Lifestyle
Benarkan Tinggi Badan Pengaruhi Kesehatan Anda?

Banyak orang yang mendambakan tubuh tinggi terutama laki-laki. Selain dianggap lebih menarik, sering dikatakan juga bahwa orang-orang dengan tubuh yang lebih tinggi memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Benarkah demikian? Lantas, apakah tinggi badan memang berpengaruh terhadap tingkat kesehatan seseorang?
Badan tinggi memiliki tingkat kesehatan lebih baik

Beberapa penelitian menyatakan bahwa orang-orang dengan tubuh yang lebih tinggi memiliki risiko yang lebih rendah terhadap penyakit jantung. Orang-orang bertinggi kurang dari 160 cm memiliki risiko 50% lebih tinggi mengidap penyakit jantung daripada yang tingginya lebih dari 170cm.
Kesimpulan tersebut didapat berdasarkan kemungkinan kadar kalsium di arteri yang dipasok ke jantung. Pada penelitian tersebut dijelaskan bahwa 25% pria dan wanita yang tertinggi memiliki kemungkinan yang lebih rendah sebanyak 30% mengalami penumpukan kalsium pada arteri koroner dibandingkan dengan peserta penelitian yang terpendek.
Kelebihan kadar kalsium dalam darah dapat menjadi tanda aterosklerosis atau penyumbatan arteri. Hal tersebut berimbas pada penyakit jantung koroner dan menyebabkan serangan jantung.
Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara panjang kaki dengan risiko penyakit diabetes. Menurut data yang diambil dari 6.000 peserta penelitian selama 5 tahun, orang yang memiliki kaki yang lebih pendek memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit diabetes tipe dua.
Belum ada alasan yang pasti apa yang membuat tinggi badan saling berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan yang mungkin akan diidap seseorang. Namun, kebanyakan ilmuwan percaya bahwa hal tersebut disebabkan kurangnya gizi yang didapatkan sejak dalam kandungan atau selama masa kanak-kanak.
Tinggi badan di bawah rata-rata dianggap sebagai tanda bahwa seseorang memiliki gizi yang buruk atau masalah metabolisme lainnya, sehingga pada saat dewasa orang-orang tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap berbagai masalah kesehatan.
Penelitian belum menunjukkan bukti yang jelas


Sayangnya, penelitian tersebut tidak secara langsung menyelidiki apakah orang-orang bertubuh tinggi benar-benar berisiko lebih rendah mengidap penyakit jantung koroner. Selain itu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan orang-orang dengan badan tinggi memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik.
Bahkan, sejumlah penelitian lainnya malah menunjukkan hasil yang berbeda. Salah satunya, survei pertama Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional di Amerika tidak menemukan adanya hubungan antara tinggi badan dengan risiko penyakit jantung.
Selain itu, para ilmuwan di Glasgow juga tidak melihat hubungan di antara tinggi badan dan mortalitas dari penelitian terhadap lebih dari 10.000 peserta selama 40 tahun di Universitas Glasgow.
Sebuah studi pada 1 juta warga di California yang telah meninggal dunia menunjukkan bahwa ternyata kematian akibat penyakit jantung pada orang-orang kelompok etnis tubuh terpendek seperti China dan Jepang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kelompok etnis bertubuh tinggi seperti ras kulit hitam dan kulit putih.
Mendukung hasil berbagai studi di atas, sekelompok peneliti pun melakukan pengamatan akan adanya risiko penyakit jantung pada orang-orang dengan kisaran usia 14-87 tahun di Melanesia. Hasilnya tetap tidak ditemukan adanya tanda penyakit stroke atau jantung berdasarkan wawancara, pengalaman klinis, dan tes elektrokardiografi (EKG) yang dilakukan pada peserta.
Ditambah lagi, rata-rata tinggi laki-laki di Melanesia hanya 161 cm, sedangkan pada perempuannya hanya mencapai 150 cm.
Lebih jauhnya, Data Penelitian Kanker Dunia dan Institut Penelitian Kanker di Amerika menambahkan pola makan barat yang dianut oleh orang-orang berkulit putih yang dikenal memiliki tubuh tinggi malah bisa menimbulkan risiko penyakit kronis seperti stroke dan penyakit jantung.
Tinggi badan bukan faktor utama penentu kesehatan


Memang, baik badan yang tinggi maupun pendek memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
Orang-orang bertubuh tinggi cenderung memiliki denyut jantung istirahat lebih rendah yang membuat jantung bisa berfungsi lebih lama. Di sisi lain, orang-orang bertubuh pendek memiliki efisiensi pemompaan jantung lebih tinggi yang dapat membuat pasokan oksigen dan nutrisi ke jantung lebih maksimal.
Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi ukuran pasti untuk menentukan tingkat kesehatan seseorang. Tinggi badan merupakan sesuatu yang dipengaruhi genetik dan tidak dapat diubah. Mengatur pola hidup tetap menjadi cara yang terbaik untuk meningkatkan kesehatan Anda.
Sebagai contoh, pengamatan yang dilakukan selama 25 tahun pada masyarakat di Okinawa menunjukkan bahwa mereka memiliki harapan hidup yang tinggi. Rata-rata umur masyarakat Okinawa adalah yang paling panjang di seluruh dunia, bahkan lebih panjang daripada masyarakat di daratan Jepang lainnya. Saking sehatnya, banyak penduduk Okinawa yang masih bisa melakukan aktivitas fisik tingkat tinggi hingga usia 90-an.
Tingkat penderita kanker dan penyakit jantung pada masyarakat Okinawa terbilang sangat sedikit. Masalah kesehatan lainnya seperti gangguan pada tulang juga sangat jarang terjadi jika dibandingkan dengan masyarakat di daerah lainnya.
Bukan karena faktor tinggi badan, konsumsi makanan bernutrisi merupakan kunci utama dari tingkat kesehatan yang tinggi pada masyarakat di Okinawa. Mereka terbiasa mengonsumsi makanan rendah kalori dan tinggi serat seperti sayur, biji-bijian, dan produk kedelai.
Selain itu sebagai bagian dari daerah kepulauan, masyarakat di sana lebih gemar memakan ikan atau daging lainnya yang memiliki kandungan omega 3. Asupan nutrisi ini dikenal menyehatkan untuk jantung.
Oleh sebab itu, jangan terlalu terpaku pada tinggi badan Anda. Jika Anda ingin terhindar dari risiko berbagai penyakit, jalanilah pola hidup sehat dengan makan makanan yang penuh gizi, rajin berolahraga dan bergerak, serta istirahat yang cukup. Batasi juga konsumsi alkohol dan banyaklah minum air putih.
Kabartangsel.com
Sport2 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta
Sport2 minggu agoHasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta
Nasional2 minggu agoGrand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik
Sport2 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda
Sport2 minggu agoKlasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak
Sport2 minggu agoJadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober
Sport1 minggu agoDramatis! Persita Tangerang Hajar Persija Jakarta 3-2
Jabodetabek4 hari agoWakil Ketua Umum ISNU Fadli Yasir Sambut Baik Konser Andrea Bocelli di Indonesia




































