Lifestyle
Bronkodilator adalah Obat Asma dan PPOK. Cari Tahu Lebih Lanjut di Sini

Asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) menyerang kesehatan paru. Keduanya menyebabkan penyempitan saluran di paru-paru sehingga menyulitkan seseorang untuk bernapas dengan baik. Salah satu pengobatan yang digunakan untuk orang asma dan PPOK adalah bronkodilator. Simak tentang obat ini lebih dalam ulasan berikut.
Bronkodilator adalah obat untuk asma dan PPOK
Jika Anda memiliki asma atau PPOK, dokter biasanya akan meresepkan obat bronkodilator. Ini merupakan jenis obat yang membuat pernapasan jadi lebih lega. Cara kerja bronkodilator adalah melemaskan otot-otot di sekitar saluran pernapasan menuju paru-paru sehingga memperlebar saluran napas dan tabung bronkial.
Obat ini sebenarnya sebenarnya bukan pengobatan utama untuk pasien asma. Orang dengan penyakit asma lebih diutamakan menggunakan kortikosteroid inhalasi untuk mengurangi peradangan dan mencegah gejala kembali kambuh.
Namun, beberapa pasien bisa menggunakan obat jenis ini agar saluran udara tetap terbebas dari penyempitan dan meningkatkan keampuhan kortikosteroid yang digunakan.
Sementara itu, untuk pengobatan PPOK, obat ini dapat digunakan secara tunggal. Penambahan kortikosteroid hanya diberikan pada pasien yang memiliki gejala parah.
Tipe bronkodilator berdasarkan efek kerjanya
Berdasarkan cara kerjanya, obat ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu efek cepat dan efek lama. Agar lebih jelas, mari bahas satu per satu.
Bronkodilator efek cepat
Bronkodilator efek cepat adalah bronkodilator yang bekerja lebih cepat, tapi hanya bertahan selama 4-5 jam saja. Biasanya tipe ini digunakan untuk mengobati gejala yang muncul tiba-tiba, seperti mengi, sesak napas, dan nyeri di dada.
Saat gejala tidak muncul, pasien mungkin tidak membutuhkan obat ini. Beberapa contoh dari obat jenis ini adalah albuterol (ProAir HFA, Ventolin HFA, Proventil HFA), levalbuterol (Xopenex HFA), atau pirbuterol (Maxair).
Bronkodilator efek lama
Jenis ini merupakan kebalikan dari yang sebelumnya. Obat ini bekerja lebih lama dan bertahan selama 12 jam hingga satu hari penuh.
Obat ini diperuntukkan untuk penggunaan harian, bukan untuk meredakan gejala yang muncul mendadak. Beberapa contohnya, meliputi salmeterol (Serevent), formoterol (Perforomist), aclidinium (Tudorza), tiotropium (Spiriva), dan umeclidinium (Incruse).
Tipe bronkodilator berdasarkan komponennya

Selain efek kerja obat, bronkodilator juga dikategorikan berdasarkan komponennya, yakni:
Agonis beta-2
Obat ini terdiri dari salbutamol, salmeterol, formoterol dan vilanterol. Obat ini dapat digunakan pada efek cepat dan lama. Biasanya, digunakan dengan cara dihirup dengan inhaler genggam kecil atau nebulizer. Bisa juga dalam bentuk tablet kecil atau sirup.
Namun, orang dengan kondisi tertentu perlu berhati-hati menggunakan obat ini. Contohnya, pada orang dengan hipotiroidisme, penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes.
Antikolinergik
Obat yang masuk dalam kategori efek cepat dan lama ini terdiri atas ipratropium, tiotropium, aclidinium, dan glikopirronium.
Obat bronkodilator tipe antikolinergik ini adalah obat yang utamanya digunakan pada pasien PPOK, meski bisa juga digunakan untuk pasien asma.
Antikolinergik paling sering digunakan dengan inhaler. Namun, lebih disarankan menggunakan nebulizer jika gejalanya cukup parah.
Cara kerja obat ini adalah melebarkan saluran udara dengan menghalangi saraf kolinergik, yakni saraf yang melepaskan bahan kimia untuk mengencangkan otot di sekitar saluran paru-paru.
Orang dengan pembesaran prostat, gangguan pada kandung kemih, dan glaukoma perlu berhati-hati menggunakan obat ini.
Teofilin
Obat ini termasuk ke dalam tipe tipe obat efek lama. Biasanya dikonsumsi setiap hari dalam bentuk kapsul. Namun, bisa juga disuntikkan ke pembuluh darah jika gejalanya parah. Obat ini bekerja dengan mengurangi pembengkakan di saluran pernapasan.
Orang dengan hipertiroidisme, gangguan hati, hipertensi atau tukak lambung perlu berhati-hati menggunakan obat ini. Meski biasanya digunakan bersamaan dengan obat lain, kadar teofilin bisa menumpuk di dalam tubuh jika bereaksi dengan obat yang tidak tepat.
Efek samping obat bronkodilator


Efek samping penggunaan obat ini bisa bervariasi, bergantung jenis mana yang Anda gunakan. Namun, efek samping umum yang mungkin terjadi antara lain:
- Sakit kepala disertai tangan gemetar dan kram otot
- Mulut kering dan diare
- Batuk, mual, dan muntah
- Jantung berdetak cepat
Sebelum menggunakan bronkodilator, baiknya Anda berkonsultasi lebih dahulu pada dokter. Terutama orang dengan masalah medis tertentu, sedang hamil, atau menyusui. Dokter akan membantu memilih obat yang tepat untuk menangani gejala asma atau PPOK yang Anda miliki.
Kabartangsel.com
Jabodetabek6 hari agoProf Dede Rosyada Tegaskan Pengelolaan Yayasan Triguna dan Syarif Hidayatullah Telah Diserahkan ke Pemerintah Melalui UIN Jakarta
Nasional7 hari agoOTT Senyap Kasus Imigrasi, KPK Beri Kado Hari Lahir Pancasila untuk Rakyat
Pemerintahan6 hari agoPemkot Tangsel Raih Penghargaan Terbaik III Regional Jawa-Bali untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting
Jabodetabek6 hari agoPenjelasan UIN Jakarta soal Insiden Kericuhan di Lingkungan Madrasah Pembangunan Pamulang Tangsel
Pemerintahan7 hari agoSekda Tangsel Bambang Noertjahjo Lepas 357 Atlet untuk POPDA XII dan PEPARPEDA IX Banten 2026
Pemerintahan6 hari agoLomba Inovasi TTG ke-14 Tingkat Kota Tangsel 2026, Unpam dan SMAN 1 Tangsel Raih Juara Pertama
Hukum7 hari agoSatlantas Polres Tangsel Lakukan Penyisiran Ranjau Paku di Sepanjang Jalan Boulevard BSD
Pemerintahan6 hari agoPRA SPMB 2026 Dibuka, Pilar Saga Ichsan: Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota SMP Negeri
























