Usai digelar di wilayah Jawa Timur (Jatim), tepatnya di Kota Surabaya, di Aula Gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, pada Rabu (7/12/2016) silam, kini kegiatan halaqoh syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta para ulama pondok pesantren dan Rais Syuriah Pengurus Cabang NU kembali digelar di wilayah Banten. Halaqoh Kiai, Pengasuh Pondok Pesantren dan Pengurus NU se-Banten ini dijadwalkan berlangsung Rabu (8/2/2017) yang digelar Pondok Pesantren An-Nawawi, Tanara, Kabupaten Serang.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian silahturahim Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar untuk memperkuat hubungan antara PBNU, ulama kultur, para kiai pengasuh pondok pesantren dan para pengurus NU di daerah. Demikian dikemukakan Uday Mashudi Abdurrahman, Koordinator Pelaksana kegiatan, Selasa (7/2/2017).
Rais Aam PBNU, kata Uday-demikian ia akrab disapa, kembali akan memberikan wejangan terkait situasi dan kondisi nasional terkini. Terlebih beberapa waktu lalu, eskalasi politik nasional, menurutnya kian memanas. Selain gambaran situasi nasional, lanjut dia, Wakil Rais Aam akan memberi arahan tentang peran penguatan ulama yang ada di struktur NU di daerah, termasuk konsolidasi para kiai pengasuh pondok pesantren.
“Biar bagaimanapun, pesantren adalah kekuatan NU. Dengan halaqoh ini diharapkan antara pengurus NU dan para kyai kultur menemukan formulasi baru komunikasi dan konsolidasi,” ujarnya.
Dijelaskan Uday, kegiatan halaqoh ini diharapkan mampu mencari titik temu perbedaan yang ada, sehingga diupayakan mencari titik temu dan solusi dari pelbagai perbedaan pandangan, dan semaksimal mungkin menemukan persamaan.
“Sehingga dengan demikian, dapat dihindari sikap saling permusuhan, pertentangan, serta perpecahan. Berulangkali Rais Aam PBNU menyampaikan bahwasanya pengurus NU adalah supir NU, sedangkan pemiliknya adalah para ulama,” ucapnya.
Oleh karena itu, para ulama dan juga pengasuh pondok pesantren menurut Rais Aam diharapkan selalu memberikan arahan agar para pengurus NU tetap berjalan pada jalur khittah, yakni penegasan kembali tentang tanggungjawab keagamaan dan tanggungjawab kebangsaan, Uday menambahkan.
“Jadi hal-hal krusial dan mendesak untuk segera ditangani oleh para ulama dan pengasuh pondok pesantren melalui permusyawaratan ulama,” tegasnya. (sm/fid)
Serba-Serbi6 hari agoLink Download Logo Resmi Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026
Serba-Serbi5 hari agoTeks Sumpah Pemuda
Pemerintahan6 hari agoPemkot Tangsel Perkuat Pencegahan TPPO bagi Calon Pekerja Migran
Serba-Serbi6 hari agoLogo Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026: Tema, Makna Simbolik, dan Filosofi
Nasional6 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Dorong Penguatan Pendampingan UMKM Cilacap
Nasional5 hari agoHery Haryanto Azumi Apresiasi Konser Andrea Bocelli, Serukan Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia
Nasional6 hari agoSerap Aspirasi Nelayan Cilacap, Wapres Gibran Rakabuming Raka Pastikan Kendala Lapangan Segera Dituntaskan
Pemerintahan6 hari agoPilar Saga Ichsan Dorong Siswa Aktif Peduli Lingkungan













