Connect with us

Banten

Aku Buta, Tapi Aku melihat : Kisah Nyata Penyandang Retinis Pigmentosa

Dengan hangat dan ramah, Rachel Stefanie Halim menerima kedatangan Kompas.com di rumahnya di kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan. Ibu rumah tangga itu mengungkapkan motivasinya menulis buku yang mengisahkan perjuangannya sebagai penyandang tunanetra. Buku itu diberinya judul Aku Buta, Tapi Aku melihat. Kepada Kompas.com Rachel bercerita tentang kisah perjuangannya tersebut.

Rachel Stefani Halim, saat di wawancara Kompas.com tentang bukunya di rumahnya di kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan

Banyak suka duka yang dialami Rachel sejak dia divonis dokter menderita penyakit Retinitis pigmentosa, sebuah penyakit kelainan pada retina mata yang menyebabkan penderitannya kehilangan kemampuan melihat.

Salah satunya pengalaman menjadi korban diskriminasi kawan-kawannya semasa kecil. Dia masih ingat bagaimana dalam suatu permainan dia selalu menjadi anak bawang dan dianggap selalu menyusahkan. “Dasar lo buta, udah Rachel jadi anak bawang aja,” ujarnya menirukan ucapan teman-temannya waktu itu.

Tentu saja Rachel sangat sedih. “Namanya anak kecil, saya suka sedih, lari ke kamar lalu nangis, tapi saya nggak mau orang tua saya tahu. Saya hanya mengeluh kepada Tuhan” ujarnya sembari tersenyum kecil.

Ejekan dan penolakan itu berlanjut sampai dia beranjak remaja. Misalnya, dia tidak diterima masuk ke sekolah umum karena kebutaannya. Begitu juga dalam soal asmara, dia sering mengalami patah hati.

Namun ada Mama yang tak henti memberi semangat. “Mami selalu kasih semangat, terutama saat saya patah hati, dia bilang saya pasti bisa dapat yang lebih baik,” ujar Rachel mengenang ucapan ibunya tersebut.

Advertisement

Pengalaman-pengalaman itulah yang akhirnya mendorong Rachel bermimpi menulis sebuah buku. Bermodalkan kursus komputer bicara yang pernah diikutinya dan sebuah blog sederhana bernamakan remang-remang.blogspot.com, Rachel mulai merajut mimpinya itu.

Perjuangan pun dimulai. Rachel mulai mengirim naskahnya ke penerbit. Namun penolakan demi penolakan terus diterimanya. Namun dia tidak patah semangat.

Semangat untuk berbagi pengalaman hidup menuntunnya untuk terus berusaha. Hingga pada akhirnya, kerja kerasnya berbuah manis, melalui kerabat adiknya, buku Rachel mendapatkan peluang untuk diterbitkan.

“Awalnya naskah saya terus ditolak penerbit. Saya tidak putus asa, saya pun berdoa dan akhirnya Tuhan menolong saya melalui suami atasan adik saya yang bersedia menolong. Lama saya tunggu, akhirnya buku saya dapat diterbitkan juga oleh Elex Media Komputindo,” tuturnya dengan wajah berbinar.

Advertisement

Berkat kesabaran dan ketekunannya pula, buku karangannya dapat diterima di masyarakat. Hingga pada Juli 2012 lalu, buku itu pun memasuki cetakan keduanya.

Sekarang, ibu satu anak ini sedang disibukkan dengan mengurus anaknya yang masih kecil. Selain itu, Rachel juga giat menulis puisi dan lagu-lagu rohani yang dia simpan dalam laptop kesayangannya. Rachel berharap suatu saat lagu-lagunya bisa dibawakan di gereja dan menginspirasi orang banyak.

“Saya harap lagu-lagu itu bisa di nyanyikan di gereja, jadi gak tersimpan saja di laptop” ujarnya.

Mengakhiri obrolannya, Rachel menyatakan harapannya agar tidak lagi ada diskriminasi terhadap para penyandang tunanetra. Rachel juga berharap para tunanetra tidak cepat berputus asa dan terus berusaha, karena dia percaya kesempatan itu pasti ada.

Advertisement

“Jangan lagi ada diskriminasi terhadap tunanetra, karena di balik keterbatasan mereka, Tuhan memberikan kelebihan, dan berikanlah kesempatan bagi mereka untuk membuktikan diri” ujarnya.

KOMPAS.com

Populer