Banten
KH Matin Syarkowi: Pesantren Tidak Ajarkan Kekerasan

Pondok pesantren tidak pernah mengajari santri melakukan tindakan kekerasan dan radikal dalam menyikapi perbedaan agama, kata Ketua Majelis Pesantren Salafi (MPS) Provinsi Banten KH Matin Syarkowi di Serang, Kamis, (21/11/2013)
“Tidak pernah ada santri atau pondok pesantren yang tawuran. Tapi kenapa saat ini jika ada tindakan kekerasan dan paham radikalisme itu orang selalu mengaitkan dengan pondok pesantren,” kata Matin dalam Diskusi Publik “Gerakan Kultur Cegah Paham Radikal” di Kanwil Kemenag Provinsi Banten.
Ia mengatakan, kultur dan pendidikan di pondok pesantren apalagi Pesantren Salafi dengan pola asuh, jauh berbeda dengan pendidikan modern, apalagi dengan pendidikan yang tidak disertai dengan sistem pendidikan pesantren.
“Anak-anak pelajar sekarang lebih senang dengan tawuran, itu bagian dari tindakan kekerasan yang dilakukan. Ini tidak akan pernah terjadi di kalangan santri pondok pesantren,” kata Matin.
Sebab, Islam juga tidak mengajarkan tindakan-tindakan kekerasan dalam menyelesaikan suatu perbedaan, sekalipun ada anggapan sebagian orang melakukan tindakan dengan kekerasan itu dalam upaya mencegah kemungkaran. Akan tetapi, itu bukan bagian dari cara-cara orang Islam menyelesaikan perbedaan pandangan.
“Gerakan-gerakan radikal yang muncul dengan mengatasnamakan Islam adalah kelompok yang lahir dari pemahaman yang salah, atau tidak memahami Islam secara menyeluruh,” kata Matin dalam diskusi publik yang dihadiri kalangan santri, pelajar dan mahasiswa.
Hadir selaku narasumber lain dalam diskusi tersebut tokoh masyarakat Banten H Embay Mulya Syarief dan Direktur Bantenologi Mufti Ali.
Matin mengatakan, pendidikan Pondok Pesantren memiliki kultur yang kuat terhadap budaya toleransi, perdamaian serta menghindari tindakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan pandagangan dan pemahaman. Secara kultural, itu diajarkan dan dipelopori oleh gerakan para ulama dan kyai di Banten pada masa lalu.
Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief mengatakan, apabila melihat dari perjalanan Syekh Yusuf sebagai ulama dan kyai Banten pada masa lalu, Islam mengajarkan kelembutan dan anti kekerasan. Hanya saja, ada alasan orang melakukan kekerasan karena ingin mengubah sebuah kemunkaran dengan kekuatan tangan yang dikuatkan dengan hadits.
“Melakukan kekerasan dengan alasan mengubah kemungkaran adalah salah kaprah dan salah memaknai hadist nabi dan tidak memahami sebab keluarnya hadis tersebut,” katanya.
Ia mengatakan, Nabi Muhammad menyampaikan hadis dengan bunyi ubahlah kemungkaran dengan kekuasaan, karena saat itu Nabi Muhammad sedang menjadi pemerintah di Madinah. Dengan demikian, maksud hadis itu adalah mengubah kemunkaran bisa dengan cara nasehat, melaporkan kepada pemerintah dan cara lainnya tanpa tindakan kekerasan.
Sementara, Direktur Bantenologi Mufti Ali mengatakan, sisi menonjol pada kepribadian para santri dan kyai masa lalu yakni sikap yang moderat, mampu mengaktualisasikan nilai-nilai kultural sebagai gerakan untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.
Kemudian, Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam moderat, karena santri dan kiai sebagai salah satu peran yang mengedepankan gerakan kultural di masyarakat, baik melalui seni budaya, dan tradisi lokal di masyarakat.
“Santri, pelajar, mahasiswa, aktivis saat ini harus banyak belajar dari para santri dan ulama terdahulu. Saat zaman modern seperti sekarang ini, gerakan kultural menjadi sangat urgen dalam mencegah paham radikalisme,” kata Mufti. (Ant/kt)
Jabodetabek5 hari agoProf Dede Rosyada Tegaskan Pengelolaan Yayasan Triguna dan Syarif Hidayatullah Telah Diserahkan ke Pemerintah Melalui UIN Jakarta
Pemerintahan7 hari agoPilar Saga Ichsan Buka Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna ke-14 Tingkat Kota Tangsel
Nasional5 hari agoOTT Senyap Kasus Imigrasi, KPK Beri Kado Hari Lahir Pancasila untuk Rakyat
Banten7 hari agoBenyamin Davnie Sambut Tim Penilai PKK Banten, Pondok Pucung Tampilkan Program Unggulan
Banten7 hari agoJemaah Haji Kloter Pertama Banten Tiba di Tanah Air
Pemerintahan5 hari agoPemkot Tangsel Raih Penghargaan Terbaik III Regional Jawa-Bali untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting
Jabodetabek5 hari agoPenjelasan UIN Jakarta soal Insiden Kericuhan di Lingkungan Madrasah Pembangunan Pamulang Tangsel
Pemerintahan5 hari agoLomba Inovasi TTG ke-14 Tingkat Kota Tangsel 2026, Unpam dan SMAN 1 Tangsel Raih Juara Pertama





















