Lifestyle
Ciri-Ciri Bayi Autis (Autisme) yang Perlu Diwaspadai Ortu Sejak Dini

Autisme (autis) adalah gangguan perkembangan kompleks yang memengaruhi fungsi otak dan saraf anak. Gangguan perkembangan ini umumnya didiagnosis pada usia di atas 1-3 tahun, meski gejala awalnya mungkin saja sudah muncul sejak bayi. Keterlambatan diagnosis pada anak bayi dapat dipengaruhi oleh ciri-ciri autis (sebutan lama untuk autisme, -red) yang awalnya nampak samar.
Memang, apa saja gejala autis pada bayi? Yuk, simak ulasannya berikut ini supaya si kecil mendapatkan perawatan lebih cepat.
Ciri-ciri dan gejala autis pada bayi
Autisme mencakup segala gangguan dalam cara anak berinteraksi, bersosialiasi, berbahasa, berpikir, berekspresi, dan berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Autisme juga dapat membuat seorang anak mengalami gangguan dalam berperilaku.
Pada bayi, kelainan ini cukup sulit didiagnosis karena gejalanya yang samar dan rentan disalahpahami sebagai masalah kesehatan lain. Namun melansir Help Guide, pakar kesehatan anak dari berbagai belahan dunia sepakat bahwa ada beberapa ciri-ciri dan gejala autis yang dapat terlihat pada bayi sejak dini. Beragam gejala tersebut adalah:
1. Bermasalah dengan kontak mata

Jarak pandang bayi yang baru lahir umumnya masih pendek dan terbatas (tidak lebih dari 25 cm) sehingga pandangan matanya belum jelas. Selain itu, koordinasi matanya juga belum optimal sehingga ia belum mampu mengikuti gerak suatu benda.
Selama dua bulan pertama, mata bayi akan sering terlihat tidak fokus dalam dua bulan pertama kehidupannya. Anda mungkin akan sering memergokinya seperti bengong menatap langit-langit rumah.
Namun menginjak sekitar usia 4 bulan, bayi dapat mulai melihat dengan lebih jelas dan luas, serta bisa memfokuskan pandangannya. Mulai usia ini, mata bayi juga sudah bisa mengikuti gerak suatu objek.
Namun, waspadai ciri-ciri bayi autis jika lewat dari usia tersebut matanya kerap kali tidak mengikuti gerak benda di hadapannya. Tatapan mata kosong dan tidak fokus seperti sedang melamun merupakan gejala autisme pada bayi yang paling umum dan bisa Anda amati setiap hari.
Ciri bayi autis juga dapat dilihat dari matanya yang tidak pernah menatap mata Anda saat disuapi makanan atau tersenyum balik saat Anda tersenyum.
2. Tidak merespons saat namanya dipanggil


Bayi yang baru lahir memang belum bisa mengenali berbagai suara di sekitarnya, termasuk suara orangtuanya. Oleh karena itu, si kecil mungkin saja tidak akan merespon panggilan sayang Anda pada awalnya.
Minimnya respon bayi pada beberapa bulan pertamanya masih terhitung wajar. Ini karena baik indera penglihatan dan indera pendengarannya belum terkoordinasi dengan baik. Otot di sekitar lehernya juga belum berkembang dengan sempurna.
Namun menginjak usia 7 bulan, si kecil sudah akan bisa mengenali suara Anda dan merespon suara lain. Ia juga sudah bisa menengok ke kanan, kiri, atas, dan bawah ketika mendengar suara yang menarik baginya.
Semakin Anda sering mengajaknya berbicara, semakin besar peluang si kecil untuk menguasai kemampuan ini lebih cepat. Namun, beberapa bayi mungkin tidak menunjukkan respons ketika Anda memanggil namanya. Ini bisa menjadi gejala dan ciri-ciri awal autis pada bayi yang perlu Anda waspadai.
Akan tetapi, Anda perlu memahami bahwa tidak semua bayi mengalami perkembangan di usia yang sama, ia bisa jadi lebih cepat atau lebih lambat dari rata-rata usia.
3. Tidak mengoceh seperti bayi lainnya


Bayi yang baru lahir memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa. Satu-satunya cara bayi untuk berkomunikasi yaitu dengan menangis. Ia sangat mungkin menangis ketika lapar, merasa sakit, buang air kecil, dan berbagai kondisi lainnya.
Dilansir dari laman Kids Health, ketika memasuki usia 2 bulan, bayi sudah mulai mengoceh. Ia mengeluarkan suara-suara yang tidak memiliki arti. Suara ini mereka buat karena refleks otot di sekitar mulut bayi atau dilakukan untuk mendapatkan perhatian orang di sekitarnya.
Akan tetapi, bayi yang mengalami autis kemungkinan besar tidak menunjukkan ciri-ciri ini pada perkembangan mereka. Si kecil cenderung tidak berceloteh atau mengikuti bunyi-bunyian yang Anda buat.
Bila bayi mengalami hal ini disertai gejala lain yang disebutkan, Anda boleh mencurigai terjadinya autis pada bayi.
4. Koordinasi mata dengan anggota gerak buruk


Kemampuan tubuh yang dikuasai bayi adalah koordinasi antara mata dengan anggota gerak, baik itu tangan maupun kaki.
Kemampuan ini membuat si bayi bisa menanggapi pelukan, mengulurkan tangan untuk dipeluk, atau menyentuh benda yang ada di depannya.
Namun pada bayi yang mengidap autis, mereka menjadi kurang responsif. Mereka mungkin tidak akan melambaikan tangan ketika orang lain mengucapkan selamat tinggal.
5. Gejala lainnya


Ciri-ciri autis pada bayi ini tidak hanya itu saja. Semakin bertambah umur, gejalanya akan semakin jelas dan bisa Anda bedakan dengan bayi lainnya. Beberapa gejala autis pada bayi yang lebih tua usianya, antara lain:
- Menghindari kontak mata saat orang lain menatap atau mengajak bicara
- Sering melakukan perilaku berulang, seperti menepuk tangan, mengayunkan tangan, atau memainkan jari tidak mengenal situasi.
- Tidak menjawab pertanyaan dengan benar, cenderung mengulang pertanyaan
- Bayi lebih suka bermain sendiri dan tidak suka dengan kontak fisik, seperti dipeluk atau disentuh
Mendapatkan perawatan lebih awal akan membantu mengurangi keparahan gejala autis pada bayi di kemudian hari. Oleh karena itu, sangat penting untuk memerhatikan perkembangan dan perilaku yang ditunjukkan bayi.
Kapan harus ke dokter jika curiga bayi menunjukkan gejala autis?


Bila bayi menunjukkan ciri-ciri autis yang sudah disebutkan di atas, segera periksa ke dokter. Terutama jika bayi hingga usia 9 bulan tidak memberikan respons ketika namanya disebut atau tidak berceloteh ketika usianya lebih dari 3 atau 4 bulan.
Untuk menegakkan diagnosis, si kecil mungkin perlu melakukan beberapa tes kesehatan. Ini dilakukan untuk menyingkirkan beberapa kemungkinan kondisi lain yang menimbulkan gejala serupa. Setelahnya, dokter akan menetapkan diagnosis autis pada bayi sekaligus perawatan yang sesuai dengan tingkat keparahan gejala.
Sumber foto: Desi Comments
Kabartangsel.com
Bisnis6 hari agoIKPP Tangerang 50 Tahun Berkarya, Perkuat Kontribusi Lingkungan dan Sosial melalui Rekam Jejak Penghargaan Berkelanjutan
Komunitas6 hari agoKONGRES 2026 Tandai Era Baru Kebangkitan Musik Reggae Lokal di Tangsel
Nasional6 hari agoPresiden Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, Trenggono dan Agustina Arumsari sebagai Wakil Kepala BGN, serta Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden
Sport6 hari agoShin Tae-yong Resmi Jadi Pelatih Kepala Persija Jakarta untuk Musim 2026/2027
Pendidikan5 hari agoCreative Portfolio Showcase 2026, Terobosan SMK Budi Luhur dalam Penilaian Kompetensi Siswa
Sport3 hari agoJadwal Piala Dunia 2026 Lengkap
Sport2 hari agoFIFA World Cup 2026 Schedule: Complete Fixtures, Groups, Format, and Tournament Dates
Nasional4 hari agoHarga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026




















