Connect with us

Refleksi

Kerja Ikhlas

Oleh: H. Veri Muhlis Arifuzzaman, M.Si *

“Hidup yang dipandang sebatas mencari kebahagiaan duniawi serta dijalani tanpa keikhlasan ibarat boneka tanpa ruh, atau gambar tanpa makna. Keberadaannya akan diperbudak oleh hasrat yang terus membara”

 Drama  kehidupan  menyuguhkan  cerita  yang silih  berganti.  Semua  berjalan  dinamis.  Ada malam  ada  siang,  ada  suka  ada  duka,  kadang bahagia  kadang  menderita,  kadang  dipuji  kadang dicaci.   Dunia   tempat   kita   berada   seperti   telah ditetapkan  untuk  terus  berubah.  Betapa  pun  kita mencoba  bertahan  dalam  satu  keadaan.  Jabatan yang  kita  duduki  suatu  waktu  menanjak  suatu waktu menurun. Harta yang kita dapati di satu kala bertambah  di  kala  lain  berkurang.  Tak  ada  yang tetap kecuali perubahan.

Jika seluruh energi kita hanya digunakan untuk memikirkan dunia, tentu kita akan letih merintih. Perubahan tidak bisa disikapi dengan berdiri di atas hasrat yang tak terbatas. Kita ingin harta kita terus bertambah, karir menanjak, selalu bahagia dan dipuji dalam setiap keadaan. Tetapi hukum hidup bertolak belakang dengan hasrat kita. Orang yang paling sukses di dunia pun akan merasakan kenyataan ini, bahwa mengejar dunia memang melelahkan.

Advertisement

Sifat dunia bergerak dalam lingkaran fana. Sesuatu yang fana tidak akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan hakiki. Kebahagiaannya juga fana, semu dan bersifat sementara. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ketika hasrat duniawi terealisasi maka kita akan bahagia. Namun kebahagiaan itu akan segera sirna seiring dinamika hidup yang kita hadapi. Lalu kapan kita bisa hidup bahagia selamanya? Dapatkah kita tetap merasa bahagia kala hasrat gagal kita wujudkan? Di sinilah kita dituntut untuk bekerja ikhlas.

Kerja ikhlas adalah kerja yang tulus, kerja yang tidak menyertakan kepentingan pribadi (imbalan duniawi) semata. Ia bekerja karena memang harus bekerja, bukan untuk mendapat pujian, kekayaan atau imbalan duniawi lainnya. Kebenaranlah yang mengharuskannya bekerja. Kebenaran di sini lahir dari sumber kebenaran, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dalam artian, orang yang bekerja ikhlas mengabdikan pekerjaannya untuk dan demi kebenaran. Semua pengorbanan, baik waktu, tenaga maupun pikiran ditujukan untuk meraih ridla Tuhan.

Orang yang bekerja ikhlas tidak lagi melihat peranan diri dalam pekerjaannya. Sebab, sikap semacam ini berpotensi melahirkan sikap sombong atau pamer (membanggakan diri). Ia senantiasa sadar bahwa apa yang dilakukan tidak mungkin mencapai hasil maksimal tanpa peranan Tuhan. Segenap daya dan upaya teraktualisasi berkat kekuasaan Tuhan, Pemilik seluruh alam semesta.

Walaupun ia bekerja karena ingin menghidupi keluarga, ingin membantu orang lain dengan kekayaannya, tetapi tujuan terakhirnya adalah meraih ridla Tuhan. Ia selalu melihat aspek esoteris (aspek dalam/spiritual) setiap pekerjaan. Sedangkan aspek eksoteris (aspek luar/material) ia pahami hanya sebagai medium untuk memperoleh ridla-Nya. Dunia bukan tujuan utama pencariannya, sehingga ia tak pernah terbelenggu oleh urusan duniawi.

Advertisement

Orang yang bekerja ikhlas tidak risau dengan kegagalan dan tidak pula mem-bangga-kan diri dengan keberhasilan. Ketika gagal ia masih bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk mencoba dan belajar. Ia mengambil hikmah dari setiap kegagalan agar suatu saat tidak terulang kembali. Begitu juga ketika berhasil. Rasa syukur terus terpancar sembari berharap Tuhan berkenan menerima amal perbuatannya.

Bagi orang yang bekerja dengan ikhlas, pekerjaan tidak dinilai dari seberapa banyak menghasilkan uang melainkan sejauhmana ia berarti di hadapan Tuhan. Apa pun pekerjaannya, sebesar apa pun penghasilannya sama sekali hampa makna jika jauh dari kehendak Tuhan. Bekerja membahagiakan keluarga, meringankan beban orang lain, menciptakan ketenteraman lingkungan sekitar merupakan pekerjaan yang dikendaki Tuhan.

Pekerjaan demikian memancarkan kebahagian tersendiri yang cukup dalam. Hati kita akan tenang, hening, dan merasa puas meski tanpa imbalan. Vibrasi kebahagiaannya jauh lebih terasa ketimbang bekerja mengutamakan kepentingan pribadi. Bahkan kita seolah mendapatkan energi baru dalam hidup sehingga terhindar rasa stress, frustasi, depresi atau disorientasi hidup.

Kepuasan batin yang kita peroleh dari kerja ikhlas akan menyelamatkan kita dari gejala negativitas seperti amarah yang berujung anarkhis, buruk sangka (sû’u al-zhann), dengki atau iri yang memicu tindakan kriminal. Hal ini sebagiamana ditegaskan dalam al-Qur’an ketika Syaitan berkata pada Tuhan, “Ya Tuhanku, akan kujadikan (kejahatan) tampak indah bagi mereka di bumi dan akan kusesatkan mereka semua. Kecuali para hamba-Mu yang ikhlas,” (QS. 15: 39-40).

Advertisement

Pakar psikologi positif Amerika, Martin Sligman, melakukan riset tentang kebahagiaan. Dia membedakan beberapa jenis kebahagiaan, antara lain: kebahagiaan yang diperoleh dari pengejaran terhadap kesenangan dan kebahagiaan yang didapat dari faktor yang lebih abstrak. Hasilnya, pengejaran kesenangan tidak menyumbang banyak terhadap kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, terlibat dalam kegiatan yang berarti bagi hidup justru sangat berkontribusi terhadap kebahagiaan.

Sligman mengatakan, “Saya menemukan sesuatu yang mengejutkan bahwa pengejaran kesenangan tampaknya tidak banyak berkontribusi bagi kepuasan hidup. Namun, keterlibatan dalam kegiatan hidup dan menemukan arti dalam hidup sangat banyak menyumbang bagi tercapainya kepuasaan”. Dalam psikologi positif, kepuasan menjadi salah satu indikator utama kebahagiaan.

Dari pernyataan tersebut tampak jelas bahwa kesenangan jangka pendek tidak membawa kebahagiaan hakiki. Sligman telah melakukan uji kepribadian yang dirancang untuk menemukan jenis karakter orang-orang tertentu, sehingga dapat mengetahui bagaimana cara mereka memperbaiki tingkat kebahagiaan. Ia kemudian memberi rekomendasi sederhana, yaitu dekatlah dengan Tuhan.

Dalam laporan penelitiannya Sligman menyatakan, “Yang kami temukan secara empiris adalah orang-orang religius lebih optimis dan tidak tertekan dibanding mereka yang tidak religius”. Secara teologis, pernyataan ini sangat dibenarkan. Sebab, orang religius tidak menyandarkan hidupnya pada sesuatu yang fana. Ia mendasarkan hidupnya pada sesuatu yang abadi, yaitu Tuhan. Akibatnya, kebahagiaan yang didapat ialah kebahagiaan yang hakiki. Ia melihat sesuatu yang sejati di balik penampakan materi sehingga tetap optimis dan tidak merasa tertekan.

Advertisement

Kekayaan yang berlimpah, kesehatan yang terjamin, pendidikan yang tinggi, istri yang cantik, jabatan strategis dan sebagainya tidak lantas membuat hidup kita bahagia. Kebahagiaan hidup tergantung pada bagaimana kita memaknai dan menjalaninya. Hidup yang dipandang sebatas mencari kebahagiaan duniawi serta dijalani tanpa keikhlasan ibarat boneka tanpa ruh, atau gambar tanpa makna. Keberadaannya hanya diperbudak oleh hasrat yang terus membara.

Hidup dengan cara demikian cenderung frustasi saat menghadapi kegagalan. Bahkan terkadang mengutuk diri seraya mencari kambing hitam sebagai pelampiasan. Namun ketika meraih keberhasilan, kebanggaan diri menjelma menjadi sikap sombong dan angkuh seolah tak ada manusia lain di dunia. Padahal, kesombongan merupakan wujud paling nyata kelemahan manusia. Sebab, ia tidak melihat ada peran the other di balik keberhasilannya. Dan, itu mustahil terjadi.

veri muhlis arifuzzaman daar el qolam*H. Veri Muhlis Arifuzzaman, S.Ag., M.Si. adalah Ketua Perhimpunan Menata Tangsel, Dosen Metodologi Hukum Islam di Sekolah Tinggi Perencanaan Keuangan Syariah (IARFC) Jakarta, Alumni  Pondok Pesantren Daar El–Qolam

Twitter: @verimuhlis

Website: verimuhlis.com, verimuhlisarifuzzaman.com

Advertisement
Sport4 hari ago

League Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final

Sport4 hari ago

Pembagian Grup League Cup I.League 2026/2027

Sport4 hari ago

Hasil Drawing League Cup 2026/2027

Sport4 hari ago

38 Peserta League Cup 2026/27

Nasional5 hari ago

Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Rakabuming Raka, Gugatan Tak Diterima

Logo HUT ke-18 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Tahun 2026
Pemerintahan5 hari ago

Karya Syifa Nabilah Azhari Jadi Pemenang Sayembara Logo HUT ke-18 Tangsel

Sport6 hari ago

Ranking FIFA Timnas Indonesia Terbaru Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport6 hari ago

FIFA ASEAN Cup 2026 Final Indonesia vs Thailand: Indonesia Juara, Menang Adu Penalti 4-2

Sport6 hari ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Garuda Menang 4-2

Sport6 hari ago

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Sport6 hari ago

Hasil Indonesia vs Thailand Berakhir Adu Penalti, Skor 2-2 hingga Extra Time

Pemerintahan6 hari ago

Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspadai Influenza A, Kenali Gejala dan Cegah Penularan

Pemerintahan6 hari ago

Sampah Plastik Ditukar Bibit Tanaman, DLH Tangsel Dorong Kebiasaan Pilah Sampah

Pemerintahan7 hari ago

Benyamin Davnie Sambangi CFD BSD, Warga Berolahraga hingga Berburu Kuliner UMKM

Tangerang Selatan1 minggu ago

Raker Karang Taruna Tangsel, Pilar Saga Ichsan: Program Harus Tepat Sasaran

Pemerintahan1 minggu ago

Program Bantuan Jaminan Sosial BAZNAS Diluncurkan, Pilar Saga Ichsan Dorong Perlindungan Pekerja Rentan Tangsel Menuju Kemandirian Ekonomi

Nasional1 minggu ago

Mutasi Polri 2 Oktober 2026: 88 Pati dan Pamen, Sejumlah PJU Mabes dan Kapolda Berganti

Nasional1 minggu ago

Kapolri Suyudi Ario Seto Mutasi 88 Pati dan Pamen Polri, 19 Kapolda Diganti Termasuk Kapolda Banten

Nasional1 minggu ago

Prabowo Lantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Bakom RI

Nasional1 minggu ago

Presiden Prabowo Subianto Angkat 26 Anggota Wantimpres, Ini Profil Lengkapnya

Nasional1 minggu ago

Siapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya

Sport2 minggu ago

Jadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final

Nasional2 minggu ago

G30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia

Banten3 minggu ago

STAI Syekh Manshur Gelar Bedah Buku “Manajemen Cinta Sebagai Hidden Kurikulum di Madrasah” dan “Ekosistem Mutu Pendidikan Islam Paradigma Baru Menuju Pendidikan Islam Berdampak”

Sport2 minggu ago

Jadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Sport1 minggu ago

Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Baking Center Latih Puluhan UKM

Sport1 minggu ago

Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Hajar Bangladesh 9-2

Bisnis2 minggu ago

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi

Sport2 minggu ago

Jadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober

Bisnis2 minggu ago

Bogasari Gelar Edukasi Cegah Stunting

Bisnis2 minggu ago

Bank IBK Indonesia Gelar Aksi Konservasi Tanam Mangrove

Bisnis2 minggu ago

Otomatisasi Klaim Asuransi dengan AI untuk Mendorong Layanan Lebih Cepat dan Efisien

Bisnis3 minggu ago

Transformasi Digital Perseroda PITS, SIPITS Mobile Raih Radar Banten Award 2026

Bisnis2 minggu ago

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Perlu Diperkuat

Bisnis2 minggu ago

Payfazz Luncurkan EDC Mini

Nasional1 minggu ago

Profil dan Biografi Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Kapolri Pilihan Prabowo

Nasional2 minggu ago

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031: Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum Gus Kikin, Sekjen Gudfan Arif

Nasional1 minggu ago

Pernyataan Lengkap Suyudi Ario Seto Usai Disetujui DPR RI untuk Jadi Kapolri

Sport2 minggu ago

Daftar Sanksi Komdis PSSI Kompetisi BRI Super League dan Pegadaian Championship 2026/27, Hasil Sidang 8–16 September

Populer