Citizen Journalism
Miskinnya Kreatifitas

Oleh: @Aldrinramadian *
Hampir setiap hari saya membaca berita di berbagai media, termasuk media online, baik media lokal maupun nasional. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, media online sepertinya lebih menguntungkan. Saya akui, media online sangat memudahkan pembaca seperti saya untuk mengakses berita-berita terbaru yang sedang berkembang. Ditambah, media online sekarang sudah menyediakan tampilan mobile. Hanya dengan menggunakan handphone atau smartphone yang terkoneksi internet, berita pun sudah bisa dibaca dalam genggaman. Terlebih masyarakat Indonesia rata rata memiliki lebih dari dua handphone. satu untuk murni menelepon, satu untuk main internetan.
Untuk memuaskan rasa kangen terhadap tanah air, hampir setiap hari saya mengakses media media secara online, awalnya saya tidak terlalu memperhatikan komentar-komentar yang muncul dalam berita media online tersebut, namun setelah saya perhatikan, kok komentar-komentar yang muncul lebih banyak terkesan nyinyir bersifat iri dan dengki. Apalagi komentar-komentar pembaca yang menanggapi berita suatu kasus tertentu, komentar pembacanya tidak nyambung dengan konten beritanya. muncul pertanyaan dalam hati (apakah yang memberi komentar mewakili karakter masyarakat Indonesia) ?
Apalagi sekarang media-media online sedang marak memberitakan kasus-kasus yang terjadi di negara ini. Mulai kasus korupsi, dinamika persaingan partai menjelang tahun politik, ataupun pencitraan seseorang. NAMUN jika dicermati, isi berita hampir sama persis antara satu media dengan media lainnya. Seolah yang menulis berita-berita tersebut hanyalah satu orang saja. Hampir semua media memberitakan hal yang sama, kalaupun berbeda paling beda satu atau dua kalimat.
Masa sih tidak ada lagi pandangan pandangan pro-kontra yang memancing rasa ingin tahu dan membuat pembaca bisa menjadi lebih pintar. apakah sekarang media hanya mengejar setoran? apakah mungkin media sekarang sudah miskin pandangan? Padahal kalau dilihat dari tayangan televisi, banyak sekali wartawan yang berkeliaran, berkerumun mencari berita.
Atau jika boleh saya berandai-andai saat ini media sudah menjadi ladang bisnis?. Dengan nominal bayaran tertentu, maka berita akan menyebar di berbagai media dan siap menguliti habis sesuai dengan yang diinginkan pemesan berita? ditambah dengan komentar-komentar tendensius untuk menguatkan berita, sehingga beritanya seolah-olah menarik dan interaktif? atau malah mengomentari berita tersebut adalah si pembuat berita itu?
Apakah hal ini juga menggambarkan karakter masyarakat Indonesia yang terbentuk dari sejak kecil ? hal ini mengingatkan ketika saya sekolah dulu, kalau ada yang lebih pintar atau berbeda dengan kita, pasti ada saja yang memberikan komentar iri dengki dan lainnya. Misalnya, ”HUH baru segitu aja udah sombong”, atau “Awas loh kalo berani maju duluan !!”. Bukannya memberikan dukungan untuk lebih prestasi, tetapi sebaliknya malah menjatuhkan atau menakut-nakuti. sehingga mungkin ini yang membuat banyak rakyat indonesia minder dan takut salah, tidak mau berkembang. Malahan mencaci orang yang lebih dari dirinya tersebut. bisa dibilang inilah MISKIN HATI ! apakah ini cerminan dari mental bangsa Indonesia?
*Aldrin Ramadian (Pengamat, Peneliti, Pengajar, Geologist yang punya hobi motret)
Banten1 minggu agoHasil Dewa United vs Brisbane Roar 4-0, Rafael Struick Cetak Gol ke Gawang Mantan Klub
Nasional2 minggu agoWapres Gibran Rakabuming Raka Tinjau Sejumlah Fasilitas Terdampak Gempa di Sikka NTT
Pemerintahan2 minggu agoBenyamin Davnie: Pelayanan Publik Tangsel Harus Makin Mudah dan Cepat Lewat Teknologi
Sport4 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Pekan Perdana 4-6 September 2026
Nasional4 hari ago5 Calon Ketum PBNU 2026-2031 yang Akan Dipilih Ahwa: Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin
Nasional4 hari agoProfil 5 Calon Ketua Umum PBNU 2026-2031 yang Akan Dipilih Ahwa: Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin
Nasional4 hari agoRais Aam PBNU: Pengertian, Tugas, Wewenang, dan Kedudukannya di NU
Nasional2 minggu agoKunjungi Pengungsi Gempa Sikka, Wapres Gibran Rakabuming Raka Sampaikan Empati dan Permohonan Maaf




































