Connect with us

Tulisan yang mengatasnamakan Jusuf Kalla (JK) merupakan Hoaks Lama Bersemi Kembali (HLBK). Sudah  berulang kali muncul sejak tahun 2017. Tulisan itu bukan pengakuan JK. Tulisan itu merupakan opini dari Erizeli Jely Bandaro.

=====

Kategori: Imposter Content/Konten Tiruan

Advertisement

=====

Sumber: Facebook ttps://web.facebook.com/bentengjokowimadiun/photos/a.250199659251846/391820591756418/

Archive: http://archive.fo/Kt9UN

=====

Advertisement

Narasi:

Akhirnya Tabir Kebenaran Terbuka …

Teman teman bacaLah pengakuan seorang JK berikut sbg ♥Saksi
sejarah Indonesia♥

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Advertisement

*ARTIKEL SANGAT BERHARGA*

Pengakuan jujur Jusuf Kalla terhadap keberhasilan Joko Widodo dalam
mengelolah negara, sehingga Indonesia perlahan lolos dari beban utang
peninggalan era Soeharto dan masa SBY, yang telah membuat Indonesia harus
menanggung utang hingga Rp. 6000 triliun dengan dalih ‘subsidi,’ yang hanya
memperkaya dirinya sendiri dan konco-konconya; silahkan membaca tulisan berikut
sampai selesai, agar kita paham mengapa kini Indonesia perlahan menjadi negara
hebat di Asia dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama di era Joko Widodo.

“PERJUANGAN MORAL JOKOWI bagi INDONESIA”

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) dalam sambutannya
di acara “Simposium Ekonomi” di MPR RI, Senayan, mengatakan bahwa ada
2 kebijakan keliru yang dilakukan pemerintah era Soeharto dan SBY, sehingga
menghabiskan anggaran Rp. 6000 triliun.

Advertisement

Kebijakan itu menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari
negara-negara tetangga. Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.

Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk
menghentikannya. Saat Soeharto jatuh, tatkala fundamental ekonomi yang disimpan
rapat bertahun-tahun terbuka lebar oleh aksi George Soros terkuak.

Nyatanya berpuluh tahun kita menyimpan data busuk dan kebohongan. Tidak
ada kekuatan ekonomi secara nyata. Tidak ada. Soeharto tidak punya rencana
hebat untuk membuat Indonesia hebat dalam sektor ekonomi, kecuali hanya
menggali lubang sedalam-dalamnya melalui hutang tanpa rencana ril untuk merubah
Indonesia menjadi lebih baik.

Dari jumlah hutang yang digali Soeharto hanya 30% yang digunakan untuk
membangun Indonesia. Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya
menjadi penguasa selama 32 tahun.

Advertisement

Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah menanda tangani
LoI dengan IMF sebagai blank cheque yang harus diselesaikan oleh rezim setelahnya.
Beban masalah yang ditinggalkan Soeharto kalau dikurskan sekarang dan ditambah
dengan bunga obligasi rekap mencapai Rp. 3000 triliun.

Era Habibie, Gus Dur, dan Megawati merupakan era tersulit bagi kita
untuk berdamai dengan kenyataan. Indonesia dinyatakan sebagai negara insolvent.
Semua financial resource tertutup. Pemasukan lebih kecil dari pada pengeluaran.
Kehidupan politik tidak jelas.

Enam tahun proses transisi dari legislasi era Soeharto ke era reformasi
seakan waktu terpanjang dalam sejarah. Selama itu tidak ada pembangunan real.
Negara stuck. […] (dilanjutkan pada bagian CATATAN setelah REFERENSI).

=====

Advertisement

Penjelasan:

Beredar postingan dengan tulisan yang diklaim sebagai tulisan dari
Jusuf Kalla. Dalam postingan itu membahas mengenai kelebihan kinerja
pemerintahan Presiden Joko Widodo pada periode pertama bersama Jusuf Kalla.

Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa postingan itu ialah
Hoaks Lama Bersemi Kembali (HLBK). Sudah pernah beredar sejak 2017, 2018,
hingga 2019.

Pada tahun 2017, pihak Jusuf Kalla, melalui Juru Bicaranya, sudah
membantah bahwa itu bukan tulisan Jusuf Kalla. Berikut kutipan pemberitaannya:

Advertisement

[…] Istana Wapres Bantah Tulisan JK yang Beredar di Medsos

Jakarta – Media sosial diramaikan oleh sebuah tulisan yang disebut
berasal dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), yang intinya menyalahkan pimpinan
Indonesia terdahulu soal pengelolaan negara. Pihak Istana Wakil Presiden
membantah tulisan yang beredar itu berasal dari JK.

“Ini sedang beredar di sosmed. Informasi ini bias, hasil
pelintiran. Tidak pernah Pak JK membuat tulisan seperti ini,” kata juru
bicara JK, Husain Abdullah, kepada detikcom, Sabtu (30/12/2017).

Berdasarkan penelusuran detikcom, Minggu (30/12), tulisan yang beredar
di media sosial itu berjudul ‘Dari Jusuf Kalla: Re-send Perjuangan Moral
Jokowi’. Dalam tulisan itu, penulis yang seakan-seakan menjadi JK menuliskan
kesalahan-kesalahan pimpinan Indonesia terdahulu.

Advertisement

Tulisan itu menyindir pemerintahan Soeharto selama 32 tahun dan soal
letter of intent (LoI) dengan IMF serta blank cheque. Era SBY dalam tulisan itu
juga disinggung dengan tudingan menghabiskan anggaran untuk subsidi langsung ke
masyarakat.

Bahkan tulisan itu menyinggung politik bagi-bagi uang dari mantan
pimpinan Indonesia sebelumnya.

“Dan sepertinya tulisan di atas dipelintir dari pidato Pak JK yang
disampaikan pada simposium nasional bertema ekonomi yang digelar oleh MPR RI
bulan Juli 2017,” ujarnya.

Husain mengatakan, dalam pidato saat itu, JK tidak menyalahkan siapa
pun. JK hanya menggambarkan penyebab-penyebab keterlambatan Indonesia dibanding
negara-negara di dunia.

Advertisement

“Dalam pidato tersebut, tidak menyalahkan siapa pun kecuali
mendeskripsikan penyebab terlambatnya kemajuan Indonesia dibanding negara
lain,” ucapnya.

Dia kembali menegaskan bahwa tidak ada tulisan yang dibuat JK yang
memojokkan presiden-presiden sebelumnya. […]

Lalu, berdasarkan hasil pemeriksaan fakta yang sudah ada di
turnbackhoax.id, diketahui bahwa penulis sebenarnya ialah akun Facebook atas
nama Erizeli Jely Bandaro. Adapun yang bersangkutan sudah memberikan
klarifikasinya. Berikut kutipan klarifikasi Erizeli Jely Bandaro:

[…] KLARIFIKASI

Advertisement

TULISAN ” PERJUANGAN MORAL: JOKOWI.”

Ketika saya posting tulisan Perjuangan Moral : Jokowi, salah satu
sahabat saya yang dapat share dari WAG mengatakan bahwa tulisan saya
menggetarkan lawan politik Jokowi. Tulisan itu beredar luas lewat WAG dari
kalangan pejabat , politisi, kampus dan aktifis. Saya katakan bahwa tulisan
saya hanyalah “narasi” atas dasar pidato JK di Gedung MPR. Jadi saya tidak
menulis dengan sengaja memelintir kata kata JK tapi murni itu opini pribadi
saya atas isi pidato Jk tersebut.

Agar tulisan itu dapat di pertanggung jawabkan maka, tulisan itu saya
muat di blog. Sehingga semua orang bisa membaca secara bebas dari sumber
tulisan saya.. Aturan menulis dalam blog saya ikuti. Bahwa setiap opini harus
berdasarkan referensi yang kuat. Di awal tulisan , saya sampaikan pernyataan JK
sebagaimana news Detik melaporkan. Saya menggunakan fitur link pada nama Nara
sumber yang sehingga pembaca bisa langsung klik untuk mendapatkan informasi
seimbang. Jadi saya memberikan kebebasan kepada pembaca untuk menilai apakah
narasi saya benar sesuai pidato JK ataukah tidak.?.

Dalam narasi, saya secara literal mengungkapkan fakta yang dirasakan
dan dilihat oleh semua orang. Soal kejatuhan Soeharto karena rupiah terjun
bebas, dan kemudian era SBY yang menimbulkan mega skandal korupsi itu dan
ribuan triliun uang untuk subsidi juga adalah fakta, bahkan saya lampirkan data
statistik dari pemerintah. SIlahkan baca blog yang dibawah ini.

Advertisement

Kalau ada pihak yang menggunakan tulisan saya itu dengan menggunakan
akun falsu atas nama JK, itu diluar tanggung jawab saya. Karena ketika tulisan
saya dimuat di blog, maka itu menjadi konsumsi publik , yang siapapun bisa
menggunakannya. Apakah saya dirugikan atau tidak karena disalah gunakan untuk
tujuan politik, maka itu urusan UU ITE. Yang jelas dalam tulisan itu, saya
tidak mencatut nama JK untuk informasi tanpa berdasar atau memuat tulisan
diblog tanpa menyebut sumber sebagai referensi. Saya tidak mengajak orang
membenci tapi menyadarkan orang tentang fakta masa lalu, yang nampaknya ada
upaya untuk melupakan masa lalu itu agar di masa kini, di era Jokowi mereka
bebas menyalahkan Jokowi dengan segala issue omong kosong.

Apakah saya salah karena tulisan di blog ? itu hak siapapun untuk
menilai. Tapi tentu hak saya juga untuk bicara. Bukankah kita mengakui dan
menerima demokrasi. Tulisan saya tidak sekeras tulisan lawan politik Jokowi.
Tapi kalau itu membuat orang lain tidak suka, ya itulah harga yang harus saya
bayar secara moral untuk membela orang baik. Kepada Tuhan saya berserah diri.
[…]

Atas dasar itulah, postingan yang baru beredar di Oktober 2019 sudah
pasti bukan tulisan Jusuf Kalla. Hal yang cukup menandakan bahwa postingan itu
bukan buah tulisan Jusuf Kalla dapat terlihat dari penulisan nama di akhir
postingan. Tertulis ‘Jusup Kalla’ sebagai namanya. Padahal, nama yang benar
ialah ‘Jusuf Kalla’.

Berdasarkan hal tersebut, maka postingan tersebut masuk kategori
Imposter Content atau Konten Tiruan. Sebab, postingan itu seolah-olah merupakan
hasil tulisan dari Jusuf Kalla padahal tidak.

Advertisement

=====

Referensi:

https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1009825416016660/

https://news.detik.com/berita/d-3791895/istana-wapres-bantah-tulisan-jk-yang-beredar-di-medsos

Advertisement
https://web.facebook.com/nazwaaufar/posts/2038745243037636

=====

Catatan:

(Lanjutan Narasi) […] Namun, akhirnya Indonesia bisa keluar dari
proses transisi itu dengan terpilihnya SBY sebagai presiden secara demokrasi
langsung. Harapan dipagut dan masa depan disongsong dengan ceria.

Tapi apa yang terjadi? Selama 10 tahun SBY berkuasa, untuk
mempertahankan kekuasaannya dia membakar uang sebesar Rp. 3000 triliun untuk
subsidi.

Advertisement

Periode 2004 hingga 2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi
sebesar 21% dari APBN dan mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang
mencapai 28%.

Di dalam subsidi energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar
dengan mencaplok 80% dari seluruh subsidi energi. Dan menciptakan mega skandal
dengan korupsi tak terbilang jumlahnya.

Andaikan uang sebanyak itu SBY gunakan untuk membangun jalan tol, maka
kita sudah punya jalan tol Trans Sumatera dan Trans Jawa, juga kereta cepat
Jakarta-Surabaya dan puluhan kawasan industri berskala internasional, puluhan
bendung dan irigasi untuk ketahanan pangan, bahkan setiap kota besar sudah
punya MRT.

SBY hanya bekerja membuat rencana dan membuang uang untuk ongkos
politik, agar kekuasaanya stabil selama dua periode.

Advertisement

Era Soeharto kita abaikan, karena salah memilih pemimpin dan takdir
kita berhasil mengubah tatanan politik yang diktator menjadi demokrasi.

Tetapi setelah demokrasi, kita justru melahirkan gerombolan maling yang
menjarah lebih dahsyat dari 32 tahun Soeharto berkuasa.

Selama itu tidak ada gerakan agama yang hebat yang hendak menggulingkan
Soeharto atau SBY. Tidak ada demo berjilid-jilid hendak menjatuhkannya.

Mengapa? Karena para tokoh agama maupun politik mendapat berkah uang
dan konsesi bisnis dari politik lendir tebar uang oleh penguasa.

Advertisement

Era Jokowi, seorang yang bukan elite politik di tubuh partai, bukan
jenderal berkaliber nasional, bukan konglomerat kaya dari bisnis rente, bukan
pula tokoh budayawan atau agama yang selebritis.

Dia muncul ke panggung politik karena kehendak TUHAN. Tak ada satu pun
kekuatan yang mampu menghentikannya, karena Tuhan telah mengirim wakil wakil
NYA mengawal Jokowi sehingga si tukang kayu krempeng itu masuk ke Istana Negara
dengan selamat tanpa rintangan apapun juga. Inilah takdir dan nasib Bangsa
Indonesia yang memang harus berubah dan menjadi baik dan kuat atas kehendak
TUHAN serta KuasaNya.

Ketika Jokowi berkuasa, *subsidi tipuan seolah memanjakan rakyat
dihentikan* Anggaran direformasi secara fundamental dari berorientasi konsumsi
ke produksi. Efisiensi anggaran dilakukan dengan sangat ketat.

Walau pun diawali dengan fundamental ekonomi yang retak karena current
account defisit, Jokowi tetap melaju dengan agenda besarnya. Menciptakan
kemandirian, bukan hanya lewat restruktur APBN dan hutang, tetapi juga revolusi
mental dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia di semua lini.

Advertisement

Negeri para gangster tersingkir dan menghimpun rakyat dan kader partai
positip serta pejabat pejabat bermoral yang mau bekerja keras sehingga dapat
mengubah negeri ini jadi para pekerja keras. *Status quo didobraknya,
menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup manja berfoya foya dan menipu
rakyat*

Apa hasilnya? Hanya dua tahun berkuasa, semua rating internasional
berkaitan dengan indeks korupsi, pembangunan, dan ekonomi jadi membaik.
Sekarang Indonesia termasuk negara peringkat 3 terbaik ekonomi di antara
anggota G-20.

Saya membayangkan setiap langkah Jokowi tidaklah mudah dan penuh
resiko. Karena semua elite politik yang kini ada adalah bagian dari kekuasaan
Orde Baru yang pernah kong kali kong dan merampok kekayaan Negara hingga
Indonesia dan rakyatnya menjadi sengsara dan meninggalkan beban hutang dan
kerugian sebesar Rp. 3000 triliun dan juga bagian dari kekuasaan era SBY yang
membakar uang negara sebesar Rp. 3000 triliun demi melanggengkan kekuasanya.

Semua mereka ingin, agar si tukang kayu ini dihentikan. Karena Jokowi
bukan hanya menghancurkan kekuasaan mereka sebagai ladang bisnis mendatangkan
harta mereka, tetapi juga menjadikan rakyat cerdas berpolitik dan mempermalukan
elite politik di mana banyaknya elite politik terancam masuk bui karena aksi
OTT KPK. Pesta usai.

Advertisement

Dulu, Ahok dijadikan pintu gerbang untuk menjatuhkan Jokowi dengan
alasan menistakan agama. Dan dari keadaan ini, Jokowi berhasil keluar dengan
selamat.

Kini, PERPPU Pembubaran Ormas Radikal dijadikan alasan untuk
menjatuhkannya, karena dibilang anti demokrasi dan anti Islam.

Padahal, tidak ada dalam PERPPU itu yang menyebut Islam atau ormas
tertentu. Namun, oleh para gangster mafia menciptakan semua kegaduhan ini, agar
pesta kekuasaan kembali marak. Karena itu, emosi agama kembali dibenturkan.

Andaikan PERPPU itu ditolak DPR, maka ketahuilah kita bahwa agenda
menjatuhkan Jokowi memang datang dari segala penjuru mata angin.

Advertisement

Apakah Jokowi akan jatuh? *Jawabannya TIDAK* karena Jokowi adalah
panggilan TUHAN untuk menyelamatkan Indonesia ,bangsa dan rakyatnya dari segala
kesusahan dan kesulitan dan Tuhan telah mengirim wakil Rakyatnya yaitu Bapak
Jokowidodo yang berhak dan pantas berkuasa sebagai pemimpin dan penyelamat
bangsa dan rakyat Indonesia.

Saya Yusup Kalla sudah tua, namun dengan segenap tenaga saya yang masih
ada saya tetap memberikan kontribusi positip pada Jokowidodo dalam membangun
Negara Indonesia jadi bangsa besar kuat bermatabat rakyat jadi makmur dan
sejahtera.

Memang pada saat usia saya yang sudah lebih dari 50 tahun. Saya tak
berdaya, dan tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan sepak terjang pada
era Soeharto dan penikmat subsidi BBM era SBY, yang membakar uang ribuan
triliun.

*Apa yang saya lakukan sekarang adalah berusaha setiap hari berbuat
kebaikan, agar negara ini lebih baik. Melalui tulisan, lewat interaksi dengan
teman-teman politisi dan aktivis, saya berusaha menyampaikan pesan moral bahwa
“bukan sistem yang menjadi masalah, tetapi akhlak kita yang buruk.”*

Advertisement

Marilah kita memperbaiki moral. Sudahilah niat mengubah sistem, agar
impian makmur menjadi kenyataan. Perbaiki akhlak dan perbaiki etos kerja, maka
rahmat TUHAN akan datang by the time.

Saya Yusup Kalla dengan hati tulus ingin menyerukan kepada segenap generasi
muda berkualitas dan menyintai tanah Pertiwi ini , Serta rakyat Indonesia,
Marilah kita bersama-sama menjadikan KEKUATAN MORAL untuk menghadang serta
melawan semua niat jahat mereka yang ingin merusak negeri ini dengan alasan
agama, budaya, suku, ras, antara golongan, atau apalah.

Kita membela Jokowi bukan bertujuan politik, tetapi demi kekuatan moral
sebagai orang Indonesia yang turut membangun dan ingin menjadi bangsa besar
bermatabat diatas bumi . Jadilah gerakan moral untuk mendukung Jokowi orang
baik yang fitur penyelamat bangsa dan rakyat, agar semakin berprestasi baik
bagi pembangunan negeri kita tercinta Indonesia.

_SEMOGA BERMANFAAT dan MENAMBAH ILMU serta MENAMBAH WAWASAN KITA
SEMUA._

Advertisement

Silahkan bantu viralkan tulisan ini ke seluruh anak negeri Indonesia di
mana pun mereka berada, agar putra bangsa kita lebih cerdas dalam berpikir dan
menganalisa sesuai data.

*Yusup Kalla*

Copyright ©

Advertisement

Populer