Lifestyle
Penyebab Orthorexia, Saat Keinginan Makan Sehat Berubah Jadi Obsesi

Jika kegemaran mengonsumsi makanan sehat sudah berubah menjadi obsesi, kondisi ini disebut sebagai orthorexia. Penyebab orthorexia bisa berbeda pada setiap orang, tapi dampaknya tetaplah sama. Penderita orthorexia cenderung kekurangan asupan nutrisi karena enggan mengonsumsi makanan yang menurutnya tidak menyehatkan.
Lantas, apa saja faktor yang menjadi pemicu dari kondisi ini?
Beragam faktor penyebab orthorexia
Orthorexia biasanya berawal ketika seseorang mengubah pola makan untuk mencapai gaya hidup yang lebih sehat.
Lama kelamaan, bukan hanya pola makan yang berubah, perilakunya pun bisa terpengaruh oleh semua perubahan ini.
Seseorang mungkin terus-menerus membaca daftar komposisi makanan. Atau, ia tidak lagi mau mengonsumsi daging dan karbohidrat.
Pada lain waktu, ia bisa begitu stres ketika tidak ada makanan yang tergolong ‘sehat’, ‘murni’, ‘organik’, dan sebagainya.
Kondisi ini adalah gejala dari orthorexia. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab orthorexia, tapi sejumlah faktor disinyalir meningkatkan risikonya.
Faktor-faktor tersebut terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
1. Faktor biologis

Orthorexia dapat bersifat genetik. Risikonya meningkat bila terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan makan.
Pada beberapa orang, orthorexia juga bisa disebabkan oleh gangguan pada hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
2. Faktor psikologis


Penyebab orthorexia sering kali berasal dari pengalaman buruk yang berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Berbagai pengalaman buruk yang terjadi dapat memicu reaksi negatif seperti:
- Trauma
- Stres, gangguan kecemasan, dan depresi
- Menurunnya kepercayaan diri
- Rasa minder dan kesepian
- Rasa kehilangan kendali atas kehidupan sendiri ataupun orang lain
- Kesulitan menghadapi perubahan besar dalam hidup
Seseorang yang mengalami orthorexia tanpa sadar menjadikan keinginannya untuk makan sehat sebagai pengalihan dari emosi negatif.
Akan tetapi, keinginan tersebut lambat laun menjadi tidak terkendali sehingga berpengaruh terhadap kesehatannya.
3. Faktor sosial dan budaya


Faktor sosial dan budaya merupakan penyebab tak langsung dari orthorexia.
Tak bisa dipungkiri, masyarakat dan media gencar memberikan gambaran keliru mengenai makanan yang sehat, bentuk badan yang baik, serta pola makan yang bermanfaat.
Penggambaran tersebut meliputi:
- Iklan yang menyatakan bahwa tubuh ideal harus berotot.
- Ajakan untuk menurunkan berat badan secara besar-besaran.
- Stigma bahwa orang yang mengalami obesitas pasti malas.
- Iklan produk jus detoks, makanan organik, pola makan vegan, dan sebagainya.
Meski tidak menjadi penyebab langsung, risiko orthorexia juga meningkat jika Anda bekerja pada bidang yang menuntut Anda untuk lebih memerhatikan kondisi kesehatan.
Mengacu sebuah penelitian dalam jurnal Comprehensive Psychiatry, kasus orthorexia ditemukan pada sekelompok mahasiswa kedokteran.
Pada sebuah studi dalam jurnal Eating and Weight Disorders, kondisi ini kerap terjadi pada atlet.
Sementara pada penelitian lain dalam jurnal yang sama, orthorexia pun ditemukan pada kelompok artis yang terdiri dari penari balet, musisi orkestra, dan penyanyi opera.
Berbeda dengan motivasi untuk makan sehat yang baik bagi tubuh, orthorexia justru bisa menjadi penyebab kekurangan nutrisi.
Tanpa penanganan yang tepat, kekurangan nutrisi dapat mengganggu fungsi tubuh dan menyebabkan sejumlah penyakit.
Tidak ada salahnya mengisi menu makan harian Anda dengan makanan yang menyehatkan.
Namun, jika kebiasaan ini malah mengubah pola makan Anda secara drastis, cobalah berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk menentukan solusinya.
Kabartangsel.com
Internasional6 hari agoPraka Farizal Rhomadhon Prajurit TNI Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL Gugur di Lebanon
Pemerintahan6 hari agoApel dan Halalbihalal, Benyamin Davnie Tekankan Kebersihan Lingkungan hingga Efisiensi Anggaran di Tangsel
Nasional6 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Gelar Halalbihalal Bersama Keluarga Besar Setwapres
Bisnis6 hari agoLG Electronics Indonesia Rilis Mesin Cuci AI Kapasitas Besar, WashTower dan Top Loading Hingga 25 Kg
Otomotif7 hari agoMobil Listrik Terbaik di Indonesia 2026: Tesla Model 3, Hyundai Ioniq 5, Hingga ICAR V23
Banten6 hari agoLiga 4 Piala Gubernur Banten 2026 Diikuti 14 Klub
Bisnis6 hari agoHerbalife Family Foundation Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rp585 Juta untuk Masyarakat Terdampak Banjir di Sumatra
Hukum6 hari agoBhabinkamtibmas Pantau Penyaluran Bantuan Pangan Bulog di Rawabuntu


























