Jakarta – Capres Jokowi beberapa waktu belakangan tampil ofensif menyerang lawan politiknya. Langkah Jokowi dinilai tak tepat.
Strategi ofensif ini diakui sendiri oleh Jokowi. Eks Gubernur DKI itu mengatakan serangan yang dia lakukan sebagai bentuk ofensif terhadap isu yang dialamatkan ke dirinya. Dia mengatakan tak mau hanya berdiam saja.
“Ya kampanye kan perlu ofensif, masa kita 4 tahun suruh diam saja. Ya nggaklah. Jadi 4 tahun diam, masa suruh neruskan,” kata Jokowi di kediaman Akbar Tandjung, Jl Purnawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/2) lalu.
Namun strategi ofensif Jokowi dinilai tak tepat. Citra diri Jokowi tak sesuai dengan strategi ofensif.
“Sebenarnya sebagai petahana dengan peluang menang lebih tinggi dari penantangnya, Jokowi tidak perlu ikut sibuk menyerang balik Prabowo. Watak khas dan gaya Jokowi selama ini yang tercitrakan sebagai tokoh yang baik, sabar, fokus bekerja sudah melekat di masyarakat. Tentu menolak fitnah dan melawan hoaks diperlukan namun sesungguhnya tidak urgent keluar dari Jokowi sendiri, mungkin sesekali saja,” kata Direktur Eksekutif Konsep Indonesia (Konsepindo) Research and Consulting, Veri Muhlis, kepada wartawan, Jumat (8/2/2019).
Veri menggarisbawahi isu ‘propaganda Rusia’ yang dilempar Jokowi. Menurutnya isu itu kontraproduktif.
“Soal istilah propaganda Rusia yang jadi polemik memang sebaiknya tidak menyebut nama negara, bagaimanapun akan ada yang terkait. Sebut langsung saja istilah “Firehose of Falsehood”. Istilah itu memang menjelaskan suatu teknik propaganda di mana kebohongan-kebohongan disemburkan guna membangun suasana mencekam sehingga diperlukan seorang pemimpin kuat,” ulasnya.
Lebih jauh soal pemilih, Veri menganggap wajar hasil survei sejumlah lembaga yang merekam stagnansi elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres. Dia meyakini pendukung kedua kubu sudah solid, sementara swing voters menunggu di penghujung Pilpres 2019 untuk menentukan pilihan.
“Bagaimanapun pertarungan ulang pilpres ini telah menunjukan pemilih Jokowi bertahan dengan kecenderungan bertambah dibanding raihan 2014 lalu. Sementara pemilih Prabowo di tahun 2014 terpecah, sebagian besar masih memilihnya namun ada kecenderungan untuk beralih ke Jokowi jika dilihat dari keputusan menunda pilihan yang terekam dalam survei,” pungkasnya.
Sport2 minggu ago38 Peserta League Cup 2026/27
Sport2 minggu agoHasil Drawing League Cup 2026/2027
Sport1 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta
Sport1 minggu agoHasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta
Sport1 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda
Sport1 minggu agoKlasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak
Sport2 minggu agoLeague Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final
Nasional6 hari agoGrand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik










