Connect with us

Opini

Ketika Rumah Pemimpin Negara Tak Lagi Sakral

Ilustrasi (Gemini AI)

Oleh: Fendry Akhyar Ariefuzzaman, S.Sos

Kabar tentang diculiknya Nicolás Maduro dan istrinya dari kediaman mereka oleh Amerika Serikat—apa pun versi dan klaim yang beredar—seketika mengingatkan dunia pada operasi senyap lain yang pernah menghebohkan jagat internasional. Ingatan publik melompat ke era Barack Obama, ketika tokoh teroris paling diburu di dunia, Osama bin Laden, ditangkap lalu dibunuh dalam operasi rahasia, dan jasadnya kemudian dilarung di Samudra Hindia.

Dua peristiwa ini, meski konteksnya berbeda, memperlihatkan satu hal yang sama: supremasi Amerika Serikat dalam kekuatan militer dan operasi senyap. Sebuah kemampuan yang bukan hanya menunjukkan kecanggihan teknologi dan intelijen, tetapi juga memperlihatkan tingkat kepercayaan diri—atau mungkin jumawa—yang sangat tinggi. Sebab operasi-operasi itu dilakukan dengan menembus wilayah negara berdaulat, yang sejatinya dilindungi oleh Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dari satu sisi, tindakan semacam itu jelas merupakan agresi. Dalam kasus Bin Laden, sebagian orang mungkin berargumen bahwa operasi tersebut “berhasil” karena mampu melumpuhkan jaringan Al-Qaeda. Namun tetap saja, masuknya pasukan Amerika ke wilayah Pakistan secara senyap adalah tamparan keras bagi kedaulatan negara itu. Perdebatan pun muncul dan tak pernah benar-benar selesai: apakah sebuah negara berhak melakukan operasi sepihak di wilayah negara lain yang berdaulat, dengan alasan apa pun?

Advertisement

Pertanyaan yang sama—bahkan mungkin lebih keras—muncul dalam konteks penculikan Maduro. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, ketika dunia menyaksikan peristiwa global secara langsung dan nyaris tanpa filter, tindakan semacam itu tampil telanjang di hadapan publik internasional. Apakah tindakan tersebut bisa dibenarkan? Atau justru menjadi preseden berbahaya?

Jika para pemimpin dunia memilih diam, maka diam itu sendiri adalah pesan. Pesan bahwa tindakan Amerika dianggap wajar, dimaklumi, atau setidaknya bisa diterima. Konsekuensinya jelas: negara-negara lain akan belajar dari situasi itu. Mereka akan berlomba-lomba memperkuat senjata, meningkatkan anggaran militer, dan menyiapkan pengamanan superketat bagi presiden serta keluarga pemimpinnya.

Lebih berbahaya lagi, tindakan semacam ini membuka peluang bagi negara kuat lain untuk menyerang negara yang lebih lemah dengan alasan-alasan subjektif versi mereka sendiri. Dan dunia—sekali lagi—mungkin hanya menonton. Kalaupun bersuara, suaranya terdengar lirih, lemah, nyaris tak berdaya, seolah berkata: asal jangan kami yang diserang berikutnya.

Sejarah menunjukkan bahwa menyerang atau menyasar kediaman pemimpin negara bukan hal baru, baik dalam kondisi perang maupun damai. Belum lama ini, dunia dikejutkan oleh serangan drone ke kediaman Vladimir Putin. Fakta bahwa rumah pemimpin negara adidaya pun bisa menjadi target, mengirimkan pesan yang sangat kuat: tak ada lagi ruang yang benar-benar sakral.

Advertisement

Secara geopolitik, serangan semacam itu jelas bukan kerjaan iseng. Ia sangat mungkin merupakan bagian dari operasi psikologis (psychological operation atau psy-ops). Tujuannya bukan semata kerusakan fisik, melainkan mengguncang rasa aman. Pesannya sederhana namun tajam: “Kami bisa menyentuhmu.”

Di sisi lain, serangan juga bisa dimaksudkan sebagai provokasi untuk meningkatkan ketegangan dan eskalasi konflik. Sebuah insiden dapat dimanfaatkan—atau dibingkai—untuk membenarkan langkah balasan yang lebih keras. Dalam politik global, narasi sering kali sama pentingnya dengan fakta, bahkan kadang lebih menentukan arah sejarah.

Menyerang simbol pribadi seorang pemimpin di tengah konflik dunia adalah tanda bahwa garis merah makin kabur. Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan tank dan pasukan infanteri, melainkan dengan pesan, ketakutan, dan persepsi. Dunia pun sedang diuji: apakah konflik akan dikelola dengan akal sehat, atau justru dibiarkan naik kelas oleh kesombongan, ego, dendam, dan adu kekuatan.

Jika pola penyerangan terhadap simbol negara ini menjadi tren, dampaknya akan panjang. Setiap negara akan semakin memusatkan belanja militernya pada pengamanan simbol-simbol kekuasaan: keluarga pemimpin, istana, pusat pemerintahan, ibu kota. Sejarah menunjukkan, kondisi semacam ini sering melahirkan pemimpin yang hidup dalam paranoia—tak tersentuh, tertutup, dan memandang siapa pun, bahkan rakyatnya sendiri, sebagai potensi ancaman.

Advertisement

Karena itu, dunia tidak boleh diam. Perserikatan Bangsa-Bangsa harus bergerak. Regulasi internasional perlu diperbaiki, dan Dewan Keamanan PBB sudah saatnya direvisi. Dunia telah berubah cepat, sementara banyak aturan global masih merupakan produk zaman perang lama.

Pada akhirnya, satu harapan yang tersisa dan paling mendasar tetap sama: dunia harus damai. Perang seharusnya menjadi masa lalu. Manusia berhak hidup aman, adil, dan sejahtera—tanpa harus terus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan akan siapa yang akan diserang berikutnya.

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional12 jam ago

Reshuffle Kabinet: Prabowo Subianto Lantik 4 Wamen, Kepala BNPB, dan Pimpinan BPGMN

Sport2 hari ago

Jadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober

Sport2 hari ago

Klasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak

Sport2 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta

Sport2 hari ago

Hasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda

Sport2 hari ago

Hasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta

Sport1 minggu ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport1 minggu ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Sport1 minggu ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Sport1 minggu ago

38 Peserta League Cup 2026/27

Nasional1 minggu ago

Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Rakabuming Raka, Gugatan Tak Diterima

Logo HUT ke-18 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Tahun 2026
Pemerintahan1 minggu ago

Karya Syifa Nabilah Azhari Jadi Pemenang Sayembara Logo HUT ke-18 Tangsel

Sport1 minggu ago

Ranking FIFA Timnas Indonesia Terbaru Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport1 minggu ago

FIFA ASEAN Cup 2026 Final Indonesia vs Thailand: Indonesia Juara, Menang Adu Penalti 4-2

Sport1 minggu ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Garuda Menang 4-2

Sport1 minggu ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport1 minggu ago

Hasil Indonesia vs Thailand Berakhir Adu Penalti, Skor 2-2 hingga Extra Time

Pemerintahan1 minggu ago

Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspadai Influenza A, Kenali Gejala dan Cegah Penularan

Pemerintahan1 minggu ago

Sampah Plastik Ditukar Bibit Tanaman, DLH Tangsel Dorong Kebiasaan Pilah Sampah

Pemerintahan2 minggu ago

Benyamin Davnie Sambangi CFD BSD, Warga Berolahraga hingga Berburu Kuliner UMKM

Nasional2 minggu ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Nasional2 minggu ago

G30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia

Sport2 minggu ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Bisnis2 minggu ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Sport2 minggu ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Bisnis2 minggu ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Bisnis2 minggu ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Gelar Edukasi Cegah Stunting

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Sport2 minggu ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Bisnis2 minggu ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Bisnis2 minggu ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Bisnis2 minggu ago

Saatnya Generasi Muda Berinvestasi Lebih Mindful

Nasional2 minggu ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Nasional2 minggu ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Nasional2 minggu ago

Profil Suyudi Ario Seto, Putra Pandeglang Banten Disetujui DPR Jadi Calon Kapolri

Nasional2 minggu ago

Pernyataan Lengkap Suyudi Ario Seto Usai Disetujui DPR RI untuk Jadi Kapolri

Bisnis2 minggu ago

PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk di NTT

Populer