Bisnis
Kolaborasi dengan KKP, KLHK Dukung Pembangunan Blue Economy Melalui Blue Carbon

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) menggelar Workshop pada Mei ini. Objektif dari gelaran workshop ini adalah untuk mengangkat potensi blue carbon dan mendukung pembangunan blue economy serta pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia di Kantor KLHK.
Workshop yang mengusung tema “Blue Carbon dalam Pembangunan Blue Economy dan Pencapaian Target NDC” ini dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen.
Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menerangkan bahwa blue carbon merupakan karbon yang diserap dan disimpan pada ekosistem pesisir dan laut, seperti ekosistem mangrove, padang lamun, dan rawa payau.
Ekosistem pesisir diidentifikasi mampu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) secara signifikan dibandingkan hutan daratan. Ekosistem pesisir meliputi hutan mangrove, rawa payau, dan padang lamun, menjadi faktor penting yang diidentifikasi sebagai upaya mitigasi perubahan iklim.
Blue Carbon menjadi salah satu strategi penurunan emisi untuk memenuhi target NDC di tahun 2030 dalam memerangi perubahan iklim. “Untuk itu, KLHK terus berupaya untuk semakin memperkuat bagaimana kontribusi Indonesia di dalam penurunan emisi karbon. KLHK sudah menyiapkan langkah-langkah operasional kaitan dengan forest dan daratan melalui FoLU Net Sink 2030. Ada yang jauh lebih potensial dan sangat penting, yaitu dari sektor pesisir dan ekosistem kelautan,” ucapnya.
Pengembangan blue carbon (karbon biru) sangat penting dan potensial di Indonesia, khususnya ekosistem mangrove. Menjaga dan memperbaiki ekosistem mangrove merupakan suatu cara ampuh untuk menjaga ekosistem kelautan Indonesia sekaligus membuat penangkap karbon yang baik.
“Pemerintah selama ini sudah menanam mangrove dari tahun 2010 sampai 2019 itu 45 ribu hektar lebih. Dan selama tahun 2020, kita sudah menanam 39.970 hektar. Jadi, kita sudah menanam lebih dari 80 ribu hektar. Seperti arahan Bapak Presiden, akan dilakukan penanaman sampai 600 ribu hektar lebih,” lanjut Siti.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Trenggono juga menegaskan hal yang sama. “Kita memang harus saling support bersama, untuk menjaga ekosistem alam. Jadi, kita dihadapkan pada suatu keadaan yang mana ekologi harus dijaga, tapi di sisi lain ekonomi harus tumbuh dan berkembang. Karena pertumbuhan manusia juga terus meningkat, khusus Indonesia akan semakin meningkat, jadi di laut, kami yakini itu lebih besar dibandingkan di darat (dalam menyerap karbon),” ucapnya.
Bersama menteri LHK, lanjutnya, KKP akan membuat satu terobosan baru melalui FGD sehingga bisa didapatkan rumusan yang siginifikan. “Jadi, salah satu contoh yang sedang dalam pembahasan adalah bagaimana merestorasi mangrove, sisi lain adalah ruang konservasi di laut yang sangat terjaga dan tidak bisa disentuh oleh aktivitas umat manusia,” pungkasnya.
(rls/MC)
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026: Belanda vs Swedia, Jerman vs Pantai Gading, Ekuador vs Curacao, Tunisia vs Jepang, dan Spanyol vs Arab Saudi
Bisnis3 minggu agoPLN Luncurkan Circular Waste Initiative di Ragunan
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Senin 22 Juni: Belgia vs Iran, Uruguay vs Cape Verde, Selandia Baru vs Mesir, Argentina vs Austria
Bisnis4 minggu agoDorong Operasional Logistik yang Ramah Lingkungan, Modena Group Beralih ke Kendaraan EV
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Alokasikan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta per Siswa untuk 94 SMP Swasta pada Tahun Ajaran 2026/2027
Bisnis4 minggu agoEvolusi Mie Sedaap: Dari Brand Mi Instan Menjadi Platform Kreativitas dan Pengalaman Generasi Muda
Tangsel3 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia
Bisnis4 minggu agoJKP Instrumen Penting Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja






















