Awas, Hipertensi Paru Bisa Sebabkan Gagal Jantung yang Mematikan

By on Sabtu, 17 Agustus 2019

Hipertensi paru merupakan kondisi tingginya tekanan darah pada pembuluh arteri paru. Tekanan darah yang tinggi membuat sisi kanan jantung bekerja lebih keras. Jika tidak ditangani, hipertensi paru dapat mengakibatkan komplikasi berupa gagal jantung.

Hipertensi pada paru dan gagal jantung dapat terjadi secara bersamaan dan membahayakan nyawa. Guna mengatasinya dengan lebih efektif, Anda perlu memahami dahulu perbedaan antara keduanya.

Apa itu hipertensi paru?

Pada penderita hipertensi paru, pembuluh arteri kecil yang terdapat dalam paru-paru mengalami penyempitan, penyumbatan, atau kerusakan. Kondisi ini menghambat aliran darah menuju paru-paru dan meningkatkan tekanan pembuluh arteri.

Karena tekanan darah meningkat, bilik kanan jantung harus bekerja lebih keras untuk memasok darah menuju paru. Otot jantung akhirnya melemah dan lama-kelamaan mengalami penurunan fungsi.

Hipertensi paru tidak menyebabkan gagal jantung dalam waktu singkat. Sebaliknya, Anda mungkin tidak merasakan gejala pada masa awal munculnya penyakit. Lambat-laun, Anda akan mengalami gejala berupa:

  • Nyeri atau rasa tertekan pada dada
  • Rasa lelah
  • Sesak napas, baik saat beraktivitas maupun ketika beristirahat
  • Pusing dan kepala terasa ringan
  • Denyut jantung meningkat
  • Bibir dan kulit tampak berwarna kebiruan
  • Pembengkakan pada kaki yang menjalar ke perut

Tanpa penanganan segera, hipertensi paru dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi tersebut di antaranya denyut jantung tidak teratur, perdarahan dan pembentukan gumpalan darah pada paru, hingga gagal jantung.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa hipertensi jantung dan gagal jantung jelas dua hal yang berbeda. Gagal jantung merupakan akibat jangka panjang dari hipertensi paru.

Bahaya gagal jantung akibat hipertensi paru

gagal jantung karena kurang vitamin D

Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan hipertensi paru. Penyakit ini bisa semakin buruk seiring berjalannya waktu. Risiko komplikasi pun sangat tinggi jika Anda tidak memerhatikan kesehatan paru-paru.

Gejala gagal jantung hampir menyerupai hipertensi paru. Mereka akan mengalami sesak napas, lesu, dan pembengkakan pada beberapa bagian tubuh. Denyut jantungnya pun menjadi tidak teratur atau lebih cepat.

Selain itu, penderita gagal jantung juga mengalami gejala seperti:

  • Berkurangnya kemampuan untuk beraktivitas fisik
  • Batuk berkepanjangan dengan mengeluarkan dahak kemerahan karena bercampur darah
  • Mual dan nafsu makan menurun
  • Sesak napas mendadak diikuti batuk berdahak kemerahan 
  • Sering buang air kecil pada malam hari

Sebagian besar penderita hipertensi paru pada akhirnya mengalami gagal jantung setelah beberapa tahun. Kondisi ini dapat membahayakan jiwa, terutama bila Anda memiliki riwayat penyakit pada jantung maupun sistem pernapasan.

Tips mengendalikan penyakit hipertensi paru

Meski tak dapat disembuhkan, hipertensi paru dapat dikendalikan melalui obat-obatan dan gaya hidup. Obat-obatan untuk hipertensi paru bekerja dengan merilekskan otot-otot pembuluh arteri paru sehingga darah bisa mengalir dengan lancar.

Untuk menunjang pengobatan, Anda perlu memperbaiki pola makan dan kebiasaan sehari-hari. Langkah sederhana yang dapat Anda lakukan di antaranya:

  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengonsumsi makanan tinggi serat, vitamin, dan mineral
  • Membatasi makanan mengandung gula, lemak jenuh, garam, dan kolesterol
  • Menjalani pemeriksaan rutin dengan dokter
  • Tidak merokok dan mengonsumsi alkohol
  • Rutin melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki
  • Tidak mengangkat benda-benda berat yang memberikan tekanan pada pembuluh arteri paru

Hipertensi paru adalah kondisi yang berbahaya karena sulit dideteksi pada fase awal. Gejalanya pun sangat mirip dengan penyakit pada jantung dan paru lainnya. Maka dari itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis.

Pengobatan dan perbaikan gaya hidup cukup efektif mencegah hipertensi paru berkembang menjadi gagal jantung. Jika cara ini tidak berhasil, pasien mungkin perlu menjalani operasi untuk membuka saluran pada jantung atau transplantasi jantung.

Kabartangsel.com

Source