Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pemilihan umum (Pemilu) itu bukan perang. Pemilu itu adalah pesta demokrasi untuk memilih pemimpin kita yang terbaik.
“Karena itu pesta demokrasi, karena pesta demokrasi harus kita sambut dengan riang gembira,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Tatap Muka dan Ramah Tamah dengan Tokoh dan Masyarakat se Bali, di Taman Werdhi Budaya Art Centre, Kota Denpasar, Provinsi Bali, Jumat (22/3) malam.
Kepala Negara yang dalam kesempatan itu didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengingatkan, jangan sampai ada yang menakut-nakuti, apalagi menebar ancaman-ancaman. Namanya saja pesta demokrasi, kita harus menyambut pesta demokrasi ini dengan cara-cara beradab. Cara-cara yang beretika, cara-cara yang bertata krama, cara-cara yang berbudaya.
“Jangan justru menyemburkan hoaks, menyemburkan kabar bohong, menyemburkan kabar fitnah yang bisa memecah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan kita,” tutur Kepala Negara.
Sebagai bangsa besar, lanjut Kepala Negara, kita harus menatap ke depan dengan penuh optimis. Kalau ada persoalan besar, menurut Kepala Negara, memang ini tantangan kita semuanya untuk menuju ke sebuah negara yang kuat, kuat ekonominya.
Menurut Kepala Negara, diperkirakan tahun 2045, kita akan menjadi empat besar negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Tapi, lanjut Kepala Negara, jangan dipikir mulus, pasti ada tantangannya, pasti ada rintangannya.
“Itulah kenapa kita harus bersatu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Jangan di antara kita dilihat dari luar kita ini rukun-rukun, di dalam malah kelihatan tidak rukun. Sedih saya kalau melihat seperti itu, sedih,” ujar Kepala Negara.
Pemilu Ada Terus
Sebelumnya terkait penyelenggaraan Pemilu, Presiden Jokowi pada awal sambutannya menyampaikan,
jangan sampai karena perbedaan pilihan, kita menjadi saling bermusuhan, menjadi tidak rukun, menjadi tidak bersatu.
Yang namanya pilpres, yang namanya pilihan gubernur, yang namanya pilihan bupati, yang namanya pilihan wali kota, jelas Presiden, setiap lima tahun itu akan ada terus. “Masa kita akan terus membangun permusuhan karena perbedaan pilihan? Ya jangan, jangan,” tuturmya.
Sekali lagi, Kepala Negara mengingatkan, jangan sampai karena urusan politik antartetangga tidak bertegur sapa, antarsemeton terputus tali persahabatan yang bisa menyebabkan hilangnya persatuan, kerukunan, dan persaudaraan di antara kita.
“Tapi saya yakin Krama Bali memegang teguh nilai-nilai menyama braya. Sebuah pengakuan sosial bahwa kita tetap bersaudara yang harus saling bantu membantu di dalam suka maupun di dalam duka,” ucap Kepala Negara.
Sport6 hari agoVeda Ega Pratama Kena Hukuman Long Lap Penalty, Misi Berat Menanti di Moto3 Hungaria 2026
Nasional6 hari agoKementerian UMKM Terus Dorong Penguatan Kemitraan Global bagi Pelaku UMKM Indonesia
Nasional6 hari agoWamen UMKM Helvi Moraza Dorong Bali Jadi Pusat Wellness Dunia
Bisnis6 hari agoIKPP Tangerang 50 Tahun Berkarya, Perkuat Kontribusi Lingkungan dan Sosial melalui Rekam Jejak Penghargaan Berkelanjutan
Komunitas5 hari agoKONGRES 2026 Tandai Era Baru Kebangkitan Musik Reggae Lokal di Tangsel
Nasional5 hari agoPresiden Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, Trenggono dan Agustina Arumsari sebagai Wakil Kepala BGN, serta Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden
Sport5 hari agoShin Tae-yong Resmi Jadi Pelatih Kepala Persija Jakarta untuk Musim 2026/2027
Pendidikan5 hari agoCreative Portfolio Showcase 2026, Terobosan SMK Budi Luhur dalam Penilaian Kompetensi Siswa











