Dalang Kondang Ki Enthus Susmono Meninggal Dunia

By on Senin, 14 Mei 2018

Enthus Susmono, dalang kondang yang kini menjabat sebagai Bupati Kendal periode 2014-2019 dikabarkan meninggal dunia. Enthus yang saat ini tengah mengikuti Pilkada Kabupaten Tegal berpasangan dengan Umi Azizah untuk kembali mencalonkan menjadi Bupati Tegal ini meninggal pada Senin, 14 Mei 2018 sekira pukul 19.10 WIB di RS. Soeselo, Slawi.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah dgn tenang Bupati Tegal (definitif) Bpk. Enthus Susmono pd hari ini pk 19.10 WIB saat akan menghadiri pengajian di Argatawang Jatinegara. Semoga almarhum khusnul khotimah,” demikian cuitan dari akun remi Humas Kabupaten Tegal @humastegalkab, Senin (14/5/2018).

Info meninggalnya dalang yang mempopulerkan wayang santri ini juga beredar di grup Whatsapp.

“Telah meninggal dunia Bupati Tegal Bp. H. Enthus Soesmono pd hari ini Senin 14 Mei 2018 pk. 19.10 wib dlm usia 52 th wib di RS. SOESELO Slawi,” demikian pesan berantai di grup whatsapp dengan pengirim tertanda Pjs. Bupati Tegal Sinung N. Rachmadi.

Dikutip dari laman Wikipedia, Enthus Susmono atau yang lebih dikenal Ki Enthus Susmono dibesarkan dari lingkungan keluarga dalang. Ia adalah anak semata wayang Soemarjadihardja, dalang wayang golèk Tegal dengan istri ke-tiga bernama Tarminah. Bahkan kakek moyangnya, R.M. Singadimedja, merupakan dalang terkenal dari Bagelen pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.

Ki Enthus, begitu sapaannya, dengan segala kiprahnya yang kreatif, inovatif serta intensitas eksplorasi yang tinggi, telah mengantarkan dirinya menjadi salah satu dalang kondang dan terbaik yang dimiliki Indonesia. Pikiran dan darah segarnya mampu menjawab tantangan dan tuntutan yang disodorkan oleh dunianya, yaitu jagat pewayangan.

Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ia juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisi (gamelan)[2]. Kekuatan mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya pakeliran-nya menjadi hidup dan interaktif. Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur. Pada tahun 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Dan pada tahun 2008 ini dia mewakili Indonesia dalam event Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.

Ia adalah salah satu dalang yang mampu membawa pertunjukan wayang menjadi media komunikasi dan dakwah secara efektif. Pertunjukan wayangnya kerap dijadikan sebagai ujung tombak untuk menyampaikan program-program pemerintah kepada masyarakat seperti: kampanye; anti-narkoba, anti-HIV/Aids, HAM, Global Warming, program KB, pemilu damai, dan lain-lain. Di samping itu dia juga aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga.

Kemahiran dan ‘kenakalannya’ mendesain wayang-wayang baru/kontemporer seperti wayang George Bush, Saddam Hussein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat. Ribuan penonton selalu membanjiri saat ia mendalang. Keberaniannya melontarkan kritik terbuka dalam setiap pertunjukan wayangnya, memosisikan tontonan wayang bukan sekadar media hiburan, melainkan juga sebagai media alternatif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat (kt/fid)