Connect with us

Nasional

Indonesia 2030: Tentang Sastra, Kenyataan, dan Politisi ‘Zaman Now’

Oleh Suryadi

Dalam sebuah ceramah yang mungkin dianggap sebagai pidato politik, menyusul makin hebohnya wacana seputar pemilu nasional 2019, Prabowo Subianto, kandidat pelawan presiden petahana sekaligus pesaing beratnya dalam pemilu 2014, menyinggung sebuah ramalan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

Sebagaimana biasa, pihak oponen segera mencari[-cari] celah kelemahan pidato mantan menantu Presiden Suharto itu, khususnya di kalangan mereka yang memendam sentimen negatif tinggi terhadap Orde Baru dan TNI. Maka, sebagaimana telah sama kita ketahui melalui medsos dan media lainnya, rupanya refleksi Prabowo tentang masa depan Indonesia yang dianggap mengandung nada pesimis itu merujuk kepada sebuah novel karangan P.W. Singer dan August Cole, Ghost Fleet, terbitan Houghton Miffin Harcourt (Boston) tahun 2015.

Komentar-komentar para oponen Prabowo, termasuk beberapa orang yang sejauh saya ketahui sangat intelek dan mungkin sering bersentuhan dengan karya sastra dan membaca teori-teori sastra, beragam. Namun, komentar-komentar miring yang beraneka macam itu dapat diintisarikan dengan singkat: bagaimana seorang yang katanya mau mencalonkan diri menjadi presiden percaya pada sebuah cerita fiksi?

Advertisement

Perdebatan ini agaknya menggugah kita untuk berefleksi lebih jauh tentang kebudayaan dan pendidikan bangsa kita secara lebih dalam. Cukup jelas bahwa di ‘Zaman Now’ kini, perenungan manusia tentang hakikat kehidupan ini, termasuk dalam soal berbangsa dan bernegara, terkesan makin dangkal dan simplistis. Orang cenderung mengukur segala sesuatu dengan rasionalitas saja. Refleksi-refleksi yang merujuk teks-teks fiksional, sebagaimana dulu sering dilakukan oleh para pendiri Republik ini, baik dalam pidato-pidato maupun buku-buku yang mereka tulis, kini dianggap bodoh dan tidak masuk akal.

Prabowo dalam tanggapannya terhadap pertanyaan-pertanyaan wartawan terkait dengan pidatonya itu mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan hanya dimaksudkan sebagai peringatan agar bangsa Indonesia mawas diri, agar bangsa Indonesia waspada dan tidak lurus tabung dalam menghadapi percaturan politik dunia sekarang ini; bahwa banyak pihak dari luar yang selalu mengintai dan ingin merampok kekayaan alam Indonesia, yang tentunya menghendaki rakyat Indonesia tidak boleh makmur dan dibuat kacau terus agar tetap dapat dikuasai. “Kita bukan anti asing, kita mau bersahabat dengan asing, tapi jangan kita terlalu lugu, jangan kekayaan kita diambil tapi elitnya diam [saja]”, kata Prabowo.

Mungkin suara Prabowo menggemakan perasaan banyak anak bangsa lainnya di Republik ini, yang ingin agar nasion yang besar dan majemuk ini menata kembali kehidupan bernegara, yang akhir-akhir ini menunjukkan gejala salah urus. Jika hal ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin dalam dua dekade ke depan sebuah negara-bangsa yang bernama ‘Indonesia’ betul-betul akan bubar.

Namun, jauh di balik hal-hal yang bersifat politis yang diperdebatkan secara permukaan dan emosional itu, polemik mengenai pidato Prabowo itu sendiri sampai batas tertentu agaknya mencerminkan bagaimana wacana sastra dipandang oleh kalangan terpelajar kita di ‘Zaman Now’. Jangan-jangan memang sudah sangat langka, untuk tidak mengatakan tidak ada lagi, para intelektual dan poli(ti)si kita yang membaca karya-kaya sastra untuk memperluas wawasannya.

Advertisement

Dalam situasi yang mengarah ke ketumpulan imajinasi ini, para akademisi yang selama ini bergelut di bidang penelitian sastra – Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta, Faruk, Dede Utomo, Diah Arimbi, Maneke Budiman, Maman S. Mahayana, Hasanuddin W.S., Sunu Wasono, Ibnu Wahyudi, untuk sekedar menyebut beberapa nama – juga tak hendak bersuara dan memberi pencerahan kepada publik. Kalangan perguruan tinggi pun diam dan tak hendak berinisiatif menjelaskan hakikat sastra dalam kehidupan manusia, termasuk dalam pergaulan berbangsa dan bernegara. Semua pihak jatuh ke dalam apatisme massal di tengah eforia politik ‘democrazy’ bergelimang uang haram yang kian meruyak dan makin melumpuhlayuhkan rakyat banyak.

Filusuf dan eseis Amerika Ralph Waldo Emerson mengatakan: “The world is a kingdom of illusions”. Arkian, betapa malangnya sebuah bangsa, terutama kaum intelektual dan politisinya, bila tidak memiliki refleksi dan imajinasi tentang kehidupan bangsanya: zaman lampau kini, dan masa depan. Teks sastra memainkan peran penting dalam membentuk imajinasi itu. Di negara-negara dengan tingkat literasi tinggi, dimana karya sastra menjadi ‘santapan’ sehari-hari masyarakatnya, kedewasaan berpikir bangsa itu juga menunjukkan kematangan. Orang-orang tidak mudah dihasut dan tersulut ke dalam perbalahan emosional dan remeh-temeh yang menggerus akal sehat.

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa refleksi Prabowo Subianto tentang masa depan Indonesia yang merujuk sebuah karya fiksional adalah suatu yang langka di zaman sekarang. Kebanyakan politisi “Zaman Now” tak mengenal dunia seni pada umumnya dan sastra pada khususnya, sebagaimana tercermin dalam komentar bego pemimpin negeri ini terhadap film Dilan. Keadaannya sungguh berbeda dengan para pemimpin di zaman pergerakan yang menjadikan karya sastra sebagai bacaan sehari-hari penambah wawasan dan sebagai sumber inspirasi dalam tindak laku politik mereka.

P.W. Singer dan August Cole tentunya buka dua orang asing pertama yang membayangkan masa depan Indonesia dalam teks fiksional futuristik. Kita ingat misalnya pengarang Australia berdarah aborigin Eric Willmot dengan novelnya Below the Line (Sydney: Hutchinson Australia, 1991) yang membayangkan invasi Indonesia ke wilayah Pasifik. Bertolak belakang dengan imajinasi Singer dan Cole dalam Below the Line yang membayangkan Indonesia akan hilang dari peta negara-negara di dunia pada 2030, Willmot malah menggambarkan Indonesia begitu perkasa sehingga mengancam eksistensi Australia, negara putih di Selatan.

Advertisement

Meminjam kata-kata Iva Polak dalam bukunya Futuristic Worlds in Australian Aboriginal Fiction (Oxford [etc.]: Peter Lang, 2017), karya Willmot dan sejumlah pengarang Australia lainnya yang berdarah Aborigin mencerminkan “the authors’ cultural memory and experience of having survived the ‘end of world’ brought about by colonisation.” Namun, sebagaimana diasumsikan dalam teori resepsi sastra, cultural memory yang diekspresikan oleh seorang pengarang dalam karyanya akan memenuhi horizon harapan (horizon of expectation) para pembaca sembari tetap memberikan kemungkinan sebaliknya kepada pembaca yang lain. Pada momen inilah karya sastra akan selalu mengalami interpretasi dan pada saat yang sama sang pengarang sebenarnya ‘sudah mati’ dan tak mampu mengendalikan makna karya yang ditulisnya. Dalam konteks ini, menyudutkan Prabowo dengan meminta keterangan Singer dan Cole atas makna Ghost Fleet yang sesungguhnya hanyalah sebuah ketololan belaka.

Lebih jauh lagi, kita tentu dapat memberi interpretasi yang bukan manasuka (arbitrer) terhadap dua karya orang asing yang menggambarkan Indonesia secara kontradiktif tersebut berdasarkan teori sosiologi dan psikologi sastra.

Pengarang berdarah aborigin Eric Willmot membayangkan kebangkitan kaum pribumi (natives) di kawasan Asia-Pasifik tempat nenek moyangnya menjadi minoritas yang ditindas oleh para pendatang dari Eropa di tanah ‘Terra Incognita’. Suara dalam Below the Line sampai batas tertentu mengandung nada antipoda terhadap wacana mainstream dalam kesusastraan Australia yang cenderung menganjungkan wacana (yang memihak) kaum putih. Ini dapat dianalogikan dengan dikotomi Balai Poestaka di satu pihak dan percetakan-percetakan pribumi yang memproduksi roman-roman Medan di pihak lain di zaman di Hindia Belanda pada Zaman Kolonial.

Imajinasi Singer dan Cole dalam Ghost Fleet sampai batas tertentu merepresentasikan superioritas sekaligus phobia Amerika terhadap kekuatan asing yang menjadi competitor utamanya di bidang politik dan ekonomi, khsusnya Cina. Walau dibungkus dengan kalimat “The following was inspired by real-world trends and technologies. But, ultimately, it is a work of  fiction, not prediction” (kursif dari Suryadi) – sebuah catatan marginalia yang formulaik dan selalu muncul dalam teks-teks novel/roman dalam nada yang berbeda dari zaman ke zaman (bandingkan misalnya dengan: “Novel ini adalah cerita fiksi belaka, jika ada nama dan tempat serta kejadian yang sama atau mirip terulas dalam novel ini, itu hanyalah kebetulan belaka” atau yang berasal dari periode yang lebih awal yang justru bernada sebaliknya, mendekatkan fiksi dengan kenyataaan: “Soeatoe tjerita jang telah kedjadian di Djawa Koelon” (dikutip dari judul roman Cina Peranakan Annemer Tan Ong Koan atawa Binasa di Tangan Laen Bangsa karya Liem Khoen Giok, Batavia: Tan Thian Soe, 1919) – kita dapat memberi interpretasi bahwa itu adalah semacam ‘tipuan’ (trick) untuk mengacaukan horizon harapan pembaca sekaligus helah pengarang untuk ‘menyembunyikan’ fakta dalam teks fiksi supaya semuanya dianggap fantasi. Dengan kata lain, marginalia yang formulaik seperti itu berfungsi menjaga tegangan (sekaligus juga menjaga rahasia) antara yang nyata dan yang khayali dalam teks-teks fiksional. Hakikat formula tersebut adalah sebuah cara untuk mengelabui pembaca dari kenyataan yang sebenarnya.

Advertisement

Baik Ghost Fleet maupun Below the Line mengandung pesan-pesan literer yang tak vacuum dari realitas. Sememangnyalah karya sastra bukan jatuh begitu saja dari langit. Sebuah teks literer selalu memiliki landasan faktual dalam dunia nyata. Dengan pendekatan semiotika, akan banyak hal yang dapat diungkapkan dalam kedua karya tersebut.

Bagi para politisi Indonesia di ‘Zaman Now’, membaca perspektif dan imajinasi bangsa asing tentang negeri ini mestinya adalah suatu keniscayaan, baik melalui buku-buku ilmiah maupun karya sastra, sebagaimana dulu dipraktekkan oleh para founding fathers negara ini. Jika terus hanya bersiarak dalam perang pernyataan di twitter yang makin tidak berkeruncingan, sogok-menyogok memakai uang hasil korupsi di bilik-bilik hotel mewah yang kian masif, toleransi beragama yang makin menipis, bully-mem-bully yang makin tak mengindahkan moral dan adat sopan santun di laman-laman facebook dan di ruang-ruang publik, yang semuanya makin mengauskan akal sehat, bukan tidak mungkin Indonesia akan tinggal cangkangnya saja di tahun 2030 (atau 2037?), sebagaimana nasib Uni Soviet yang lenyap hanya 7 tahun lebih lama dari ramalan Andrei Amalrik dalam bukunya Will the Soviet Union Survive untuil 1984? (New York [etc.]: Harper & Row, 1970).

Membuat analogi dari sebuah ungkapan bijak dalam ajaran Islam, abadinya Indonesia sampai akhir zaman adalah karena karunia Tuhan. Sebaliknya, bila negara ini hancur dan lenyap pada suatu saat nanti, itu jelas karena kesalahan anak bangsanya sendiri.[ ]

Matthias de Vrieshof, Maret 2018.

Advertisement
  • Dr. Suryadi | LIAS – SAS Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda. Esai ini diterbitkan di harian Haluan, Selasa 27 Maret 2018
Properti3 hari ago

Citra Garden Serpong, Hunian Modern di Kawasan Strategis Tangerang

Techno4 hari ago

3 Cara Kerja eSIM XL untuk Koneksi Tanpa Kartu Fisik

Pemerintahan5 hari ago

HUT ke-81 RI, Perangkat Daerah Pemkot Tangsel Adu Kekompakan Lewat Beragam Lomba

Nasional5 hari ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Tinjau Langsung Kondisi Warga Kampung Waso dengan Sepeda Motor

Nasional5 hari ago

Kunjungi Pengungsi Gempa Sikka, Wapres Gibran Rakabuming Raka Sampaikan Empati dan Permohonan Maaf

Nasional5 hari ago

Wapres Gibran Rakabuming Raka Tinjau Sejumlah Fasilitas Terdampak Gempa di Sikka NTT

Pemerintahan5 hari ago

Benyamin Davnie: Pelayanan Publik Tangsel Harus Makin Mudah dan Cepat Lewat Teknologi

Pemerintahan6 hari ago

TARA C-MORE, Daycare Ramah Anak di Pemkot Tangsel

Pemerintahan6 hari ago

Melalui Tangsel Mengaji, Pilar Saga Dorong Peran Guru Ngaji Diperkuat untuk Bentuk Karakter Generasi Muda di Era Digital

Pemerintahan6 hari ago

Tb. Asep Nurdin: TangselKota-CSIRT Perkuat Keamanan Layanan Digital Pemkot Tangsel

Pemerintahan1 minggu ago

Tasyakuran HUT ke-81 RI, Benyamin Davnie Ajak Masyarakat Tangsel Perkuat Kebersamaan

Pemerintahan1 minggu ago

Tingkatkan Kompetensi Digital, Warga Tangsel Belajar Content Creator dan Coding di Masjid

Pemerintahan1 minggu ago

Penurunan Bendera Merah Putih HUT ke-81 RI di Tangsel, Pilar Saga Ichsan: Generasi Muda Harapan Bangsa

Pemerintahan1 minggu ago

HUT ke-81 RI, Benyamin Davnie: Kedaulatan Dimulai dari Optimalisasi Potensi Tangsel

Pemerintahan1 minggu ago

HUT ke-81 RI, Benyamin Davnie Ajak Warga Tangsel Perkuat Persatuan dan Kontribusi untuk Pembangunan

Pemerintahan1 minggu ago

Parade Tank Meriahkan HUT ke-81 RI di Tangsel, Ribuan Warga Antusias Menyaksikan

Pemerintahan1 minggu ago

Pemkot Tangsel Gelar Renungan Suci di TMP Seribu

Pemerintahan1 minggu ago

Benyamin Davnie Ajak Warga Tangsel Urus Tanah Warisan, Ada Diskon BPHTB 81 Persen

Pemerintahan2 minggu ago

Jelang Porprov VII Banten 2026, Tangsel Percepat Finalisasi Venue dan Akomodasi

Pemerintahan2 minggu ago

Jelang HUT ke-81 RI, Pemkot Tangsel Terus Matangkan Persiapan Upacara Kemerdekaan

Sport2 minggu ago

Daftar 18 Klub Peserta Super League 2026/2027, Lengkap dengan Kode Tim

Sport2 minggu ago

Jadwal Lengkap Super League 2026/2027 Pekan Pertama, 4-6 September 2026

Sport2 minggu ago

18 Tim Peserta BRI Super League 2026/2027

Bisnis2 minggu ago

Kolaborasi Tokio Marine Life dan BAZNAS Jakarta Ciptakan Peluang Inklusif

Serba-Serbi2 minggu ago

Cara Cek Desil DTSEN BPS dengan NIK

Bisnis2 minggu ago

Puluhan Praktisi Sustainability Studi Banding ke Bogasari Flour Mills Jakarta

Pemerintahan1 minggu ago

Parade Tank Meriahkan HUT ke-81 RI di Tangsel, Ribuan Warga Antusias Menyaksikan

Pemerintahan1 minggu ago

Pemkot Tangsel Gelar Renungan Suci di TMP Seribu

Banten2 minggu ago

Dewa United Siapkan Kekuatan Baru di Super League 2026/2027

Sport2 minggu ago

Jadwal Brisbane Roar vs Dewa United dan Persija Jakarta

Pemerintahan1 minggu ago

Benyamin Davnie Ajak Warga Tangsel Urus Tanah Warisan, Ada Diskon BPHTB 81 Persen

Sport2 minggu ago

Jadwal Dewata Challenge Series 2026: Bali United, Persib Bandung, dan Sabah FC

Sport2 minggu ago

Persita Tangerang Datangkan Tyronne del Pino di BRI Super League 2026/2027

Pemerintahan1 minggu ago

HUT ke-81 RI, Benyamin Davnie: Kedaulatan Dimulai dari Optimalisasi Potensi Tangsel

Pemerintahan3 minggu ago

PPID Tangsel Perkuat Layanan Informasi Publik, Benyamin Davnie: Wujudkan Pemerintahan yang Transparan dan Responsif

Pemerintahan2 minggu ago

Tangkal Hoaks di Era AI, Diskominfo Tangsel dan NU Perkuat Literasi Digital

Hukum2 minggu ago

Polsek Kelapa Dua Gelar Razia dan Imbauan Kamtibmas Malam Hari

Nasional3 minggu ago

Di Silatnas Majelis Alumni IPNU, Hery Haryanto Azumi Serukan Muktamar NU ke-35 Jadi Ruang Kegembiraan, Persaudaraan, dan Gagasan

Banten2 minggu ago

Dewa United Basketball Academy Jadi Wadah Pembinaan Talenta Muda Banten

Sport2 minggu ago

Brisbane Roar Gelar Tur Pramusim ke Indonesia, Siap Jajal Kekuatan Dewa United dan Persija Jakarta

Populer