Diskusi Daring Hanya untuk Mereka yang Berkantong Tebal

By on Senin, 11 Mei 2020

Penulis: Suaib A. Prawono, Pekerja Sosial di Jaringan GUSDURian

SEJAK virus corona atau Covid-19 mewabah, hampir semua aktivitas manusia dilakukan di rumah, selain karena adanya himbauan pemerintah, juga untuk menghindari penyebaran virus corona.

Demikian pula, selama masa pandemi, hampir semua interaksi sosial manusia beralih ke dunia online, mulai dari urusan belanja, hingga rapat dan diskusi dengan menggunakan aplikasi media sosial tertentu.

Tak ayal, info-info menarik pun berseliwerang di jejaring media sosial. Salah satunya adalah info diskusi daring dengan mengulas beragam isu dan peristiwa.

Menariknya, diskusi daring ini, tidak jarang melibatkan para pakar yang selama ini menjadi idola sebagian kalangan.

Tentu saja informasi semacam ini menjadi kabar baik bagi mereka yang kecanduan diskusi dan orang-orang yang haus akan pengetahuan, namun tidak bagi mereka yang kesulitan secara ekonomi. Baginya, diskusi daring itu, selain menguras baterai smartphone, juga menguras isi kantong.

Diskusi dengan menggunakan aplikasi video tertentu itu, konon menggunakan paket data yang tidak sedikit, sementara pemasukan ekonomi di masa pandemi tidak menentu.

Mendengar alasan seperti ini, saya jadi teringat ungkapan rekan yang mengatakan, corona telah mengubah segalanya, termasuk isi kantong, yang dulunya “basah” tiba-tiba jadi kering.

Makanya itu, saya pun tidak heran, jika banyak orang, tak terkecuali mahasiswa di desa-desa mengeluh saat proses belajar dan perkuliahan harus dilakukan secara daring.

“Ketika semuanya berbayar, maka sudah pasti membutuhkan uang, dan hanya mereka yang berkantong basah (tebal) bisa menggunakannya,” kata salah seorang mahasiswa via telpon beberapa hari lalu.

Kepada penulis, si mahasiswa itu mempertegas ucapannya dengan mengatakan, meski kuota tak tampak seperti uang, namun sebenarnya uanglah yang menjadi ujung pangkalnya. “Tak ada uang, tak ada kuota,” katanya singkat.

Harus diakui, bahwa fenomena seperti ini, di satu sisi menjadi derita sosial di era kemajuan teknologi daring.

Nah, lalu bagaimana dengan mereka yang ingin belajar atau ikut diskusi daring, tapi tak punya uang, apakah ada akses gratis?

Jika ada orang yang mengatakan “ada”, mohon untuk segera disadarkan, boleh jadi yang bersangkutan sedang bermimpi. Sebab berharap akses gratis di era kemajuan teknologi seperti saat ini, tampaknya mustahil, kalaupun ada, mungkin hanya ada dalam dunia mimpi.

Kata gratis yang kerap menjadi bahasa promosi dagang itu, dalam faktanya tetap bersyarat. Misalnya, untuk menggunakan aplikasi atau paket data gratis, Anda harus mendownload aplikasi tertentu agar bisa menggunakannya.  Nah, istilah download, selain butuh kuota, juga ruang penyimpanan, dan kalau ditelusuri lebih jauh, ujung-unjungnya biaya lagi kan?

Memang benar teknologi hadir memberi kemudahan bagi manusia, tapi kita juga tak bisa memungkiri, semakin canggih penggunaan teknologi, semakin mahal pula biaya yang harus disediakan. Makanya, jangan heran, jika tidak semua peminat ilmu dan pecandu diskusi bisa mengaksesnya. Alasannya jelas, biaya.

Mendengar kata “biaya” kita juga tak perlu mengerutkan dahi, sebab hal ini sudah menjadi persoalan klasik di bangsa ini. Ia tidak hanya menjadi buah bibir kalangan masyarakat menegah ke bawah, tapi juga kalangan elit dan pemangku kekuasaan.

Kalau di instansi pemerintahan, biaya lebih santer terdengar dengan istilah anggaran. Meski istilahnya sedikit lebih keren, namun ia juga tak pernah sunyi dari persoalan. Misalnya “pembangunan tidak jalan karena ketiadaan anggaran.” Nah.. jelaskan masalahnya?

Apapun nama dan istilahnya, pokok persoalannya adalah uang, cuma istilah saja yang berbeda. Meski sejak dari dulu bangsa ini terkenal kaya akan istilah. Namun sayangnya, beragam istilah itu tak jarang menyisakan kesalahpahaman dan perdebatan panjang.

Andai saja, kekayaan istilah itu, berbanding lurus dengan pendapatan ekononi, mungkin tidak masalah, tapi kenyataanya tidak seperti itu. Buktinya sebagian dari kita masih banyak mengeluh soal penggunaan paket internet yang mahal di tengah beragam istilah promosinya.

Sementara di satu sisi, kita juga tak ingin menggunakan paket internet murah, karena selain faktor gengsi, juga persoalan kualitas jaringan. Ah.. semakin bayak saja masalah kalau tulisan ini dilanjutkan. Ya.. sudahlah.

Singkatnya, makin canggih sebuah teknologi, makin berongkos pula biayanya, dan hanya mereka yang berkantong tebal bisa mengaksesnya, pun demikian dengan aplikasi diskusi daring yang saat ini lagi tren.