Connect with us

“Jika dahulu kala, para founding father dan pahlawan kita berjuang melawan penjajah dengan bambu runcing, maka di jaman yang serba digital ini, aku berjuang dengan bambu untuk mendukung kedaulatan dan ketahanan papan, pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, energi dan lingkungan masyarakat Indonesia”

– Muqoddas Syuhada –


Tangsel, Kabartangsel.com – Ada yang tahu, masa depan akan menjadi seperti apa setelah era teknologi informasi? Dunia sekarang sudah tanpa batas. Ruang dan waktu sudah tidak menjadi kendala lagi. Dunia akan dikendalikan oleh orang-orang yang mempunyai teknologi dan inovasi. Era Teknologi Informasi ini akan berakhir seiring dengan habisnya sumber daya alam. Karena mereka lupa untuk melestarikannya. Manusia akan digantikan mesin dan robot yang sudah diprogram oleh teknologi informasi.

Dulu, zaman kekaisaran, para nabi sampai kerajaan, perang dilakukan dengan senjata pedang, golok, tombak dan sejenisnya, disertai dengan yang agak canggih busur panah dan ketapel dengan jangkauan yang masih terbatas. Zamannya perang dunia pertama dan kedua, sudah menggunakan senjata api, meriam, bom, pesawat dan kapal berawak.

Advertisement

“Zaman sekarang perangnya sudah dilengkapi dengan teknologi informasi, teknologi digital, pesawat tanpa awak. Akhirnya, Zaman yang akan datang, teknologi dan inovasi lah yang akan berperang,” kata Founder dan Owner Banten Creative Community (BCC) Muqoddas Syuhada, di Tangerang Selatan (Tangsel), Jum’at, (26/8/2016).

Sementara manusianya sendiri, lanjut Mukoddas, kebingungan mendapatkan sumber daya alam yang sudah langka bahkan ada yang punah. Bagaimana dengan Indonesia? Negeri gemah ripah loh jinawi yang terletak di zamrud khatulistiwa.

“Sebenarnya SDM Indonesia hebat-hebat dan unggul dibanding negara lain, bahkan negara adikuasa sekali pun. Namun hasil penelitiannya banyak diimplementasikan di luar negri dan tidak terpakai di dalam negeri. Sumber daya alamnya pun sangat banyak sekali. Namun sayang tidak dikelola dengan baik dan cenderung hanya di eksploitasi,” lanjutnya.

Pria yang akrab disapa Das Albantani itu jelaskan, sebagai contoh sederhana adalah keberadaan benteng-benteng alam seperti bukit yang sekarang mulai rata dengan permukaan air laut karena diambil tanah dan bebatuannya untuk keperluan material bangunan. Contoh lain adalah banyaknya lahan-lahan bekas tambang yang dibiarkan gersang dan menjadi kolam raksasa yang sering memakan korban jiwa. Sejak orde reformasi yang sudah berjalan 18 tahun, banyak sekali yang berubah meskipun masih lambat dalam mewujudkan cita-cita reformasi.

Advertisement

“Krisis multidimensi masih mewarnai perjalanan era reformasi, meskipun di era kepemimpinan Jokowi satu persatu krisis itu mulai dibenahi. Namun karena berimbangnya kelompok yang pro dan kontra, jadilah era Jokowi ini tidak berjalan mulus dan tersendat-sendat, sehingga masih tertinggal dengan negara-negara lain bahkan ditingkat ASEAN sekalipun,” ulas Mukoddas yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Tata Kota Bangunan dan Pemukiman (DTKBP) KotaTangsel.

Jika kondisi ini dibiarkan terus, maka Indonesia akan tambah tertinggal tergerus oleh kemajuan teknologi dan inovasi negara lain. Selain itu, di masa yang akan datang, kita akan sulit mendapatkan dua elemen sumber kehidupan yang sangat vital, yaitu oksigen dan air bersih. Kemajuan teknologi dan inovasi yang dilakukan sekarang sangat berdampak serius terhadap tatanan keseimbangan lingkungan.

Mukoddas Syuhada menerima penghargaan Ganesa Widya Jasa Adiutama dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada peringatan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) ke- 96 (1920-2016)

“Jika dahulu kala, para founding father dan pahlawan kita berjuang melawan penjajah dengan bambu runcing, maka di jaman yang serba digital ini, aku berjuang dengan bambu untuk mendukung kedaulatan dan ketahanan papan, pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, energi dan lingkungan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Melalui latar belakang dan pemikirannya itulah, pria kelahiran Serang 28 Oktober 1976 itu selama empat tahun terakhir ini fokus melestarikan dan memanfaatkan bambu dengan membangun Akademi Bambu Nusantara (ABN) dengan kurikulum rekonstruksi sosial  yang akan diduplikasi di seluruh penjuru Nusantara dengan target minimal ada di setiap Kabupaten/Kota.  Bahkan salah satu ide gilanya, dia membuat sistem untuk aplikasi survey material alam, tanaman, perkebunan, titik pohon dan lain sebagainya. Untuk bambu, dirinya sudah meluncurkan aplikasi android bernama “Bambu Nusa” yang bisa diunduh di Google play Store. Selain itu, Muqoddas juga melakukan riset dan kajian tentang bambu sebagai material masa depan untuk menggantikan fungsi kayu, logam, plastik, benang dan energi fosil yang akan mendukung kedaulatan dan ketahanan papan, pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, energi, dan lingkungan masyarakat Indonesia. Bahkan untuk mendukung program pemerintah sebanyak 13 juta rumah yang layak huni dan terjangkau, dirinya membuat konsep Rumah Bambu Nusantara dan Rumah Oksigen.

Advertisement

Atas dedikasinya selama ini menjadi inisiator dalam mengembangkan dan menyebarluaskan inovasi-inovasi khususnya terkait material bambu, Mukoddas Syuhada menjadi salah satu penerima penghargaan Ganesa Widya Jasa Adiutama dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada peringatan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) ke- 96 (1920-2016) di Bandung, Sabtu (20/8/2016) lalu. Pada peringatan PTTI ke-96 itu, ITB memberikan penghargaan kepada 29 orang atau institusi dan kelompok masyarakat atas jasa dan prestasinya dalam pengembangan iptek serta pengabdian kepada institusi nasional dan internasional. Mukoddas Syuhada merupakan alumni Arsitektur ITB angkatan 1995. (fid)

Populer