Connect with us

Lifestyle

Resepsi Pernikahan di Tengah Pandemi COVID-19

Published

on

Di masa pandemi COVID-19 ini, semua orang terus diimbau untuk melakukan protokol kesehatan 5M3T, salah satunya adalah menjauhi kerumunan. Sayangnya, pesta pernikahan pada umumnya justru menimbulkan kerumunan karena mengumpulkan banyak orang dari berbagai wilayah berbeda. Bagaimana tips menggelar resepsi pernikahan di masa pandemi?

Seperti apa risiko acara resepsi pernikahan di masa pandemi COVID-19?

 

Pandemi COVID-19 menular melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi melalui cipratan cairan (droplet) yang keluar saat bicara, batuk, ataupun bersin. Penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 ini juga bisa menular melalui sentuhan dengan permukaan benda yang terkontaminasi, lalu memegang wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Advertisement

Dalam keadaan tertentu, COVID-19 juga bisa menular melalui udara (airborne), misalnya dalam ruang tertutup yang memiliki sirkulasi udara yang buruk.

Selama pandemi ini, ada beberapa kasus penularan besar (superspreading event) yang terjadi dalam resepsi pernikahan dan perkumpulan serupa.

Contohnya yang terjadi di Sragen, Jawa Tengah, di mana COVID-19 menewaskan salah satu pengantin dan kedua orang tuanya. Padahal pihak kepolisian setempat telah mengonfirmasi sebelumnya bahwa acara hanya berupa ijab kabul yang dihadiri keluarga dekat.

Risiko penularan lebih tinggi di acara pernikahan, karena banyaknya orang yang berkumpul dengan posisi yang berdekatan.

Advertisement

Sulit untuk benar-benar memastikan bahwa semua orang terbebas dari virus ini. Bisa saja ada salah satu tamu undangan yang sebenarnya telah terinfeksi tapi tidak menimbulkan gejala.

Mereka yang tidak bergejala masih bisa menularkan virus ke orang lain. Sebab virus COVID-19 dapat menyebar melalui droplet dengan jarak sekitar 1 meter dari orang yang terinfeksi.

Berada di tempat umum juga membuat Anda mau tak mau lebih sering menyentuh permukaan yang  terkena kontak fisik banyak orang, seperti meja atau kursi. Menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi bisa membuat Anda tertular virus tidak rajin mencuci tangan.

Selain itu, sirkulasi udara yang terbatas serta banyaknya orang-orang yang berbicara juga bisa meningkatkan risiko penularan COVID-19 di ruang tertutup.

Advertisement

Bagaimana mengurangi risiko penularan saat mengadakan pesta pernikahan?

Salah satu tips utama adalah selalu ingat menjalankan protokol kesehatan, dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Selain itu, lakukan juga vaksinasi untuk mengurangi risiko terhadap COVID-19.

Bila Anda adalah tamu undangan, jangan lupa kenakan masker yang sesuai dengan anjuran, yakni masker bedah atau masker kain tiga lapis. Selain itu tetap menjaga jarak dengan orang lain dan bawalah hand sanitizer ke mana pun Anda pergi.

Nah, bagi Anda yang ingin melangsungkan acara resepsi pernikahan di masa pandemi, tentunya Anda harus mengetahui terlebih dahulu peraturan yang berlaku ketika PPKM diberlakukan.

Pada PPKM level 4, pelaksanaan resepsi pernikahan harus ditiadakan atau ditunda. Pada PPKM level 3, Anda bisa mengadakan resepsi dengan maksimal 20 undangan dan tidak mengadakan makanan di tempat.

Sedangkan pada PPKM level 2, pelaksanaan acara dapat dilakukan dengan maksimal 50 undangan dan tidak mengadakan di tempat.

Advertisement

[community id=”12″ name=”COVID-19″]

Jika resepsi pernikahan sudah boleh digelar, berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda ikuti.

1. Adakan pesta dengan skala kecil

Pesta pernikahan di masa pandemi lebih baik diselenggarakan dengan skala kecil. Acara cukup dihadiri keluarga dan teman terdekat. Secara umum, semakin kecil skala pestanya maka semakin sedikit tamu dan risiko penularan akan berkurang.

Baik dilangsungkan dalam atau luar ruangan, tetap batasi jumlah pengunjung acara dengan memperhatikan luas area acara pernikahan. Perhatikan juga jarak tempat duduk yang disediakan bagi tamu undangan.

Advertisement

2. Membuat acara di luar ruangan

Tempat terbaik untuk menghindari penularan adalah di luar ruangan atau udara terbuka. Hal ini dikarenakan risiko penularan di dalam ruangan sekitar 18 kali lebih tinggi daripada di luar ruangan.

Jika sudah terlanjur memilih di dalam ruangan maka perhatikan sirkulasi udara di dalam ruangan.

3. Hindari penyajian makanan prasmanan

Dalam panduan penerapan new normal, pemerintah mengimbau bagi restoran untuk tidak menyediakan makanan prasmanan, begitu pun dalam sebuah pesta. Makanan prasmanan berisiko menjadi jalur penularan karena penggunaan peralatan saji, sendok sayur dan centong nasi, yang disentuh oleh hampir semua tamu secara bergantian.

4. Sediakan hand sanitizer dan tempat cuci tangan  

Sebagai antisipasi, sebaiknya sediakan fasilitas ini agar tamu undangan bisa mencuci tangan sebelum maupun sesudah menghadiri resepsi pernikahan. Sediakan juga kebutuhan lain seperti tisu, masker, dan penanda untuk tetap jaga jarak.

Advertisement

Selain itu, WHO juga menganjurkan agar panitia penyelenggara tetap mengingatkan pentingnya menjaga protokol kesehatan untuk seluruh tamu undangan yang hadir.

[article-spotlight]

Pada dasarnya pelaksanakan pengetatan aktivitas dan edukasi harus dijalankan sesuai dengan prinsip sebagai berikut:

  1. COVID-19 paling menular pada kondisi tertutup, pertemuan berlangsung lama (lebih dari 15 menit), interaksi jarak dekat, keramaian, aktivitas dengan bernapas kuat seperti bernyanyi, berbicara, tertawa, dan tak memakai masker seperti pada saat makan bersama;
  2. penggunaan masker dengan benar dan konsisten adalah protokol kesehatan paling minimal yang harus diterapkan setiap orang;
  3. mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer secara berulang terutama setelah menyentuh benda yang disentuh orang lain (seperti gagang pintu atau pegangan tangga), menyentuh daerah wajah dengan tangan perlu dihindari;
  4. jenis masker yang baik akan lebih melindungi dengan penggunaan masker sebanyak 2 (dua) lapis merupakan pilihan yang baik. Masker sebaiknya perlu diganti setelah digunakan lebih dari 4 jam;
  5. penerapan protokol kesehatan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor ventilasi udara, durasi, dan jarak interaksi, untuk meminimalisir risiko penularan dalam beraktivitas.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

(Hello Sehat)

Advertisement

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer