Banten
Jamur Tiram Potensial Dikembangkan di Banten

Jamur tiram atau pleurotus ostreatus berpotensi dikembangkan di wilayah Banten karena faktor iklimnya mendukung dan pasar yang menarik baik domestik maupun ekspor.
“Banten memiliki potensi luar biasa dalam menghasilkan produk pangan segar, termasuk jamur tiram, kalau pengetahuan pengusaha jamur tiram di kabupaten/kota se-Provinsi Banten bisa ditingkatkan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten Eneng Nurcahyati dalam keterangan tertulis di Serang, Selasa (11/11/2014).
Dia mengatakan usaha jamur tiram dapat menghasilkan keuntungan yang cukup menjanjikan, sehingga dapat menjadikan alternatif pilihan dalam membuka usaha bagi masyarakat. Namun, harus pula diikuti kebiasaan masyarakat Banten dalam mengonsumsi produk lokal.
Eneng menjelaskan produksi untuk komoditas jamur tiram terbagi pada dua kategori, yakni produksi untuk tujuan ekspor dan usaha kelompok.
Pertama, kegiatan produksi untuk tujuan ekspor didukung pembudidaya sebagai plasma.
Kedua, jenis usaha yang dilakukan kelompok atau individu jangkauan pemasarannya masih terbatas.
Beberapa keunggulan usaha jamur tiram adalah mudah dibudidayakan petani, masa panen yang cepat, dan harga jual yang stabil.
“Dari tahun ke tahun produksi dapat meningkat selaras dengan peningkatan konsumen jamur. Oleh karena itu sudah waktunya komoditi jamur ini dapat diangkat untuk menjadi komoditas unggulan di Banten,” kata Eneng menjelaskan.
Kepala seksi Produksi Sayuran dan Tanaman Hias Distanak Banten Dadang Jatnika mengatakan saat ini petani di Provinsi Banten masih sangat tergantung pada pengadaan benih dan bibit jamur dari daerah lain atau bantuan pemerintah.
Untuk itu diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan petani dalam membuat bibit jamur yang berkualitas dan relatif murah bagi keberlanjutan proses usaha tani.
“Artinya, tidak bergantung pada bibit ekspor dari daerah lain atau bantuan pemerintah,” katanya.
Fasilitasi pengembangan budidaya jamur tiram juga dimaksudkan untuk memenuhi permintaan petani terhadap penerapan dalam usaha pembibitan jamur tiram berkualitas.
Dia mengatakan keberhasilan sebuah proses produksi bidang pertanian tidak optimal apabila terjadi kelangkaan bibit atau kualitas yang rendah. Agar kebutuhan bibit jamur di setiap daerah terpenuhi, setiap rumah produksi budidaya jamur harus mulai membuat bibit secara mandiri.
“Melalui fasilitasi ini, mereka terdorong untuk membuat bibit berkualitas,” katanya.
Produksi berbagai jenis jamur di Banten pada 2010 mencapai 116.701 kuintal, meningkat pada 2011 menjadi 162.590 kuintal, dan melonjak pada 2012 menjadi 233.867 kuintal, namun pada 2013 mengalami penurunan drastis menjadi 94.127 kuintal.
Luas panen juga mengalami penurunan dari 15.079 hektare pada 2010, turun pada 2011 menjadi 10.961 hektare, kembali turun pada 2012 menjadi 8.235 hektare dan pada 2013 hanya dapat panen seluas 5.720 hektare. (ant/kt)
Sport2 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta
Sport2 minggu agoHasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta
Nasional2 minggu agoGrand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik
Sport2 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda
Sport2 minggu agoKlasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak
Sport2 minggu agoJadwal BRI Super League 2026-2027 Pekan ke-5, 16-18 Oktober
Sport1 minggu agoDramatis! Persita Tangerang Hajar Persija Jakarta 3-2
Jabodetabek4 hari agoWakil Ketua Umum ISNU Fadli Yasir Sambut Baik Konser Andrea Bocelli di Indonesia

































