Connect with us

Kabupaten Tangerang

Warga Keluhkan Pembuangan Limbah Diduga Dari Pabrik Mayora

Warga RT 01 RW 02 Desa Gembong, Balaraja, Kabupaten Tangerang mengeluhkan pencemaran limbah yang diduga bersumber dari PT Mayora.

Penyebabnya adalah pembuangan limbah dari perusahaan makanan dan minuman tersebut mencemari Kali Kunir yang menyebabkan air kali mengeluarkan bau menyengat dan berwarna hitam yang sangat mengganggu warga yang tinggal di sekitar kali.

Ketua RT 01 RW 02 Desa Gembong, Doni mengatakan, sebelum tercemar limbah air Kali Cikunir sangat jernih dan bisa digunakan warga untuk mandi, menyuci, dan terutama untuk mengairi persawahan.

Advertisement

“Saya sudah lama tinggal dekat kali Kunir di Desa Gembong ini hingga sekarang menjabat Ketua RT 01, saya dan warga belum pernah diberitahu pihak Mayora bahwa mereka akan membuang limbahnya ke kali ini,” ujarnya.

Menurutnya, PT Mayora juga sama sekali belum pernah memberikan dana kompensasi kepada warganya yang menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang disebabkan limbah pabrik mereka yang dibuang ke Kali Kunir.

“Setahu saya Mayora cuma melakukan bedah rumah kepada salah satu warga di tempat ini (RT 01). Itu pun baru sekali saja dilakukan,” tukas Doni.

Akibat pencemaran limbah pabrik Mayora di Kali Kunir ini, sambung Doni, sumur salah satu warga RT 01 Desa Gembong bernama Ibu Badriah yang rumahnya berdekatan dengan kali, juga ikut tercemar.

Advertisement

“Tadinya sumur saya ini sangat jernih dan sering digunakan warga lain saat sumur mereka kering karena air di sumur saya ini tidak pernah habis. Tapi sekarang warnanya menjadi hitam dan berbau sama seperti air yang ada di kali,” terangnya.

Doni mengaku belum menerima sama sekali bantuan dari pihak Mayora akibat kerugian yang dialaminya ini. Sekarang, dia terpaksa harus membeli air untuk kebutuhan memasak dan minum. Dia mengatakan baru-baru ini ada dari pihak Mayora bernama Muchlis yang datang ke rumahnya untuk mengambil sampel air di sumurnya.

“Katanya untuk diperiksa. Tapi kok ya nggak ada sama sekali pembicaraan soal kerugian yang saya alami akibat ulah mereka itu,” kata Badriah.

Kekesalan terhadap limbah pabrik Mayora ini tidak hanya disampaikan warga Desa Gembong saja. Sebagian warga Desa Sumur Bandung yang rumah-rumah mereka berada di sisi kali Kunir juga mengeluhkan hal yang sama. Hal itu seperti yang disampaikan Pak Een, warga RT 16 RW 05 Desa Sumur Bandung.

Advertisement

Menurut pengakuan warga sekitar Kali Kunir, pembuangan limbah yang dilakukan pabrik Mayora itu dilakukan pada jam-jam tertentu, yaitu sehabis maghrib. Saat itu, air kali Kunir langsung berubah menjadi hitam dan berbau.

“Saya juga pernah coba ambil airnya dan saya siram ke kaki saya, itu airnya terasa panas dan seperti berlumpur,” tegas Doni.

Kepala Desa Gembong Nurjen mengatakan belum ada penjelasan dari PT Mayora sampai saat ini terkait pencemaran limbah pabrik mereka di kali Kunir. Nurjen yang rumahnya juga berada dekat dengan kali Kunir juga mengeluhkan bau menyengat yang keluar dari air kali.

“Komunikasi dengan Mayora belum ada. Harusnya walaupun kami belum berkirim surat, itu kan sudah rilis berita yang ada di media.  Harusnya mereka sudah tahu,” ucapnya.

Advertisement

Karenanya, dia mengatakan akan melakukan secara mandiri uji lab dari air warga yang tercemar limbah pabrik Mayora itu.

“Saya dulu pernah meminta secara lisan kepada Mayora agar pembuangan limbah jangan ke sungai. Tapi mereka beralasan bahwa air yang dialirkan ke sungai Kunir itu sudah disterilkan lebih dulu sebelum dibuang. Tapi nyatanya tidak seperti apa yang disampaikan pihak Mayora kepada warga. Airnya ternyata hitam dan berbau,” tandas Nurjen.

Sementara, pihak PT Mayora, Mukhlis enggan berkomentar saat dikonfirmasi terkait keluhan warga tersebut. (RIZ/WT)

 

Advertisement

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer