Connect with us

Opini

Ketika Makanan Juga Relasi

Oleh: Siti Napsiyah

(Dosen Prodi Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta)

 

 

Advertisement

Membaca Sinyal dari Publik

 

Pidato Prabowo Subianto pada peringatan Hari Buruh Internasional menyisakan satu momen yang layak direnungkan. Ketika Presiden bertanya kepada massa apakah program makan bergizi gratis (MBG) bermanfaat, jawaban yang terdengar justru serempak: “tidak”.

 

Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam isu kesejahteraan sosial anak dan keluarga, saya melihat respons ini bukan sekadar penilaian spontan. Ia adalah pengalaman yang berbicara. Dalam banyak kasus kebijakan sosial, suara semacam ini justru menjadi pintu masuk penting untuk memahami bagaimana sebuah program benar-benar bekerja di lapangan.

Advertisement

 

Sejumlah laporan media, termasuk Kompas, menunjukkan bahwa tantangan  kebijakan public kerap tidak terletak pada rumusan, melainkan pada implementasinya di lapangan. Berbagai menegaskan bahwa ketidaksesuaian antara disain kebijakan dan kondisi nyata masyarakat sering membuat program berjalan tidak optimal atau meleset dari tujuan awalnya (Kompas, 2024;2025).

 

Dalam kerangka hukum, hal ini sejalan dengan amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial yang menegaskan bahwa penyelenggaraan kesejahteraan social harus tepat sasaran, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan nyata masyarakat. Dalam perspektif kesejahteraan social, pendekatan person in-environment menekankan bahwa keberhasilan intervensi sangat ditentukan oleh kesesuaian program dengan konteks social tempat individu dan keluarga hidup (Germain & Gitterman, 1980). Dengan demikian, efektivitas kebijakan tidak hanya ditentukan oleh disain, tetapi kemampuannya memahami kehidupan sehari-hari masyarakat.

Advertisement

 

 

Gizi Anak sebagai Mandat Negara

 

Kita perlu menegaskan sejak awal bahwa program MBG merupakan kebijakan yang berada di jalur yang benar. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting masih berada di kisaran 19,8 persen. Di balik angka ini, ada anak-anak yang tumbuh tidak optimal, serta keluarga yang menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Advertisement

 

Dalam perspektif kesejahteraan sosial, kondisi ini adalah mandat negara. Anak berhak atas gizi yang layak, dan negara memiliki kewajiban untuk memastikan pemenuhannya. Sebagaimana termaktub dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak yang menempatkan pemenuhan hak anak -termasuk gizi- sebagai tanggung jawab negara, keluarga, dan masyarakat.

 

Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menempatkan MBG sebagai program prioritas dengan target menjangkau jutaan anak dan dukungan anggaran besar, sebagaimana diberitakan Kompas. Dalam hal ini, kehadiran negara tidak bisa ditawar. Namun, yang perlu kita diskusikan bukan apakah MBG diperlukan, melainkan bagaimana program ini dijalankan agar benar-benar bermakna.

Advertisement

 

Ketika Makanan Juga Soal Relasi

 

Dalam keseharian keluarga Indonesia, makanan tidak pernah sekadar urusan perut. Bekal makanan yang dibawa anak ke sekolah sering kali merupakan perpanjangan dari relasi orang tua—terutama ibu—dengan anak. Di dalamnya ada perhatian, kebiasaan, bahkan nilai yang ditanamkan secara halus melalui “menu” makanan hasil resep warisan keluarga.

 

Advertisement

Di ruang sekolah, bekal makanan itu menjadi medium sosial. Anak saling berbagi, mencicipi, dan belajar mengenal perbedaan. Dari situ, mereka membangun empati dan kebersamaan.

 

Jika makanan disediakan secara seragam setiap hari, pertanyaannya adalah apakah ruang-ruang kecil ini masih tersedia?

 

Advertisement

Dalam perspektif Pierre Bourdieu (1979), praktik konsumsi membentuk habitus—cara individu mengenali dan menempatkan diri dalam dunia sosial. George Herbert Mead (1934) menekankan bahwa interaksi sehari-hari adalah fondasi pembentukan diri. Sementara Jürgen Habermas (1981) mengingatkan bahwa intervensi sistem yang terlalu dominan dapat mereduksi ruang kehidupan personal.

 

Dalam konteks ini, MBG berpotensi menghadirkan dilemma, yaitu antara memenuhi kebutuhan gizi, tetapi sekaligus berisiko menyederhanakan pengalaman sosial anak.

 

Advertisement

 

Dari Memberi Makan ke Memberdayakan

 

Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa program makan sekolah dapat dirancang lebih luas dari sekadar intervensi gizi.

 

Advertisement

Di Brasil, program makan sekolah terhubung dengan petani lokal, sehingga mendorong ekonomi desa. Di Jepang, makan sekolah menjadi bagian dari pendidikan karakter dan tanggung jawab. Sementara di Finlandia, program ini terintegrasi dengan pendidikan kesejahteraan.

 

Di Indonesia, arah ini sebenarnya mulai terlihat. Sejumlah praktik yang disorot Kompas menunjukkan bahwa ketika penyediaan makanan melibatkan dapur lokal, UMKM, dan kelompok ibu, dampaknya tidak hanya pada gizi anak, tetapi juga pada penguatan ekonomi keluarga.

 

Advertisement

Ini penting: MBG memiliki potensi menjadi program kesejahteraan sosial yang memberdayakan, bukan sekadar distribusi bantuan.

 

Apa yang Perlu Dibenahi

 

Agar MBG tidak berhenti pada fungsi dasar sebagai penyedia makanan, beberapa langkah perlu dipertimbangkan secara serius.

Advertisement

 

Kepada Presiden, penting untuk menegaskan bahwa MBG adalah program afirmatif yang adaptif. Fleksibilitas dalam frekuensi, menu, dan pelaksanaan perlu dibuka agar kebijakan ini tidak menyeragamkan kehidupan anak di berbagai daerah. Misalnya, MBG tidak musti diberikan setiap hari, bisa diberikan misalnya seminggu tiga atau empat hari saja (tentu efisiensi anggaran negara juga dapat dimaksimalkan). Selain itu, agar memberi ruang daerah untuk Menyusun menu berbasis makanan local, seperti ikan di wilayah pesisir atau sumber protein nabati di daerah agraris. Ini bukan hanya soal variasi, tetapi relevansi penerimaan anak.

 

Kepada Badan Gizi Nasional (BGN), implementasi program perlu diarahkan pada model berbasis komunitas. Pelibatan koperasi, UMKM, dan kelompok masyarakat akan membuat program lebih relevan sekaligus menciptakan dampak ekonomi.

Advertisement

 

Kepada pemerintah daerah, integrasi dengan ekosistem lokal—pertanian, pasar tradisional, dan layanan kesehatan—menjadi kunci keberlanjutan program. Kepada semua pemangku kepentingan, edukasi gizi keluarga perlu diperkuat. Karena perubahan yang bertahan lama selalu berakar dari rumah.

 

Di sisi lain, keberhasilan MBG juga sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat mereponsnya. Program ini tidak seharusnya diposisikan semata sebagai bantuan yang diterima pasif, melainkan sebagai ruang kolaborasi. Orang tua misalnya, tetap perlu terlibat dalam membentuk kebiasaan makan anak dengan memberikan pendampingan anak memahami pentingnya gizi seimbang. Sekolah dapat mendorong praktik sederhana seperti “hari bekal Bersama”, di mana anak tetap membawa makanan dari rumah dan berbagi pengalaman dengan teman-temannya.

Advertisement

 

 

Menguatkan, Bukan Menggantikan

 

Sebagai bagian dari kerja-kerja kesejahteraan sosial anak dan keluarga, saya meyakini bahwa keluarga adalah ruang pertama tempat anak belajar tentang kehidupan.

Advertisement

 

Kebijakan negara seharusnya hadir untuk menguatkan ruang tersebut, bukan menggantikannya.

 

Ketika MBG dijawab “tidak”, kita tidak sedang berhadapan dengan penolakan terhadap niat baik negara. Kita sedang diingatkan bahwa kebijakan yang baik tidak cukup hanya tepat tujuan, tetapi juga harus tepat cara.

Advertisement

 

MBG perlu dilanjutkan. Namun, ia harus melampaui fungsi memberi makan—menjadi kebijakan yang menjaga relasi, membuka ruang interaksi sosial anak, dan sekaligus memberdayakan keluarga.

 

Membangun anak tidak hanya soal apa yang mereka makan, tetapi juga tentang bagaimana mereka tumbuh—dalam keluarga yang hadir, dalam relasi yang hidup, dan dalam masyarakat yang memberi ruang. Dengan demikian, MBG akan lebih bermakna Ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga mitra aktif. Karena pada akhirnya, keberhasilan kebijakan social selalu lahir dari pertemuan antara negara yang hadir dan masyarakat yang terlibat.

Advertisement
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini6 jam ago

Anak Remaja Makin Jarang Bercerita? Jangan-Jangan yang Dibutuhkan Bukan Nasihat, tetapi Kehadiran

Nasional10 jam ago

Perombakan Kabinet Merah Putih, Berikut Daftar Lengkap Pejabat yang Dilantik Prabowo

Otomotif11 jam ago

Motor Suzuki Access 125, Matic Klasik dengan Gaya Elegan dan Nyaman

Suzuki XL7, Mobil SUV Keluarga dengan Interior Nyaman, Fitur Lengkap, dan Desain Gagah
Otomotif11 jam ago

Suzuki XL7, Mobil SUV Keluarga dengan Desain Gagah dan Fitur Lengkap

Nasional12 jam ago

Listyo Sigit Prabowo Bakal Dilantik jadi KSP?

Nasional12 jam ago

Pernyataan Lengkap Suyudi Ario Seto Usai Disetujui DPR RI untuk Jadi Kapolri

Nasional13 jam ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Nasional13 jam ago

Suyudi Ario Seto Dilantik Jadi Kapolri Hari Ini Gantikan Listyo Sigit Prabowo

Nasional13 jam ago

Profil Suyudi Ario Seto, Putra Pandeglang Banten Disetujui DPR Jadi Calon Kapolri

Nasional13 jam ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Pemerintahan1 hari ago

DSDABMBK Tangsel Bangun Median dan Dua U-Turn di Jalan Rawa Buntu

Nasional1 hari ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Sport1 hari ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Sport1 hari ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Bisnis1 hari ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Bisnis1 hari ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Bisnis1 hari ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis1 hari ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Bisnis1 hari ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Bisnis1 hari ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Sport2 minggu ago

Jadwal Pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap: Division 1 dan Division 2

Sport2 minggu ago

Tiket FIFA ASEAN Cup 2026: Harga dan Cara Beli via Garuda ID

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Jumat 18 September: Arema FC vs Persik Kediri dan Madura United vs PSIM

Banten3 minggu ago

40 Guru Madrasah Dapat Beasiswa S1, STAI Syekh Manshur Apresiasi Program Madrasah Gemilang

Sport2 minggu ago

Daftar 14 Tim Peserta FIFA ASEAN Cup 2026

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober 2026

Nasional2 minggu ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Berikan Selamat kepada Suahasil Nazara atas Amanah Baru yang Diembannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap BRI Super League 2026/27 Pekan Ketiga

Sport2 minggu ago

Klasemen BRI Super League 2026/27 Pekan ke-3: Dewa United Banten FC di Puncak

Nasional2 minggu ago

Purbaya Yudhi Sadewa Dicopot Presiden Prabowo, Prof Suahasil Nazara Dilantik Jadi Menteri Keuangan

Obituari2 minggu ago

Kurniawan Zulkarnain: Intelektual Organik yang Tak Pernah Berhenti Gelisah Memikirkan Indonesia

Politik3 minggu ago

WI Banten Dorong Perempuan Aktif di Dunia Politik

Sport2 minggu ago

Daftar Lengkap 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Tangerang Selatan3 minggu ago

IKPP Tangerang Mill Dukung Kolaborasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Mandiri Menuju Zero Waste 2028

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, 20 September: Borneo FC vs Bali United, Dewa United vs PSS Sleman, Persijap vs Persib

Nasional3 minggu ago

LSAK Desak KPK Perjelas Status Uang Rp3,5 Miliar Terkait Kasus Batu Bara Kukar

Nasional2 minggu ago

Suahasil Nazara Dilantik Jadi Menkeu: Ini Bentuk Kepercayaan Presiden dan Negara

Nasional2 minggu ago

Profil Prof Suahasil Nazara, Menkeu Baru Pengganti Purbaya Yudhi Sadewa

Populer