.
  • Mengurangi porsi bahan makanan yang harus dibatasi atau memotongnya dalam ukuran yang lebih kecil.
  • Memberikan pasien sumber kalori yang lebih sehat sebagai asupan energinya. Misalnya, dari minyak zaitun, minyak kanola, margarin, nasi, mi, dan sour cream.
  • Mengganti garam yang tinggi natrium dengan bumbu dan rempah.

5. Menjaga kesehatan emosional pasien

Merawat pasien cuci darah juga harus memerhatikan segi kesehatan emosional pasien. Ini disebabkan karena pasien amat rentan mengalami stres, bahkan frustrasi akibat penyakit kronis yang ia derita.

Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kesehatan emosional pasien cuci darah:

  • Menyampaikan kondisi pasien pada dokter yang menangani kasusnya.
  • Mengedukasi diri sendiri dan pasien mengenai semua hal yang berkaitan dengan cuci darah.
  • Mendampingi pasien saat melakukan kegiatan yang ia sukai.
  • Mengajak pasien berolahraga rutin jika memungkinkan.
  • Mencari bantuan dari psikolog atau konselor.
  • Mempertemukan pasien dengan support group dengan kasus yang sama sepertinya.
  • Selalu sabar dalam mendampingi pasien.

Diagnosis penyakit kronis seperti gagal ginjal dapat mengguncang kondisi emosional pasien dan keluarga. Pasien mungkin juga akan sulit menerima fakta bahwa cuci darah hanya menggantikan fungsi ginjal tanpa menyembuhkan penyakit secara keseluruhan.

Namun, pasien cuci darah dan keluarga harus bekerja sama untuk menjalankan perawatan sebaik mungkin. Hal ini bertujuan agar pasien cuci darah dapat menjalankan kegiatannya dengan normal.

Kabartangsel.com

Source