Kinerja Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sanjoyo mulai dipertanyakan banyak kalangan. Pasalnya, selama 5 bulan menjabat menteri tak terlihat perbaikan nyata di tubuh kementerian yang dipimpinnya.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Nasional Ahmad Surahman mengatakan, ekspektasi publik terhadap menteri Kemendesa PDTT baru sebenanrnya cukup tinggi. Ini lantaran performa kinerja menteri sebelumnya dinilai kurang memuaskan.
“Nyatanya tidak ada gebrakan apa-apa juga. Pergantian menteri seolah cuma rotasi seremonial belaka,” katanya dalam acara diskusi “Mengawal 2 Tahun Undang-Undang Desa” di Cikini, Kamis (12/1) kemarin.
Ia mencontohkan, implementasi UU Desa yang sampai saat ini masih banyak menemui persoalan. Salah satunya, soal konsep pendampingan yang belum jelas karena tidak adanya indikator capaian yang konkrit. “Sekarang desa yang membentuk BUMDes masih minim karena pada bingung, pendampingnya juga bingung,” ujarnya.
Bukti lain, lanjutnya, Kemendes di bawah Eko Putro tidak mampu mengeluarkan satu pun peraturan menteri yang mendukung proses implementasi UU Desa. Padahal menurutnya, regulasi itu penting guna mengurai persoalan yang masih terus mengganjal.
“Termasuk rekomendasi KPK untuk mengatur pelestarian aset eks PNPM. Itu besar sampai 12 triliun, tapi belum ditindaklajuti,” tegasnya.
Sementara itu, Peneliti Makna Indonesia Akmal Ridho mengatakan, meski penggunaan dana desa tahun 2016 mencapai 90 persen, tetapi masih ada 30 persen yang belum memberikan laporan. Hal tesebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pendampingan serta pengawasan dana desa.
“Masih banyak ditemukan kasus pemotongan anggaran dana desa. Bahkan ada yang dipotong untuk kepentingan politik Pilkada. Ini aroamanya terstuktur” urainya.
Ia kemudian memberikan catatan khusus soal serapan anggaran Kemendesa PDTT. Menurutnya, praktis hanya aloakasi dana desa di Ditjen PPMD yang serapannya relatif tinggi.
“November lalu ada Ditjen yang serapannya baru 4 persen. Pasti ini berpengaruh terhadap serapan anggaran keseluruhan,” tandasnya.
Ia menyayangkan rendahnya serapan ini. Sebab, katanya, serapan menjadi salah satu ukuran produktivitas kinerja sebuah instansi.
“Dua tahun dalam sorotan. Dan belum ada perubahan signifikan,” pungkasnya. (mh)
Bisnis4 hari agoBRI Life Gelar “The Board’s Charity Engagement”
Pemberitahuan7 hari agoPendaftaran Calon Paskibraka Kota Tangsel Tahun 2026
Pemerintahan7 hari agoJam kerja ASN Kota Tangsel Selama Ramadan 1447 Hijriah/2026
Bisnis4 hari agoManfaat Utama Promo Ramadhan di Blibli
Bisnis6 hari agoInterSystems Sabet Empat Penghargaan Global Best in KLAS 2026 untuk Asia, Oseania, dan Eropa
Hukum4 hari agoLewat Apel Siaga Kamtibmas, Polres Tangsel Gaungkan “Jaga Warga – Jaga Tangsel”
Pemerintahan4 hari agoSafari Ramadan 1447 H, Benyamin Davnie Salurkan Total Bantuan Rp405 Juta untuk Imam, Marbot hingga Guru Ngaji
Pemerintahan4 hari agoSafari Ramadan Jadi Momentum Kebersamaan, Pilar Saga Ichsan Ajak Warga Tangsel Dukung Program Pembangunan












