Kelahiran Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) berangkat dari kegelisahan para ulama moderat dalam melihat situasi negara akhir-akhir ini. Ulama-ulama moderat memandang perlunya mendorong kembali spirit keagamaan dan kebangsaan masyarakat Indonesia. Termasuk mengingatkan kembali rekam jejak perjalanan panjang Indonesia, yang telah bersepakat menjunjung tingg nilai universalitas yang wujudnya adalah Pancasila.
Dalam konteks Indonesia, Islam dan tradisi kehidupan masyarakat harus terus dijaga hubungannya. Kenapa demikian, karena selama ini, antara spririt keagamaan dan tradisi masyarakat Indonesia, sudah terkombinasi sangat lama. Dua hal tersebut, nilanya menjadi strategis untuk mempersatukan dan mempertemukan agama (Islam) dengan nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Alasan inilah menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hery Haryanto Azumi yang menjadikan KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU yang juga Ketua MUI mendirikan MDHW.
“Sebagai langkah awal kami menginisiasi halaqoh nasional alim ulama di Hotel Borobudur, 13-14 Juli lalu,” jelasnya.
Pada pertemuan nasional tersebut, lanjut dia, MDHW memilih tema untuk mengangkat isu hubungan ke-Islaman dengan nasionalisme Indonesia. Pilihan isu ini merujuk pada dinamika sosial dan politik negara yang mengarah pada terjadinya pembenturan kepentingan antara kelompok agamis dan nasionalis. Disitulah, kata Hery, sekaligus MDHW dideklarasikan. Sekadar diketahui, Halaqoh Nasional Alim Ulama saat itu, Presiden RI Joko Widodo dan mantan Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri dan Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan dan 700 kiai yang mewakili seluruh Indonesia.
Keberadaan MDHW diharapkan menjadi katalisator terbangunnya aliansi/koalisi strategis bagi elemen agama (Islam) dan nasionalis untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari intervensi paham, ajaran dan ideologi yang membahayakan keutuhan NKRI. Namun yang terpenting, masih menurut Hery, MDHW juga menjadi wadah bagi seluruh elemen bangsa untuk mencarikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa.
Visi MDHW adalah ingin mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang agamis dan nasionalis, berkeadilan dan demokratis. Sementara misi MDHW adalah mengonsolidasikan semua elemen/perwakilan kelompok masyarakat untuk mencarikan jalan keluar penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi bangsa. Dalam konteks keindonesiaan, MDHW ingin menjadi garda terdepan dalam mengawal NKRI dan Pancasila, serta tempat berkumpulnya seluruh elemen bangsa, khususnya para kiai dan alim ulama. Dalam konteks global, MDHW ingin menjadi jempatan komunikasi dan silaturahmi antar umat beragarama, khususnya ulama-ulama dari berbagai negara. (sm/fid)
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026: Belanda vs Swedia, Jerman vs Pantai Gading, Ekuador vs Curacao, Tunisia vs Jepang, dan Spanyol vs Arab Saudi
Bisnis3 minggu agoPLN Luncurkan Circular Waste Initiative di Ragunan
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Senin 22 Juni: Belgia vs Iran, Uruguay vs Cape Verde, Selandia Baru vs Mesir, Argentina vs Austria
Bisnis4 minggu agoDorong Operasional Logistik yang Ramah Lingkungan, Modena Group Beralih ke Kendaraan EV
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Alokasikan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta per Siswa untuk 94 SMP Swasta pada Tahun Ajaran 2026/2027
Bisnis4 minggu agoEvolusi Mie Sedaap: Dari Brand Mi Instan Menjadi Platform Kreativitas dan Pengalaman Generasi Muda
Pemerintahan4 minggu agoCegah Kekerasan Sejak Dini, Pemkot Tangsel Edukasi Masyarakat soal Kesehatan Mental
Tangsel2 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia














